oleh:Billy Praditya
Adanya budaya “amplop” dalam berumah tangga dirasa cukup memberatkan para keluarga khususnya dari kalangan menengah kebawah. Dalam event-event tertentu seperti pernikahan, khitanan, syukuran dan lain-lain, para keuarga yang mendapatkan undangan atau ucapan rasa syukur dengan sendirinya dalam “hukum sosial” yang ada diwajibkan “membayar” apa yang didapat, menurut status sosialnya, biasanya jumlah minimum yang harus dikeluarkan Rp. 20.000,00.
Pada kelurga di kampung-kampung kebanyakan tidak sedikit yang merasa diberatkan, akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dikerenakan untuk mempertahankan status sosialnya, walau sering kali bila mengalami kebuntuan dalam masalah ekonominya mereka harus mencari pinjaman dan rata-rata kebanyakan mereka harus mengembalikan beserta bunganya karenakan event-event itu diadakan mendadak atau tidak menentu.
Walau tidak ada aturan baku dalam masyarakat bahwa diharuskan “membayar” , akan tetapi terdapat pemahaman dalam masyarakat bila menerima wajib memberi, bila hal itu di langgar, seperti halnya pelaku krimnal yang mendapatkan hukuman di dalam kehidupan sosial bermasyarakat pun terdapat hukuman sendiri, di sini kelurga mau tidak mau tetap harus rela menerima resikonya. Kebanyakan resiko yang harus ditanggung antara lain jadi bahan gunjingan warga, tidak mendapatkan berita kedua kalinya (dari yang punya acara), status sosialnya menjadi rendah/tidak di akui, dan lain-lain. Hal itu di karenakan yang punya event atau acara mengharapkan dapat mengalami balik modal dan tidak mau menderita kerugian.
Tuesday, September 4, 2007
Budaya Amplop
Posted by anakmuda at 7:37 AM 0 comments
GARA – GARA
“Nis,Anis… sini loe!”, teriak Rara sambil melambai – lambaikan tangannya.
“Entar dong gue haus banget nih! Gue beli es dulu, kalian duluan aja deh, entar gue nyusul”, sahut Anis dengan lantang. Biasa kalau bicara ama Rara harus kerja keras biar mantap.
“Ya, dah yuk Si. Kita duluan aja keburu panas nih!”Ajak Rara.”Ya,ayo deh!”Sahut Desi.
Rara itu termasuk kategori orang yang item, jadi ya nasib kalau jadi orang item dia nggak tahan banget sama yang namanya panas, soalnya dia sadar kalau wanita item itu biasa nyerep panas. He…he…he.
“Ra, kok tumben ya, di sini sepi! Tanya Desi sambil memencet-mencet hp- nya.”Ya bagus kan, kalo sepi itu enak nggak rame!
“Jawab Rara.”Siapa bilang kalo sepi itu rame, yang ada ya, sepi itu nggak rame, tolol!!!” Lanjut Desi.
“Ah, yang penting you know what I mean, gitu!” Bela Rara. Emang Rara itu termasuk orang yang tergolong pinter tapi dia itu nggak sombong soal kepandaiannya.
“Rara…Desi…ada kabar bagus, pokoknya sip banget!”Terocos Anis dengan girang.
“Apaan sih, ada apaan kok seneng banget…pokoknya seneng.”Tambah Anis tanpa memberi jawaban.”Iya,nih ada apaan sih to the point aja deh,”desak Rara.”Iya,iya tau nggak gue tadi ketemu sang pangeran gue,dia tadi nyapa gue aduh senengnya”,jelas Anis
“Pasti yang kamu maksud itu Tomi kan”, tebak Rara.
“Iya dong emang siapa lagikalo bukan Tomi si Imut”,jawab Anis.
“Eh, Si gimana kabarnya Putra. Kamu dah PDKT ma do’I belom?”Tanya Anis”ya,inikan gue baru proses,makanya do’ain aja deh!”,terang Desi.So,pasti dong loe kan sobat gue pasti gue do’ain”,hibur Rara dengan sok perhatian.
Tiba-tiba hp Desi bergetar,oh ada telepon,telepon dari Putra.
“Eh,teman-teman entar dulu ya ,gue ada telepon!”,kata Desi yang kemudian mengangkatnya.
“Ra….loe dah punya gebetan belom?”,Tanya Anis
“Belom nih gue lagi males sama cowok nih!”,gerutu Rara.
Ternyata sudah biasa “cowok”sebagai tpik ulama dalam pembicaraan cewek.tak lama kemudian Desi menutup hp nya.
“Gimana sukses nggak?”, Tanya Rara.
“Sukses besar dia ngajak ketemuan sama gue!”,jelas Desi dengan riang.”Ah yang benar kapan Si?”,Tanya Anis kemudian.
“Besok malem minggu,karena gue lagi seneng gimana kalo besok sore kalian gue traktir.Oh,iya Pupu mana?”,Tanya Desi.
“Nggak tau paling di rumah,yuk kita cari,Si!”,ajak Anis
“Kamu mau ikut nggak Ra?”,Tanya Desi.
“Nggak deh,gue nunggu di sini aja!”,jelas Rara.
Kemusian Desi dan anis langsung pergi ke rumah Pupu.Rumah Pupu adalah rumah yang paling dekat dengan tongkrongan mereka.dan kalo nggak ada kerjaan pasti Rara langsung nyanyi.kali ini Rara nyanyi lagunya Flanella.
“Demi aku yang pernah ada di hatimu,pergi saja dengan kekasihmu yang baru…”,Rara langsung berhenti menyanyi ketika melihat Adin dan Oca lewat.
“Ih,dasar genit,cewek centhil”,ceplos Rara. Memang empat sahabat itu amat sangat benci ma Andi dan Oca karena mereka berdua suka sekali ganggu cowok-cowok yang disukai oleh empat sahabat itu.
“Siapa Ra,yang ganjen,pasti Andin ma Oca ya!”,tebak Pupu yang tiba-tiba berada di samping Rara.
“So,pasti siapa lagi kalau bukan si Andin ma Oca, dasar ratu ganjen !”,terang Rara.
“Oh,iya Pu besok kamu ke warung “cak Indro”ya gue mau traktir loe soalnya gue bahagia banget karena gue berhasil dapetin Putra”,ajak Desi.
“Beneran nih okey deh, pasti gue besok datang!”, jawab Pupu. Terdengar bunyi hp kali ini bukan punya Desi tapi punya Pupu.
“ Halo, o, iya sebentar ya yank aku kesana “, terdangar suara Pupu yang samar.
“ Dari siapa, Pu? “, Tanya Rara dengan curiga.
“ Oh, ini dari…mami, iya dari mami gue harus pulang ya, dah temen-temen “, jawab Pupu yang gelisah kemudian pergi.
“ Gue rasa ada yang disembunyikan dari kita nih! “, tebak Anis.
“ Gue juga gitu “, tambah Desi.
“Aduh kita harus positif thinking aja ngapa sih! “, bela Rara. Karena kurang asyik mereka memutuskan untuk pulang.
***
Sore ini Desi berjanji untuk mentraktir para sobatnya. Rara dan Anis udah ada di sana, kurang Pupu dia belom juga kelihatan. “Mana sih! Itu anak, dasar Pupu”. Gerutu Rara.
“ Iya nih, gue baru nelpon rumahnya “, kata Desi.
Kemudian Desi mencoba menghubungi nomor rumah Pupu.
“ Gimana Des “, Tanya Anis? Kata nyokapnya dia pergi ma Andi “, jelas Desi. “ Hus, jangan keras-keras untung gak ketahuan ma Rara “, perintah anis.
Mereka tau kalo Rara juga suka ma Andi,jadi mereka menyembunyikannya agar tidak ketahuan ama Rara.
“Ya,dah kita makan dulu aja, soalnya Pupu nggak bisa dating!”,ungkap Desi. Akhirnya mereka bertiga makan tanpa Pupu.
