Monday, May 4, 2009

kuis nasionalisme



coba sebutkan nama tokoh nasionalis berikut
urut dari kiri ke kanan!

hari pendidikan nasional indonesia

2 MEI 2009






















Paulo Freire (1921-1997), dalam rangka memperingati 25 tahun terbitnya Pedagogy of the Oppressed, pada 1994, menerbitkan Pedagogy of Hope. Maksudnya untuk menghayati kembali Pedagogy of the Oppressed. Berbeda dengan buku pertamanya, Pedagogy of Hope berisi runutan pengalaman nyata dan hidup yang menjiwai buku pertama. Pengalaman-pengalaman mengesankan itu meliputi peristiwa-peristiwa awal yang memberi inspirasi sebelum Pedagogy of the Oppressed ditulis maupun pengalaman-pengalaman sesudah diterbitkan yang memberi daging pada buku itu. Pedagogy of the Oppressed mula-mula ditujukan buat memberdayakan kaum miskin buta huruf di Recife, kota pelabuhan di pantai Utara Brasil. Tak heran, Freire lebih populer di kalangan lembaga swadaya masyarakat ketimbang di sekolah formal. Freire lebih dikenal sebagai andragog (pendamping kaum dewasa) lewat popular education ketimbang pedagog (pendidik generasi muda). Pedagogi freirean identik dengan metode hadap masalah, bukan pendidikan konvensional gaya bank, perlawanan atas budaya bisu, menentang domestikasi (penjinakan), metode dialogal atau pengajaran non-indoktrinatif, penyadaran, dan pengharapan. Conscientizacao (konsientisasi) digunakan Freire untuk mendiskripsikan proses perkembangan individu yang berubah dari kesadaran magis dan naif menuju kesadaran kritis. Hakekat pendidikan, bagi pemikir dari Brasil dan pelopor paradigma pendidikan keadilan sosial dengan pendekatan pemberdayaan manusia itu memang penumbuhan kesadaran kritis ---bukan kesadaran magis dan kesadaran naif. Kesadaran magis tidak mampu menemukan kaitan antara kemiskinan dengan struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang mengondisikan kaum miskin nestapa. Kesadaran ini fatalis karena menempatkan faktor di luar manusia sebagai sumber ketidakberdayaan. Kemiskinan diterima sebagai kodrat yang tidak bisa diubah. Kesadaran naif menyalahkan manusia sebagai sumber kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Berangkat dari kesadaran ini, muncul paradigma pendidikan kompetitif dengan pendekatan sumber daya manusia. Konsep link and match contoh sesat pikir pendidikan bermuara pada kesadaran ini. Kesadaran kritis melihat struktur politik, sosial, ekonomi, dan budaya sebagai akar penindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pedagogi penyadaran Paulo Freire memfasilitasi masyarakat “buta huruf” (berkesadaran magis dan naif) agar bisa “membaca” (berkesadaran kritis) dan memahami bagaimana struktur sosial, politik, ekonomi, dan budaya mengorbankan dan menindas mereka. Tujuan akhir conscientizacao mengubah struktur masyarakat yang zalim menjadi adil dan lebih manusiawi. Pendidikan, menurut salah satu konsep aslinya adalah paideia (pedagogi). Artinya pembentukan generasi muda agar menjadi manusia berbudaya yang mampu mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan di Indonesia, istilah budayawan Bakdi Sumanto, baru sebatas pengajaran untuk menghasilkan para siswa-siswi ingkang bagus alus, ayu merak ati, pinter etung, nulis, nggambar, kalawan maca (para siswa-siswi yang tampan, cantik, pintar berhitung, menulis, menggambar, dan membaca). Terjadi pengerdilan makna pendidikan dan pemungkretan esensi pendidikan. Pendidikan tidak mendorong peserta didik dan pendidik berkomunikasi dengan realitas sosial yang terjadi di luar sekolah---padahal, bagi Paulo Freire, pendidikan adalah dialektika peserta didik, pendidik, dan realitas sosial. Freire menekankan pentingnya pendidikan dialogal agar mendayakan dan mengayakan ketimbang pendidikan bercorak otoriter yang menjinakkan. Pendidikan punya kecenderungan mengindoktrinasi, menghegemoni, dan mendominasi karena berpendekatan top-down, sistemnya militeristik (seragam, ideologis, disiplin mayat), dan menggunakan metode anjing. Para murid agar setia dan tunduk, sebagaimana relasi tuan dan anjing, dididik dengan ganjaran sekaligus hukuman. Guru agen yang mengawasi dan merendahkan martabat siswa. Sekolah menjadi lingkungan penuh sensor yang memupus bakat dan gairah siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Jelas ini bukan pendidikan melainkan “pembuayaan” yang memblokir manusia untuk menjadi manusia otentik. Kurikulum di jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah Indonesia mencantumkan topik-topik berbagai bidang studi secara rinci. Tugas pendidik sekedar mengangkat pokok bahasan demi pokok bahasan dan mengabarkan isi buku teks. Mutu hasil pembelajaran menjadi absurd karena yang dipakai sebagai ukuran hanyalah daya serap (kemampuan menghimpun pengetahuan) yang diungkap lewat proses evaluasi hasil belajar bersifat artifisial---ebtanas. Sistem pengajaran monologal yang menonjolkan otoritas dominan dalam konteks pedagogi Freirean jelas mentunadayakan siswa. Silang sengkarut pentunadayakan juga diakibatkan: lemahnya motivasi dan dedikasi guru untuk menjadi pendidik berjiwa otentik; semakin banyak guru yang kebetulan menjadi guru, sejak awal tidak komit menjadi guru; kematangan emosional, kemandirian berpikir, dan keteguhan sikap mereka rendah sehingga kepribadian mereka memancarkan ketidaksiapan jadi pendidik. Pendidikan di Indonesia agar mengobarkan pengharapan --mengadaptasi pemikiran Francis Wahono (2002)-- pendekatannya mesti bottom-up, sistemnya petani, dan menggunakan metode ayam. Kurikulum, sebagaimana petani memperlakukan tanaman sesuai konteks alam, disampaikan hanya melalui penggarapan dan penjiwaan pendidik berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata peserta didik. Pendidik, setali tiga uang induk ayam mestinya tidak memaksa anak-anaknya menjadi penurut melainkan memandirikan, mendewasakan, dan melindungi mereka dari mara bahaya.