“Oh,ya besok kan ultahnya Pupu”,ingat anis.
“O…iya gue hamper aja lupa!”,Kata Rara.
“Iya nih malahan telah selesai makan,kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing.
Sampai di rumah Rara ingat sesuatu lalu dia menelepon Pupu. Rara bermaksud mengajak Pupu untuk beli buku besok siang dan akhirnya Pupu setuju.
***
“Aduh,dah jam 1(satu) nih, guekan janjian ma Pupu!”,terocos Rara yang kemudian mengambil jaketnya.kemudian Rara pergi ke rumah Pupu.
“Pupu…Pupu”, panggil Rara.
“Emang ada apa Ra?”,Tanya mami Pupu.
“Oh,nggak papa,ya dah tante saya permisi dulu !”,pamit Rara.
Rara kemudian pergi dengan sebel,dia lalu menceritakan semua itu pada Anis dan Desi.Mereka berdua berusaha untuk menghibur Pupu namun Rara tetap kesal pada Pupu.
“Ra,nantikan kita ada rencana buat ultah Pupu,kok kamu malah marah sih!”,desak Desi.
“Ah,persetan ma Pupu,dia dah bohong ma kita,gue tau kemarin itu yang nelepon bukan nyokapnya tapi Andi.Padahal kita pernah janji nggak akan kayak gini gara-gara cowok “, semprotan Rara kemudian pergi.Memang akhir-akhir ini Pupu agak beda,dia lebih mentingin Andi dari pada 3 sobatnya itu.Rara yang nggak suka ma sikap Pupu membuat yang bertujuan mau minta maaf.Pokoknya persahabatan mereka baru dilanda masalah.
***
Rara berbaring di kamarnya dengan resah. Dia tatap kalender tanggalannya, 10 Januari,hari ini adalah ultah sobatnya, Pupu.
Pupu,Desi dan Anis adalah sobatnya sejak kecil, namun kali ini tidak!!! Rara kesal banget ma Pupu, soalnya dia ma Pupu dah janjian mau beli buku bersama tetapi Pupu malah pergi berdua ma Andi. Padahal Pupu tau kalo Rara juga suka ma Andi.
“Dasar ganjen!”,teriak Rara. Dia teringat saat-saat indah bersama Pupu,Desi dan Anis ada di situ. Tapi Rara tetap kesal ma Pupu.
“Ra…Rara”,terdengar suar kak Sandra memanggil.
“Apaan sih!,Tanya Rara singkat .
“Ada telepon dari Pupu!”,jawab kak Sandra.
“Ngomong aja nggak ada”,printah Rara”,Gue lagi sebel!!.Tak lama kemudian kak Sandra masuk ke kamar Rara
“Eh,loe ada masalah apa sih,eh dasar anak kecil masih suka musuhan,emang apa yang loe biasa lakuin tanpa seorang Pupu.Loekan sebentar-sebentar Pupu,dikit-dikit Pupu!”, ceramahnya.
“Ah,diem loe gue nih baru kesal banget ma dia!”,jawab Rara.
“Ya,dah mendingan loe temenin gue ke took kaset,yuk”,ajak kak Sandra”,ayodong nggak usah bingug!”.
“Oke deh kak,gue ganti baju dulu”,jawab Rara.
Rara kemudian mengantar kak Sandra ke took kaset.
Setelah sampai kak Sandra langsung memilih kaset yang akan dibeli. Sambil menunggu kak Sandra Rara juga ikut-ikutan melihat-lihat kaset.Oh, ada kaset Ungu kesukaan Pupu. Sebenarnya dia berniat untuk membeli kaset itu.
“Ra…ayo pulang”,ajak kak Sandra.
Spontan tantang Rara mengambil kaset itu dia berencana membeli kaset itu untuk hadiah ulang tahun Pupu.
Buat Siapa,Ra”, Tanya kak Sandra.
“Ada titipan kok,kak!”,jawab Rara dengan senyuman manisnya.
Setelah sampai rumah dia sulap kaset itu menjadi sebuah kado yang cantik. Lalu dia langsung pergi ke rumah Pupu, ternyata di sana sudah ada Desi dan Anis.langsung Rara memegang tangan Pupu.
“Pu…maafin gue ya!”,bujuk Rara.
“Ah,nggak papa gue juga minta maaf ma loe,gue janji nggak akan ngulangin hal yang sama seperti ini lagi!”.
Kemudian Pupu dan Rara saling berpelukan.Melihat kejadian itu Desi dan Anis tersenyum lega karena akhirnya semua masalah yang dihadapi mereka akhirnya terselesaikan. Dan mereka sadar bahwa persahabatan itu indah!.
OLEH : RATIH.M.DEWI
Posted by anakmuda at 7:35 AM 0 comments
Bok
Sering kita melihat bangunan permanent. Ia mirip dengan bangku panjang, yang dibuat dari batu-batu yang disemen. Biasanya dibangun diatas saluran air atau yang sering kita sebut selokan. Mungkin bangunan itu adalah bok
Warga kampong membangun bok dengan biaya dari kas kampung. Bok berguna untuk menghindari adanya orang yang tercebur di selokan. Karena fungsi bok dibangun untuk memberi tanda adanya selokan.
Disamping itu ada juga yang menjadikan bok sebagai tanda batas wilayah, misalnya di kampung Juminahan. Dikarenakan Juminahan dibagi dua wilayah, yaitu Juminahan barat atau ledok Juminahan dan Juminahn timur. “Untuk itu dibangun bok di ujung gang masuk Juminahan barat, selain sebagai tanda adanya saluran air, juga dipakai sebagai tanda batas wilayah.” Kata Harno, warga Juminahan barat yang saya temui di sanggar watu Lunyu.
Sebenarnya fungsi bok pada dasarnya sama. Mungkin karena perkembangan jaman, di kampung sekitar jalan Sugeng Jeroni, ada yang digunakan untuk dibuat taman, didirikan warung, bahkan dibangun sebuah gardu.
Bok yang semula dibangun untuk memberi tanda adanya selokan, dijadikan tempat berkumpul warga kampong. Dari anak-anak hingga orang tua. Kata Edi, warga setempat.
Sampai aku sendiri merasa heran. Kenapa selalu saja ada orang yang nongkrong di bok. Apalagi yang di sekitarnya, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang bisa dijadikan tempat berteduh.
Dari pagi hingga malam terus saja berganti-ganti orang seperti sudah ada jadwal untuk mereka dalam menggunakan bok. Misalnya saja, di pagi hari digunakan warga untuk ngobrol sehabis sholat shubuh. Atau di pagi untuk istirahat orang yang sehabis olahraga. Setelah hari agak siang, terkadang ada pedagang sayur, buah, dan nasi bungkus menggunakan bok untuk menjual dagangannya. Kalau di siang hari biasanya hanya ada beberapa orang. Mereka yang tidak bekerja atau pengangguran. Ada juga yang istirahat karena kecapaian bekerja. Sore hari, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang tengah menggosip sembari menunggu anak-anaknya bermain di sekitar bok sedangkan dimalam hari adalah jamnya anak laki-laki, karena bagi kebanyakan laki-laki bok menjadi tempat yang nyaman untuk minum-minum, ngobrol, dan melihat para wanita yang melintas jalan.
Untuk itu mereka tidak sembarangan memilih tempat nongkrong. Mereka lebih memilih bok yang berada di pinggir jalan besar. Selain ramai, suasananya menyenangkan. Seperti kata Heru, “ha…bosen nek neng njero kampong terus suasanane meng ngono-ngono wae.” ( haa.. bosan kalau di dalam kampong, suasananya Cuma gitu-gitu aja ).
Tidak jarang pula, ada yang membawa wanita-wanita, untuk diajak nongkrong. Biasanya wanita-wanita nakal atau yang sering mereka sebut wanit “gondolan”. Untuk menemani mereka minum-minuman keras.
Hari semakin larut. Suasana tambah ramai dan seru. Diisi dengan humor-humor kampung para laki-laki untuk untuk menarik perhatian wanita-wanita itu.
Terkadang, karena sudah terlalu mabuk terjadi perkelahian diantara mereka sendiri. Bahkan terjadi tawuran dengan warga kampung yang lain, ataupun antar gank. Karena bok yang mereka tempati dijadikan sebagai wilayah kekuasaan. “Untuk itu mereka sering mengklaim orang yang lewat di jalan dikatakan orang lunak, sedangkan orang yang berada di belakang bok adalah orang dalam.” Ungkap Yoyon (nama samaran ). Warga setempat.
Lain halnya dengan Haki, warga setempat yang tidak suka nongkrong di bok. Dia lebih senang berada dirumah teman atau di masjidnya. Bukannya tidak suka dengan orang-orang tersebut, tetapi lebih dikarenakan tidak suka mabok dan main judi. Yang lebih parah lagi, jadi sungkan untk lewat di bok, sehingga harus melewati jalan lain untuk menghindari lewat bok.
Posted by anakmuda at 7:27 AM 0 comments
JAFF
Acara Film Scereening and discussion yang mesih dalam rangkaian Jogja-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL 2007, di Taman Budaya Yogyakarta (31/07/07), dari 09.00 AM-03.00PM ini, mendapatkan perhatian yang sangat besar sekali dari anak muda Jogja maupun luar Jogja, khususnya bagi kalangan filmmaker.
Film yang dipitar antara lain, “KITORANG PUNYA MAMA” menceritakan tentang kurangnya fasilitas kesehatan di NTT yang menyebapkan tingginya angka kematian dalam persalinan, “AIR MATA IBU” adalah kisah perjuangan aktifis perempuan di Papua dalam kesetaraan gender, “DREAMLAND” menceritakan perjuangan warga dalam menuntut hak atas tanah mereka yang dirusak oleh PT Indorayon yang pada saat itu diabaikan oleh pemerintah, “TRILOGI POLITIK” menggambarkan sosok Indonesia baik dari bahasa, suku, adat, budaya, dll,”BULAN SETENGAH SETENGAH DI ATAS ACEH” menceritakan masyarakat Aceh sesudah bencana tsunami yaitu, dalam masalah penyaluran bantuan dari pemerintah.
Setelah pemutaran film, kemudian acara dilanjutka dengan disssion dengan pembicara Lexi Rambadetta (Offstream), Dian Herdiany (Kampung Halaman), Emanuel Subangun (Film Critik), dan moderator Tonny Trimarsanto, dengan pokok bahasan “DIASPORA WITNESS CINEMA”.
(BP, TWP)
Posted by anakmuda at 7:21 AM 0 comments
Kaos dan Identitas
RUBLIK PEMUDA
Jika kita berbicara tentang kaos tentunya kita akan merujuk pada fashion (gaya, mode), mengalirnya fashion di pusat-pusat perbelanjaan memberikan pengaruh yang besar sekali dalam memacu kecepatan produksi dan konsumsi masyarakat. Seperti halnya kaos, bukan hanya gambarnya yang berfaritif, akan tetapi hingga pada model kaos yang juga semakin berfariasi. Bagi anak muda kebanyakan kaos merupakan fashion sehari-hari tentunya jika bandingkan dengan baju (kemeja). Disamping mereka merasa nyaman, kaos dapat juga memberikan kesan santai tetapi tetap gagah.
Bagi anak muda sendiri pemikiran tentang kaos tidak berhenti pada rasa nyaman dan kesan santai saja. Seperti halnya, Jawa, dibaca Jawak (23) dari komunitas sketbord gedung pusat yang kesehariannya lebih menyukai memakai kaos dari pada memakai baju (kemeja), dia mengatakan “walaupun kaos bukan satu-satunya ikon anak sketers, akan tetapi kita bisa menilai apakah dia anak sketers dari tampilan kaosnya.” Memang fashion anak sketers selain kaos, masih mempunyai faktor pendukung lainnya, seperti halnya celana lebar, musik, dan sepatu, akan tetapi semua itu hanya untuk memberikan nilai tambah dalam penumbuhan image anak sketers. Seperti kata Jawa, untuk mengidentifikasi kita bisa melihat dari kaosnya dengan memperhatikan disaign, kombinasi warna, dan mereknya. Adapun yang dimaksud adalah desaign simpel dalam arti tidak ramit, kombinasi warna tidak jauh dari warna hitam, hijau, coklat, biru, dan merah (dengan catatan tampil mecing) sedangkan merek, biasanya mereka memakai merek lokal, seperti 347, Hello sketbord, Oval Risert, dll.
Menurut Jawa, kaos diartikan sebagai identitas anak muda. Seperti pada teman-teman sketersnya, dengan menirukan fashion atau ikon sketers seperti Paul ro Driquez, Pjladd, dll. Dapat memberikan sugesti pada sketers untuk semakin menambah kempuan dalam trik berseluncur, dan masing-masing dari mereka mempunyai gaya sendiri-sendiri akan tetapi tetap tidak terlepas dari identitas anak sketers.
Dari keterangan Jawa, masyarakat khususnya anak muda memang dikondisikan untuk mengkonsumsi trend yang kemudian dijadikan sebagai identitas, dan biasanya mereka dapatkan dari teman-teman, video, majalah, dan situs internet. Pada anak skaters, kebanyakan dari mereka mendapatkannya dari majalah, seperti majalah Trend Sword, Lokal Happen, Skatboard mad, The Skatboard Directory, dsb.
Dari pernyataan diatas, penanaman image seperti yang dikatakan Jawa memang sengaja dibuat untuk dikonsumsi, dengan memakai ikon atau model sebagai media promosi maka, masyarakat dituntun untuk mengadopsi trend atau gaya yang ditawarkan melalui pencitraan. Dimas Baruna Putra (18) yang biasa dipanggil Dimas mengatakan bahwa ”untuk saat ini trend yang diadopsi oleh anak muda didapat dari pengruh luar”. Adanya internet, Televisi, dan media massa membawa pengaruh besar pada masyarakat untuk memilih trend seperti apa yang mereka anut.
Pencitraan yang sengaja dibangun melalui kaos pada dasarnya memang sengaja difungsikan sebagai media penyeragaman dan penumbuhan identitas, seperti halnya yang terjadi pada anak gank, kampanye pemilu, dll. Dengan menyeragamkan baik model kaos, design, atau warna kaos, mereka dapat merasakan adanya keterikatan satu sama lain yang menjadikan mereka merasa menjadi bagian dari komunitas serta, yang tidak kalah pentingnya adalah penanaman eksisitensi dari indifidu itu sendiri yang menyebabkan ia mendapat pengakuan dari masyarakat (diluar komunitas). Bagi mereka, status sosial bukanlah sesuatu masalah ketika mereka membawa identitas yang sama, dan dengan sendirinya dengan adanya penyeragaman maka, kesenjangan social melalui penampilan akan hilang karena semuam tampak sama.
Penulis: Tri, dan Billy
Posted by anakmuda at 7:11 AM 0 comments
MALL DAN POLITIK RUANG PUBLIK
Rubrik Kota
Oleh: Tri, Billy, dan Fajar
Mal jika dibandingkan dengan toko atau pasar tradisional lainnya, tentunya mall adalah pasar yang paling modern, dikarenakan mal mempunyai system perbelanjaan yang lebih mutakhir, secara terus menerus menyuguhkan pelanggan dengan rangkaian produk, pelayanan, suasana serta lingkukan yang selalu memanjakan. Dengan adanya ketentuan bebas keluar masuk mall, maka mall dapat juga diartikan sebagai “ruang publik”. Namun, jika ruang publik cenderung dibangun oleh representasi dan tindakan (action) yang tanpa adanya pemahaman akan fungsi dari ruang publik itu sendiri, maka akan cenderung menghasilkan budaya politik populer, yaitu budaya politik yang didalamnya ada ruang publik. F. Budi Hardiman (Rupblik Tanpa Ruang Publik, IRE PRESS, Agustus 2005) menuliskan, politik ruang publik selain bersifat iklusif, egaliter dan bebas tekan, ciri-ciri lainnya adalah pluralisme, multikulturalisme dan toleransi. Lantas bagaimanakah masyarakat menerjemahkaan mall dan politik ruang publik?