Monday, April 20, 2009

PERTANYAAN YANG MENGGANGGU PIKIRAN


Berawal dari sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun susah untuk menjawabnya. Suatu ketika, seseorang mendatangi saya dan bertanya, “untuk apa seseorang menjadi mahasiswa?”. Tentu setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda dalam menanggapi pertanyaan ini. Begitu juga dengan saya, yang terlalu bingung untuk menjawabnya. Mungkin banyak alasan dan beragam jawaban yang dapat saya lontarkan, namun tak jua memuaskan hati saya sendiri.

Sebuah rasan-rasan dari seorang teman yang kebetulan tidak dapat menyelesaikan kuliahnya, cukup menyita pikiran saya selama ini dengan pertanyaan yang sempat ia lontarkan. Belum selesai saya menjawab pertanyaan yang pertama, ia menghujani lagi dengan pertanyaan yang serupa. Layaknya seorang yang sedang melakukan wawancara saat melamar pekerjaan.

Saya akan sedikit menceritakan bagaimana pertanyaan itu banyak menyita pikiran. Sampai saat ini pun saya belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan. Mungkin dengan cerita ini, kita dapat berefleksi lebih jauh dan membantu saya untuk menemukan jawaban yang menarik dan cukup bisa diterima.

Pertanyaan itu seakan menghakimi pikiran saya. Dengan sangat jelas masih terngiang di telinga dan melekat di pikiran. Mengapa kita harus susah-susah menjadi mahasiswa? Bukankah dengan membaca buku saja sudah cukup mendapat wawasan luas laiknya mahasiswa. Tentu hal ini benar, walaupun dikatakan dengan nada guyonan orang kampung, saat itu. Selama berhari-hari aku membenarkan pernyataan itu. Bahkan sampai sekarang pun masih. Kemudian apa gunannya saya kuliah? Seakan-akan saya sudah tidak percaya lagi terhadap institusi yang bernama universitas. Karena harus berkompetisi dengan ratusan bahkan ribuan orang untuk mendapatkan kursi di bangku kuliah. Setelah itu, masih di bebani dengan biaya yang mahal, kadang dapat mencekik leher kita atu memaksa kita untuk mengencangkan ikat pinggang karena harus mengurangi jatah makan demi membayar kuliah.

Terbesit dalam pikiran untuk menjwabab pertanyaan tadi. Dengan kuliah, saya akan mendapat banyak teman mahasiswa yang mugkin dapat berguna dalam hidup saya. Karena semakin banyak jaringan, semakin mudah mengakses sesuatu. Tapi hal ini pun terpatahkan dengan fakta bahwa sebelum kuliah pun saya sudah berteman dengan banyak mahasiswa. Kenapa harus mengeluarkan biaya mahal kalau hanya ingin mempunyai teman mahasiswa. Oh, mungkin kuliah adalah tempat menimba ilmu demi mewujudkan cita-cita. Dasar tolol, jawaban ini sudah kamu lontarkan tadi, itu kan jawaban pertama kali yang terbesit dalam otakmu. Brengsek! Bagaimana saya dapat menghindar dari pertanyaan-pertanyaan ini. Aku takut akan putus asa dan meninggalkan bangku kuliah karena tidak dapat menjawab pertanyaan ini.

Siapa yang dapat membantu saya dalam menjawab pertanyaan ini. Semoga datang sang penyelamat yang membawa sebuah pencerahan. Agar saya dapat menyelesaikan kuliah dengan sempurna tanpa harus bimbang. Terimakasih….

Jantan Putra Bangsa