Menurut Arsita Iswardhani (21) seorang mahasiswi Komunikasi UGM, yang biasa dipanggil Sita “ mall adalah salah satu ruang public, alasan dibuatnya karena untuk menghadirkan suasana placing hiburan yang baru, disamping mereka bisa mendapat hiburan baru, mereka juga bisa berbelanja untuk memenuhi kebutuhan, bermain serta nongkrong. Menurut Nendra Setiawan (18 ), Mahasiswa Akakom, konsumernya mayoritas dari kalangan menengah keatas, dan menjadikan suatu image tersendiri. bagi kalangan kebawah, mall memiliki fungsi tersendiri yaitu sebatas dapat diakses dengan bebas, akan tetapi menurut Agus Nur Prabowo (30), aktifis Nirlaba, keberadaannya tetap tersekmentasikan. Hal ini diperkuat oleh dengan menceritakan pengalaman yang diperoleh dari salah satu kenalannya yang bernama Wawan. “belum lama ini, teman bule (orang luar negri) ku mengajak Wawan untuk nonton acara di Galeria mall, akan tetapi sesampainya di sana, Wawan yang pada dasarnya seorang anak jalanan itu merasa tidak nyaman, ia merasa minder (malu) ketika ia berada di Galeria mall “ kata Agus. Memang menurut Agus, mall bersifat umum, siapa saja bisa mengakses akan tetapi, mall bukanlah murni ruang public ia adalah semi ruang public.Pada dasarnya, masyarakat sangat membutuhkan adanya ruang publik, namun jika kita membandingkan ruang publik yang ada di Indonesia dengan yang ada di Cina, Korea selatan atau di negara berkembang lainnya, tentunya akan terlihat berbeda sekali misalnya, dari segi ketertipannya saja sangat disiplin dalam menaati peraturan.
“Memang harga jual produk di mall relative lebih tinggi dari pada harga jual produk di luaran mall, hal ini menurut Agus, yang dijual bukan produknya melainkan image serta citra dan yang lebih penting lagi pihak swasta lebih mengedepankan kepuasan pengunjung dalam arti pengunjung memang dimanjakan. Menurut Sita, berdirinya mall memang dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Dari segi bisnis, privatisasi ruang publik memang sengaja dibentuk oleh investor, disamping untuk menumbuhkan image sehingga menjadikannya sebuah pasar potensial yang orientasinya adalah keuntungan, tambah Tovic Dwi Raharjo (24), Pustakawan. Menurut Agus dan Tovic, disisi lain pemerintah diuntungkan melalui perijinan dan pajak, sedangkan pengguna atau konsumen sangat diuntungkan karena akses menjadi singkat, dan tentunya dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Bagi pemerintah yang memang bertanggung jawab atas ruang publik itu sendiri menurut Sita cukup dengan membuat peraturan saja, selebihnya tinggal menertibkan aturan-aturan yang sudah dibuatnya, jadi status pemerintah adalah suatu badan yang menjadi pusat kontrol mengenai pengadaan ruang publik.“Wong nak ra di batesi nggo aturan, mengko meng nuruti napsu wae” dalam bahasa Jawa yang artinya kalau tidak ada peraturan, nanti Cuma menuruti egonya saja kata Tovic. “Birocrat is not democrative” kata Sita, seharusnya system birokrasi pemerintah jangan hanya menguntungkan kaum pemodal saja.
Menurut Agus, dalam pengelolaannya, ruang publik seharusnya menjadi tanggung jawab dari pemerintah, namun pemerintah sepertinya dalam pengelolan ruang publik kurang serius untuk menanganinya, Lain lagi pendapat dengan Nendra, pemerintah dirasa tidak memperhatikan warganya. Hal ini dapat dilihat melalui bentuk ruang publiknya, antara yang dikelola pemerintahan sendiri dengan ruang publik yang diswastanisasikan atau ditangani pihak swasta.Walaupun menurut Sita, sebenarnya siapa yang mengelola itu bukanlah suatu masalah, akan tetapi peran pemerintah kemudian ada pada pengaturan untuk pengadaan ruang publik oleh swasta.
Posted by anakmuda at 7:07 AM 0 comments
Tuesday, July 10, 2007
Panggung Promosi
Kartu Perdana Jempol
Oleh: Billy Praditya
Panggung yang secara umum kita kenal adalah panggung pementasan/pertunjukan. Biasanya panggung tersebut berbentuk persegi, pada dasarnya fungsi panggung adalah sebagai alat bantu pertunjukan yang berupa ruang, dimana ruang tersebut yang nantinya digunakan sebagai tempat terjadinya aksi pertunjukan supaya menciptakan focus interest, akan tetapi saat ini perngertian panggung sudah jauh lebih berkembang, panggung yang sekarang tidak mempunyai batasan bentuk, waktu serta jarak. Jadi, pemakaian panggung secara modern adalah dengan berbaur serta bersama dengan audiennya
Melihat peningkatan pemakaian HP, tentunya bagi XL, Flexi, Simpati, Mentari, Fren, dan lainnya mengangap sebuah peluang. Dengan ketatnya persaingan, maka masing-masing tentunya berusaha semaxsimal mungkin untuk menarik konsumen dengan memasarkan keunggulan produknya. Seperti yang dilakukan XL Jempol belum lama ini, mengadakan program baru bagi pengguna kartu perdana Jempol yaitu berupa kejutan dengan memberikan bonus pulsa sebesar 40 ribu rupiah, bonus 25 SMS, SMS 45 rupiah, dan info lowongan kerja
Dalam mempublikasikan produknya Xl Jempol menggunakan 2 buah konsep yaitu yang pertama komunikasi yang dilihat sebagai kegiatan sosial yang dikenal secara konvensional, yaitu pihak yang menyampaikan suatu “hal”. Kegiatan ini berupa penyampaian tanda/signal dan pada dasarnya merupakan upaya untuk mengatasi jarak dan waktu. Kata kunci dalam konsep ini adalah penyampaian (transmision). Dalam konsep ini yang dilakukan adalah dengan memasang iklan di televisi.
Sedangkan yang kedua tidaklah bertumpu pada penyampaian yang mengatasi jarak dan waktu tetapi pada kebersamaan. Dengan begitu komunikasi bukan berarti menyampaikan pesan antara suatu pihak yang terpisah dari pihak lainnya, tetapi perwujudan dari kepercayaan bersama (representasion of shared beliefs). Pesannya adalah produk tersebut sebagai produk bersama dalam pemaknaan kehidupan bersama. Cara ini adalah publikasi, yaitu dengan mengumumkan program kejutan.
Walau sebenarnya pengetian antara periklanan dan publikasi tdaklah berbeda, akan tetapi dalam segi-segi tertentu dapat dibedakan (Bedjo Riyanto. Iklan Surat Kabar) yaitu periklanan merupakan kegiatan komunikasi yang komersial (membayar ruang media yang digunakan) sedangkan pubikasi non komersial (anggarannya bersifat tidak langsung dan kecil prosentasenya). Dari kedua cara ini sebenarnya mempunyai keuntungan sendiri-sendiri, keuntungan dari iklan Jempol yang ditanyangkan di televisi yaitu mempunyai daya jangkau yang luas, dan karena ditayangkan berulang kali maka secara psikis dapat membangkitkan kesadaran konsumen tentang adanya produk tersebut yang merupakan suatu kebutuhan bagi konsumen yang hanya dapat dipenuhi dan dipuaskan oleh produk yang ditawarkan.
Lain halnya dengan publikasi, dengan memakai cara publikasi maka pembangunan selera konsumen akan lebih tercipta kerena adanya pertemuan langsung. Belum lagi trik yang digunakan yaitu dengan melakukan kampanye di jalan menggunakan sepeda ontel (sepeda jawa) lengkap dengan busana jawa lengkap, dan ditamba lagi dari masing-masing sepeda yang sudah dihias hijau itu membawa bord (papan) yang bertuliskan JEMPOL, TUNGGU, KEJUTAN, DARI, dan KAMI selama 5 hari dan setelah hari keenam diganti dengan tulisan JEMPOL, BONUS PULSA RP.40.000,00, BONUS 25 SMS, SMS RP.45,00, INFO LOWONGAN KERJA. Sepeda dan busana disini difungsikan sebagai penarik perhatian dan penggalan kalimat berfungsi daya tarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, sedangkan pemberitaan akan adanya kejutan berfungsi sebagai pemancing emosi konsumen, adapun tanggapan langsung dari masyarakat antara lain “ooo...Jempol”, “mas kejutane opo...”,”bayare piro mas”, “jempol kesukaan ku”, ada juga yang melirik malu-malu, ketawa terbahak-bahak, tersenyum simpul, dan masih banyak lagi.
Jika kita lihat panggung yang dibuat XL Jampol maka itu adalah bukanlah panggung pertunjukan akan tetapi panggung ekonomis yaitu dimana tujuan dari panggung tersebut adalah memasarkan produk, secara politis mempengaruhi audien untuk membeli atau memakai produk yang ditawarkan.
Posted by anakmuda at 8:40 AM 0 comments
Kaum Muda Di Rentang Masa
Oleh: anton
Stigma yang ada terhadap kaum muda
Kaum muda sebagai generasi penerus tumbuhnya bangsa ini. Kaum muda, seolah-olah menjadi seorang pelari terakhir dalam kelompok estafet beregu. Selalu mendapat giliran untuk menyelesaikan putaran yang seolah-olah harus sampai di finish dengan hasil yang lebih baik.
Dari masa ke masa banyak kajian tentang kaum muda dalam menilai bagaiman posisi dan perkembangan yang terjadi pada mereka. Berikut beberapa pandangan para ilmuan dan sejarawan terhadap kaum muda:
Onghokham.(1985:111-112)
Golongan muda merupakan mereka yang berumur di bawah 30 tahun dan hanya memegang peranan penting pada saat-saat tertentu.
Saya Sasaki Shiraishi(2001:237-238)
Kaum muda identik dengan kelompok remaja, dimana didalamnya adalah kumpulan orang yang belum matang, cenderung bergerombol, kadang kala mengenakan seragam sekolah, tidak disiplin, gampang naik darah, liar, yang terutama tidak penting. Mereka didefinisikan mendua didalam keluarga dan masyarakat, mereka bisa saja pekerja paruh waktu, pengangguran, namun hampir tak ada yang jadi pegawai. Keberadaan mereka hilang dari waktu kewaktu, mampu melakukan tindakan kekerasan, namun jinak secaara politik,.
Ben Anderson (1988:22-29)
Pengertian pemuda ditentukan oleh masyarakat tradisional sebagai tahap tersendiri dalam garis busur kehidupan antara massa kanak anak dan dewasa, yang dianggap sebagai suatu jenjang yang mutlak. Masa ini sifatnya hanya sementara saja, hanya suatu tatacara untuk melintas dari suatu masa kanak-kanak ke dewasa, yang dianggap sebagai suatu jenjang yang mutlak perlu dalam kerangka busur kehidupan, menjelang pemunculannya kembali kedalam dunia seksual, hierarki, dan kebiasaan kebiasaan dari kehidupan orang dewasa.masa ini sering disebut sebagai masa ambang pintu, yang membuka kesempatan bagi seorang anak untuk menentukan masyarakat dengan cara mengundurkan diri, memusatkan pikiran, dan mempersiapkan diri untuk mengarungi hidup dimasa depan, dan mengemban dan mengemban identitas sebagai seorang dewasa.
Stikma-stikma yang bergulir untuk kaum muda hingga saat ini semoga tidak selamanya benar hingga kedepannya. Meski demikian pernyataan-pernyataan yang mencoba menerjemahkan mereka pada kenyataannya banyak yang dibenarkan. Sebagai salah satu golongan dimasyarakat yang jumlahnya banyak, mereka hampir tidak temasuk dalam kelas masyarakat. Kehadiran mereka ditengah masyarakat bisa dipertanyakan ulang apakah mereka ada, namun tidak ada? Atau jikamereka memang ada eksis, apakah peran mereka lebih marginal dari golongan tua, ataukah mereka memeliki peran yang berbeda?, apakah posisi mereka menunjukaan pilihan dari budaya yang terlepas, apakah peranan mereka juga merefleksikan keterasingan mereka pada dari masa kemasa? apakah ada cara-cara berbeda dan khusus yang dijalankan mereka dalam mengorganisir hidupnya?
Sekilas generasi sebelum 45
Pada masa ini pemuda menjadi ujung tombak pergerakan bangsa ini. meski negri ini belum terbentuk menjadi sebuah wadah dengan nama negara namun apa yang menjadi perjuangan mereka untuk membela pribumi dar pendjajahan telah dipertimbangkan serta diakui oleh kaum tua negri ini sendiri serta banyak kalangan di luar negri. Mereka adalah kaum cendekiawan muda yang sebelumnya telah banyak mengenyam pendidikan ilmu barat, ilmu penguasa kolonial pada waktu itu.Pergerakan organisasi pemuda yang pada waktu itu memiliki pengaruh besar politik adalah Perhimpunan Indonesia(PI)- februari 1925. organisasi tersebut merupakan pengembangan atas pemikiran dan idealisme perjuangan para perkumpulan yang telah berkembang ada pada 1908-(Indische Veeteninging). Dimana mereka yang mempelopori di daerah hinda belanda ini adalah gerakan mahasiswa STOVIA dan Sekolah Tinggi Teknik bandung – Trikoro Dharmo 1915.
Kemudian munculnya perkumpulan perkumpulan jong jong pemuda kedaerahan ini memberkan semangat perjuangan menjad semakin meluas meski pada waktu itu mereka belum adanya upaya konsolidasi diantara merek namun kemudian dengan di konsolidasikan oleh Perkumpulan pelajar Indonesia mereka menjadi melebur menjadi Organsasi besar yaitu Indonesia Muda (IM)-1930. Karena kecurigaan kolonaal akan mereka maka mereka menjadikan satu kedalam Suluh Pemuda Indonesia, dan Pergerakan Pemuda Revolusioner.
Mereka terbagi dalam dua golongan, mereka yang tergolong dalam pemuda pelajar dikategorikan sebagai cendekiawan, hal tersebut pada waktu itu lebih dicermati dari pendidikan mereka. Dan yang bukan termaksud di golongan pertama lebih berfungsi sebagai mereka yang angakat senjata. Dan mereka semua adalah pejuang.
1930, perkumpulan yang termasuk dalam kategori para cendekiawan muda atau pelajar ini terwadahkan mejadi tiga, diantaranya mereka yang tergabung dalam kelompok debat (debating club) yang cenderung teoritis-politis abstrak , tertutup, dan tabu politik praktis; keduamereka yang terwadahkan dalam partai dimana bergerak dalam politik praktis; sedang yang terakhir adalah mereka yang tergabung dalam kelompok kelompok belajar biasa yang mula tertarik dalam orientasi politis.
Hampir dari pergerakan pergerakan kaum muda terpelajar pada waktu itu dipengaruhi oleh faham sosalisme, khususnya marxisme., Dan beberapa dari mereka yang kemudian menjadi anutan dan juga menjadi elit politik adalah Soekarno, Syahrir, dan Muhammad Hatta.
Meski pada perkembangannya pelajaran sejarah di ekolah sekolah tingkat menengah golongan dari mereka ini lebih di kenal sebagai Anggakatan muda 45 atau sering disebut sebagai angkatan revolusioner dalam sejarah perjuangan negara ini. Dalam revolusi 45 yang menjadi pilar utama di dalamnya adalah mereka para pemuda. Dengan sikap yang cenderung diartikan sebagai anti “batas” mereka mampu menjadi motor mobilitas sosialnya. Keberhasilan mereka dalam membawa negara ini ke sebuah jembatan emas yaitu ‘merdeka’ .
Konsepsi revolusi di negri kita berbeda dari revolusi yang banyak terjadi di negara manapun. Dari sekian banyak perjuangan atas kemerdekaan oleh sebuah bangsa di sana kekuatan perlayanan dibedakan dari dan oleh lawan lawannya. Hal tersebut atas dasar budaya atau kelas sosial, kepartaian atau atas tujuan para pejuanganya. Namun disini, revolusi pemuda justru merepresentasiakan keumumman perjuangan itu sendiri. bukan bersifat membeda-bedakan atau mengutamakan kekuatan dan arus revolusi. Representasi tersebut mengartikan akan pemuda sebagai bagan dari keumuman itu sendiri, atau sebagai “kaum republiken” atau rakyat itu sendiri.
orde baru
Tumbangnya pemerintahan orde lama yang dipimpin Soekarno oleh golongan penentang konsep pemerntahan demokras terpimpin yang salah satunya ada kekuatan pemuda yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menjadi bagian penanda munculnya lahirnya ordebaru yang sarat dengan militerisme.
Dalam massa ini semua yang menjadi buah pemikiran refleksi kritis para pemuda atas kondisi politik masa itu dianggap sebagai pikiran yang merongrong negara. Kelompok kelompok pemuda yang revolusioner akan berurusan dengan aparat, dan dianggap kelompok sparatisme. Segala pemikiran yang berbau sosialis kritis akan di tuduh sebagai penyebar ajaran komunisme dan tidak bertuhan, maka harus dibunuh. Hilangnya suara mereka kaum muda ini menandakan awal kemunduran pemuda sendiri, karena rezim yang sangat kuat dimana militer menjadi backing mereka.
Peristwa MALARI (malapetaka Limabelas Januari) memperlihatkan kita pada bagaimana kekuatan dan dominasi militer begitu berkuasa atas situasi politik di negri ini, terutama terhadap aspirasi golongan muda. 15 Januari 1974, penolakan golongan mahasiswa terhadap dwifungsi ABRI pada waktu itu menjadi puncak ketegangan diantara keduanya, yang menyisakan cerita pilu sekaligus dramalogi kebengisan kekuatan bersenjata pemerintah saat menggilas para demonstran.
Setelah pemerintah Soeharto pada waktu itu mengeluarkan keputusan untuk pembekuan Dewan Mahasiswa 21 Januari 1978 dengan SK Kopkamtip. No. Skep.2/Kopkam/1978. Kabekuan aspirasi para pemuda semakin akut. Dengan slogan sapu bersih para aparat menyisir semua organisasi kaum muda untuk menghentikan gerakan mereka dan jika perlu menghabisinya.
Hingga pada kurun waktu 1980 -1990 wacana terhadap pemuda mulai berganti fokus. Saat itu banyak pembahasan tentang kaum muda mengenai gaya hidup mereka, yang hanya memperlihatkan hedonisme belaka. Dari mulai pacaran, kumpul kebo hingga pernikahan dini., maraknya pusat tongkrongananak muda kelas menengah hingga kelas atas seperti kaffe, mall, hingga diskotik., dan yang paling menguntungkan bagi dunia media massa adalah, kaum muda telah menjadi fokus pembahasan gaya hidup yang banyak diminati dikalangan mereka sendiri dan tentu saja juga meraup keuntungan uang banyak pula. Kaum muda telah menjadi konsumen terbesar dari barang abrang kebudayaan global dari produksi kapitalis. Medai telah menjadi alat politk ekonomi dalam rangka memperkuat konsumerisme kaummuda terhadap barang dan benda.
Runtuhnya orde baru
Tumbangnya rezim orde baru tentu masih menyisakan cerita yang masih hangat di benak kita. Bagamana semua masyarakat pada waktu itu -mungkin termasuk kita- telah tahu akan berbagai kebobrokan dari pemimpin yang menciptakan rezim selama 32 tahun ini. ketidak percayaan yang semakin kuat dimasyarakat semakin kuat untuk menuntuk pemimpin rezim ini untuk mengundurkan diri dari kursi kekuasaanya. Dan juga menuntuk mereformasi semua penyelenggara pemerintahan yang pada waktu itu berkuasa.
Gerakan pemuda di saat itu mulai bersemangat kembali, layaknya macan yang yang terbangun dari tidur yang panjang. Luapan emosional dan kemarahan untuk menuntut turunnya soeharto dan antek anteknya semakin tak terbendung. Demonstrasi di seluruh pelosok negri , dan banyak tragedi terjadi pada saat itu. Penculkan para aktifis serta penembakan demonstran datang setiap saat.
Banyak ormas masyarakat yang didalamnya mereka kaum muda menggabungkan diri ketubuh partai untuk ikut ambil bagian sebagai simpatisan. Hinga akhirnya pada 21 Mei 1998 kebangkitan rakyat negri ini memetik hasilnya. Bagaiman Soeharto dengan kekuatan militernya yang dirasa sangat kuat telah dipaksa mundur dari kursinya.
Eforia besar besaran yang terluap di hati rakyat negri tidak terperikan. Namun sekali lagi kekuatan orde baru masih sangat besar dalam setiap lini sistem negara ini. Emosi kegembiraan yang meluap-luap tadipun dengan mudah mereka politisasi sehingga berubah menjadi emosi kemarahan massa yang dilampiaskan kepada golongan masyarakat tionghoa serta terutama kelas menengah atas. Tindakan kriminal secara masalpun terjadi. Pemerkosaan dan penganiayaan kepada kelompok masyarakat tionghoa pun terulang, penjarahan ke pusat pertokoan-pertokoan dan perumahan elitpun terjadi. Fakta yang terlihat menjadi berbalik mengadili masyarakat.
Pergantan tiga kali presiaden dalam satu periode., satu daerah propinsi telah lepas dari ikatan kebnekaan dan satu persatu gugusan pulau negri ini terampas negara tetangga; hal ini menunjukan bagaimana negara ini dibuat kocar-kacir. Tokoh tokoh pemuda yang sepuluh tahun lalu ada di garda depan saat ini telah menjadi elit politik. Namun sekali lag mereka menjadi tidak segarang ketika memperjuangkan nasib rakyat pada waktu itu. Peran pemuda yang sepuluh tahun yang lalu telah bangkit, seolah olah kembali lagi tertidur.
Kita semua tahu era ini adalah era dimana negri ini telah di warisi sistem KKN yang hanya mementingkan golongan tertentu saja. Ironisnya warisan ini telah menjadi tanggungjawab kepada generasi selanjudnya.
Posted by anakmuda at 8:31 AM 0 comments
Gaya Hidup Modern Anak Muda
Oleh:Billy Praditya
“nggak gaul lu!”
Bagi anak muda tentunya ejekan seperti itu sudah sering kali terlontar dalam perbincangan disesamanya, walau kata gaul sudah bukan hal yang asing lagi bagi mereka, akan tetapi masing-masing dari mereka mempunyai anggapan yang berbeda-beda tentang penerjemahan gaul itu sendiri. Beberapa dari mereka menganggap diskotik, mall, kafe, dan tempat-tempat nongkrong merupakan tempat yang dapat merepresentasikan kegaulan mereka. Selain tempat gaul untuk kumpul, penampilan tetaplah menjadi modal utama. Dari segi penampilan, biasanya dari jenis atau model yang sedang ngetrend dikalangannya, tentunya semua itu didapat dari tempat-tempat yang cukup mewah, dan dengan harga yang tidak murah juga tentunya. Dengan memakai barang atau aksesoris (dari sendal, celana, t-shirt, hingga tindik) dengan harga yang berkisar 70.000-an keatas bagi meraka juga merupakan suatu penanda. Jika demikian, gaul adalah bentuk perilaku yang mengonsumsi gaya hidup populer.
Menurut Budi Susanto (penghibur-an) gaya hidup adalah sebentuk penampilan (representasi) luar yang menandai identitas tertentu dalam konteks hidup sosial budaya publik. Hal ini dapat kita lihat melalui gaya hidup anak punk dan anak gaul. Masing-masing dari kelompok ini mempunyai cara sendiri untuk menandai identitas mereka baik dari segi penampilan maupun tempat nongkrong.
Jadi, gaul yang merupakan sebuah gaya hidup ini, hanyalah suatu identitas yang terbentuk dari cara individunya dalam mengakses informasi yang tersosialisasikan, melalui informasi yang tersosialisasi inilah kemudian terbentuk sebuah budaya populer dikalangan masyarakat. Ragamnya anggapan gaul dikalangan anak muda disebabkan oleh setiap lapisan sosial mempunyai gaya hidup yang berbeda-beda. Dan dengan tampil modis bukan bertujuan memudahkan komunikasi saja akan tetapi dapat diartikan sebagai simbol identitas. Dimana hal tersebut juga menimbulkan pembatas identitas anatar kelompok.
Dari sini kita bisa bayangkan kenapa anak muda saat ini senang sekali jika disebut “anak gaul” dan mereka juga bersikeras mempertahankan predikat tersebut? Hal ini dikarenakan gaya hidup merupakan simbol prestise yang bisa juga bersifat modis untuk mendapatkan status sosial, gaya hidup gaul yang proses penyebarannya melalui komunikasi massa dan dapat menembus batas kelas-kelas sosal dimasyarakat dan meluber dari komunikasi massa ini melahirkan pola kehidupan yang demokratis, gaya hidup yang tidak lagi menjadi privelese bagi suatu kelompok dalam kelas-kelas sosial. Maka dari itulah dengan bergaya gaul mereka merasa berada pada status kelas sosial yang sama
Gengsi adalah penghormatan yang didapat melalui posisi seseorang dalam masyarakat yang menimbulkan respek/rasa hormat tanpa mengindahkan karakter orang yang menempati kelas sosial tersebut (Patrick Guinness, Harmony and Hierarchy in a Javanese Kampung). Kerena dengan gaya hidup metropolis yang berbau kemewahan inilah kita dapat “membeli status sosial” sebagai contoh seorang wetres akan memberikan pelayanan yang sama kepada setiap pengunjung walaupun ia seorang pejabat, akan tetapi bila pengunjung tersebut memberikan tips yang lebih atau besar, maka ia akan mendapatkan pelayanan yang lebih dari pada pelanggan yang biasa (yang tidak memberi tips) dari wetres tersebut tanpa memandang kedudukannya.
Politik Konsumerisme Dalam Pemasaran
Disamping ingin dianggap gaul, para anak muda menginginkan dirinya untuk tampil menarik didepan publik, hal ini terbangun dari para kapitalis yang menciptakan image-imageyang mengidentifikasi identitas kaum muda melalu media: majalah, televisi termasuk iklan, sinetron dan film yang secara halus menanamkan doktrin bagaimana seharusnya mereka menjadi kaum muda yang termasuk dalam hal perilaku dan gaya hidupnya. Lihat saja film, iklan, sinetron dan pada media masa yang kebanyakan diperankaqn oleh kaum muda untuk menegaskan eksistensi dirinya dimasyarakat. Dengan tampil menarik inilah mereka bisa menambah kepercayaan diri tentunya untuk mendapatkan semua itu dibutukan pengeluaran yang tidak sedikit. Dibawah ini adalah pengeluaran yang harus Dwi(19) keluarkan,
Kaos Radio Aktif Rp. 25.000,-
Celana panjang Embo Rp. 95.000,-
Jaket CL Klarisska Rp. 110.000,-
HP Nokia 6680 Rp.2.900.000,-
Sepatu Power Rp. 120.000,-
Dompet Rock Stuff Rp. 20.000,-
Kaos kaki Rp. 4.000,-
Celana dalam GT-man Rp. 10.000,-
Kaca mata Rp. 20.000,-
Total Rp.3.584.000,-
Dari total pengeluaran ini masih belum termasuk pengeluaran setiap bulan serta kebutuhan lainnya. Lalu berapa jumlah pengeluaran yang anda butuhkan untuk memperoleh penampilan terbaik anda dan pengeluaran setiap bulannya?
Dalam fenomena kepercayaan diri bagi anak muda ini, masing-masing dari mereka mempunyai gaya atau ciri yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh selera dari masing masing individu dalaqm menangkap ikon-ikon dan pencitraan dari media masa, media elektronik, atau melalui event-event yang secara halus mengajarkan cara berpenampilan.
Melalui model remaja yang sedang populer kemudian dijadikan ikon oleh industri sebagai representasi dari label anak muda tersebut yang kemudian diyakini sebagai sebuah style yang populer.
Turner ( )menyebutkan “tubuh sebagai sebuah proyek”, dengan kata lain tubuh sebagai perhatian gaya hidup, coba kita lihat kita lihat strategi pemasaran yang menggunakan SPG (sales promotion girl) yang mereka jalankan pada dasarnya adalah manipulasi gerak tubuh. Dalam kaitannya dengan politk konsumerisme bagai mana cara mempertontonkan diri agar mampu menampilkan citra produk yang dijualnya, Dengan kata lain hal ini untuk menjadi suatu budaya tontonan (a culture of spectacle), tidak terkeciali tubuh kita sendiri (Christina S.Handayani, penghibur-an).
Besarnya peluang bisnis dalam perwujudan konsep cantik dan tampan ini, maka banyak usaha yang bergerak guna menawarkan konsep tersebut seperti halnya salon. Belum penampilan, seperti pablik figur, model, penjaga toko, pramugari lagi banyaknya kesempatan/peluang kerja yang dinilai melalui, sales,dll.
Posted by anakmuda at 8:31 AM 0 comments
Ruang yang terkelaminkan
Oleh: Anton Subiyanto
Kunci utama membangun kekeluargaan di kampung adalah Srawung. Dalam istilah Indonesianya srawung sama dengan komunikasi. Srawung juga bisa dikategorikan sebagai aktivitas bersama.
Tempat yang biasa untuk srawung adalah tempat-tempat yang mengkondisikan orang orang bertemu dalam keseharian, misal; di warung, tempat biasa untuk mengasuh anak, layatan, atau pada peristiwa peristiwa tertententu; dalam acara formal pertemuan pertemuan warga, gotongroyong , ketika ada peristiwa perkelahian warga, atau ketika ada kecelakaan dan pencurian.
Biasanya aktifitas srawung awalnya merupakan bentuk pembicaraan yang isinya murni berbagi pengalaman namun tidak sedikit yang berkembang kearah bentuk korektif terhadap pantas dan tidaknya prila-prilaku masyarakat. Banyak nilai nilai positif yang didapat dari proses srawung. Namun begitu tidak sedikit masyarakat yang mulai menilai efek srawung yang tidak dalam porsinya justru akan menyulut konflik baru dalam hubungan bermasyarakat. Dengan demikian hal tersebut membuat nilai srawung sendiri dimasyarakat menjadi bergeser. Konotasi srawung menjad dentik dengan hubungan yang berujung pada rerasan atau istilahnya ngarasani.
Kultur masyarakat akan membentuk pola kelompok srawung. Selain itu pola srawung juga akan membentuk jalinan kelompok-kelompok kecil yang ada di masyarakat. Kelompok ibu-ibu atau kelompok perempuan dengan kelompok bapak-bapak atau kelompok laki-laki akan berbeda model srawungnya. Hal tersebut bisa dibedakan dari tempat mereka bertemu, kapan saja mereka melakukan, apa saja yang dibicarakan, serta jalinan keeratannya.
Ruang yang terkelaminkan
Jika mengamati aktivitas gang kampung perkotaan, akan terlihat bagaimana masyarakat menggunakan tempat tersebut sebagai ruang untuk srawung. Memang, sekilas tampak oleh mata, gang kampung adalah sebuah jalan yang menghubungkan tempat satu dangan tempat yang lain dimana disamping kanan kirinya terdapat rumah penduduk yang berderet yang secara geometrik tidak rapi.
Sebagai ruang interaksi sosial, gang juga terikat oleh waktu yang menggambarkan aktifitas yang bermacam-macam jenisnya. Model aktifitas srawung kelompok laki laki dan perempuan juga menandai ruang interaksi tersebut.
Dari hasil pertanyaan kepada tetangga saya. Laki-laki banyak menggunakan tempat seperti warung angkringan, bengkel, pos ronda, pinggir gang untuk nongkrong., dan bahan obrolan mereka identik seputar hobi-hobi dan pekerjaan seperti; memancing, burung klangenan, aktifitas pekerjaan, berita televisi tentang politik, organisasi, modifikasi motor, komunitas musik, pengalaman bertualang yang menantang, serta yang paling terkini perihal hobi menanam tanaman hias, untuk beberapa kelompok. Untuk batasan waktu, mereka tidak begtu terikat dangan norma atau etika kesopanan yang ada, jadi menggunakan waktu hingga larut malampun tidak ada masalah. Sedang perempuan biasanya menggunakan tempat seperti, warung kelontong, dapur, wc umum., dan yang dibcarakan biasanya sekitar kelebihan dan kekurangan suami mereka, tentang anak anaknya, dan juga takjauh dari sekitar gosip tetangga.dan berbeda dengan laki-laki perempuan lebih terikat dengan norma-norma susila yang membatasi ruang dan waktu lingkup bergaul mereka.
Tempat telah menjadi ruang penanda atas prilaku dan peranan perempuan. Seorang remaja akan mendapat konotasi yang tidak baik bila mereka bergaul di pinggir jalan hingga larut malam bersama dengan teman atau rekan lain jenis, apalagi jika ia adalah remaja, gadis atau prawan. Jika didalam sebuah peristiwa layatan, rapat warga, atau perayan-perayaan kampung; peran perempuan diposisikan mengatur konsumsi alias tidak jauh dari dapur umum.
Tempat sebagai ruang yang terikat waktu pun telah di maknakan sebagai ruang yang memiliki kelamin. Makna tersebut bukan muncul dengan sendirinya namun karena hasil dari kesepakatan yang dibuat. Dan kemudian dianut oleh orang banyak untuk mengatur proses hubungan sosial mereka.
Jika menengok realitas, peran-peran perempuan sebenarnya telah menjadi sebuah ritus pembebasan didalam sendi sendi kehidupan.
Posted by anakmuda at 8:31 AM 0 comments
Tuesday, June 26, 2007
Gerakan kaum perempuan indonesia dari masa ke masa
Kesetaraan “GENDER..?”
Gagasan ini di Indonesia bukanlah sesuatu hal baru yang di angkat dan diperjuangkan oleh kaum perempuan. Mestinya kita masih ingat dengan pahlawan wanita kelahiran jepara yang harum namanya. Ya, R.A Kartini, walaupun memperjuangkan persamaan hak-hak kaum perempuan sekaligus dia tidak berdaya melawan kultur patriarki, karena dia tidak berdaya sewaktu di suruh kawin dengan seorang laki-laki beristri dan dilarang untuk belajar ke Belanda oleh ayahnya.
Terbentuknya organisasi perempuan pertama di Indonesia “Poetri Mardika “, cukup membawa angin segar bagi kaum perempuan karena memang memperjuangkan emansipasi, nasionalisme, dan kebebasan dari kaum kolonialisme.
Setelah munculnya Poetri Mardika, terus organisasi yang mengatas namakan gerakan perempun terus bermunculan, misalnya: Poetri Oetomo,Aisyah, Jong Java Meskering,Wanita Katholik dan lain-lain.
Organisasi-organisasi perempuan itu kemudian bersatu untuk membentuk wadah dengan mengadakan Kongres Perempuan I pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Jogjakarta dan memunculkan nama PPPI (Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia) yang kemudian berganti nama PPII (Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia ). Kemudian PPII mengadakan Kongres untuk yang pertam kali dengan mengusung permasalahan persamaan pendidikan untuk kaum perempuan dan peningkatan harga diri perempuan yang merupakan bagian dari emansipasi kaum perempuan. Pada kesempatan yang kedua PPII tahun 1930 dalm kongresnya lebih menyerukan hak suara perempuan, perdagangan perempuan dan metutut agar segera di bentuknya kantor penerangan tenaga kerja. Sedangkan dalam kongres ke III PPII lebih memperjungkan agar hak suara perempuan di parlemen serta supaya kaum perempuan dapat mendudukan wakilnya di parlemen sehingga suara dari kaum perempuan nantinya dapat teraspirasikan dengan baik.
Setelah kemerdekaan Indonesia dapat terwujud, ternyata perjuangan kaum perempuan lantas tidak langsung berhenti begitu saja. Hak hak kesetaraan perempuan justru semakin lebih kuat disuarakan. Terbukti dengan gebrakan pemerintah mengeluarakan UU80/1958 untuk mengatur persamaan hak penggajian yang sama dengan kaum laki-laki. Namun semua harapan tidak selalu berjalan lancar, isu poligami yang dirasa oleh kaum perempuan sangat merugikan, ternyata muncul ketika presiden Soekarno menikahi Hartini padahal dia telah beristrikan Fatmawati, pro kontra terjadi dimana-mana lebih dari organisasi-organisasi perempuan dan mereka mendesak dikeluarkan UU Perkawinan.
Setelah era Soekarno berlalu dan puncuk komando pemerintahan di bawah kendali Suharto, perjuangan kesetaraan gender kembali diangkat hingga akhirnya digulirkannya UU Perkawian tahun 1974, walaupun UU tersebut secara ketetat mengatur terhadap praktek poligami tetapi itu hanya berlaku untuk Pegawai Negri saja. Disamping itu dalam era Suharto juga telah membentuk Kementrian Muda Urusan Peranan Wanita. Dengan adanya kementrian ini di harapkan dapat lebih mengeleminir serta penyudutan terhadap kaum perempuan.
Selama ini perjuangan kaum perempuan terhadap kesetaran gender memang telah mengalami suatu grafik peningkatan tapi itu semua belumlah cukup, coba kita tengok tahun 1999 dimana pada pemilu tersebut PDIP keluar sebagai pemenang dan mendudukkan banyak wakilnya di parlemen, pada kesempatan itu PDIP mencalonkan Ibu Megawati sebagai calonkan Presiden, tapi hasilnya…? No! karena alasan agama, ini itu dan lain sebagainya, walaupun pada akhirnya menjadi presiden perempuan pertama.
UU no 12 tahun 2003 misalnya yang secara tegas dalam pasal 65 ayat(1) bahwa setiap Parpol memberikan kuota 30% terhadap perempuan, tapi hasilnya di lapangan bagaimana…? Itu menjadi bukti bahwa posisi tawar perempuan di Indonesia masih terlalu lemah dan marilah kita coba menengok sekitar kita tetap saja masih ada pemerkosaan terhadap hak-hak perempuan, kekerasan terhadap perempuan dan sebagainya. Disamping itu masih belum adanya kejelasan hukum yang berpihak terhadap kaum perempuan serta belum adanya keadilan terhadap diskriminasi, SARA.
Posted by anakmuda at 3:10 AM 0 comments