Oleh: anton
Stigma yang ada terhadap kaum muda
Kaum muda sebagai generasi penerus tumbuhnya bangsa ini. Kaum muda, seolah-olah menjadi seorang pelari terakhir dalam kelompok estafet beregu. Selalu mendapat giliran untuk menyelesaikan putaran yang seolah-olah harus sampai di finish dengan hasil yang lebih baik.
Dari masa ke masa banyak kajian tentang kaum muda dalam menilai bagaiman posisi dan perkembangan yang terjadi pada mereka. Berikut beberapa pandangan para ilmuan dan sejarawan terhadap kaum muda:
Onghokham.(1985:111-112)
Golongan muda merupakan mereka yang berumur di bawah 30 tahun dan hanya memegang peranan penting pada saat-saat tertentu.
Saya Sasaki Shiraishi(2001:237-238)
Kaum muda identik dengan kelompok remaja, dimana didalamnya adalah kumpulan orang yang belum matang, cenderung bergerombol, kadang kala mengenakan seragam sekolah, tidak disiplin, gampang naik darah, liar, yang terutama tidak penting. Mereka didefinisikan mendua didalam keluarga dan masyarakat, mereka bisa saja pekerja paruh waktu, pengangguran, namun hampir tak ada yang jadi pegawai. Keberadaan mereka hilang dari waktu kewaktu, mampu melakukan tindakan kekerasan, namun jinak secaara politik,.
Ben Anderson (1988:22-29)
Pengertian pemuda ditentukan oleh masyarakat tradisional sebagai tahap tersendiri dalam garis busur kehidupan antara massa kanak anak dan dewasa, yang dianggap sebagai suatu jenjang yang mutlak. Masa ini sifatnya hanya sementara saja, hanya suatu tatacara untuk melintas dari suatu masa kanak-kanak ke dewasa, yang dianggap sebagai suatu jenjang yang mutlak perlu dalam kerangka busur kehidupan, menjelang pemunculannya kembali kedalam dunia seksual, hierarki, dan kebiasaan kebiasaan dari kehidupan orang dewasa.masa ini sering disebut sebagai masa ambang pintu, yang membuka kesempatan bagi seorang anak untuk menentukan masyarakat dengan cara mengundurkan diri, memusatkan pikiran, dan mempersiapkan diri untuk mengarungi hidup dimasa depan, dan mengemban dan mengemban identitas sebagai seorang dewasa.
Stikma-stikma yang bergulir untuk kaum muda hingga saat ini semoga tidak selamanya benar hingga kedepannya. Meski demikian pernyataan-pernyataan yang mencoba menerjemahkan mereka pada kenyataannya banyak yang dibenarkan. Sebagai salah satu golongan dimasyarakat yang jumlahnya banyak, mereka hampir tidak temasuk dalam kelas masyarakat. Kehadiran mereka ditengah masyarakat bisa dipertanyakan ulang apakah mereka ada, namun tidak ada? Atau jikamereka memang ada eksis, apakah peran mereka lebih marginal dari golongan tua, ataukah mereka memeliki peran yang berbeda?, apakah posisi mereka menunjukaan pilihan dari budaya yang terlepas, apakah peranan mereka juga merefleksikan keterasingan mereka pada dari masa kemasa? apakah ada cara-cara berbeda dan khusus yang dijalankan mereka dalam mengorganisir hidupnya?
Sekilas generasi sebelum 45
Pada masa ini pemuda menjadi ujung tombak pergerakan bangsa ini. meski negri ini belum terbentuk menjadi sebuah wadah dengan nama negara namun apa yang menjadi perjuangan mereka untuk membela pribumi dar pendjajahan telah dipertimbangkan serta diakui oleh kaum tua negri ini sendiri serta banyak kalangan di luar negri. Mereka adalah kaum cendekiawan muda yang sebelumnya telah banyak mengenyam pendidikan ilmu barat, ilmu penguasa kolonial pada waktu itu.Pergerakan organisasi pemuda yang pada waktu itu memiliki pengaruh besar politik adalah Perhimpunan Indonesia(PI)- februari 1925. organisasi tersebut merupakan pengembangan atas pemikiran dan idealisme perjuangan para perkumpulan yang telah berkembang ada pada 1908-(Indische Veeteninging). Dimana mereka yang mempelopori di daerah hinda belanda ini adalah gerakan mahasiswa STOVIA dan Sekolah Tinggi Teknik bandung – Trikoro Dharmo 1915.
Kemudian munculnya perkumpulan perkumpulan jong jong pemuda kedaerahan ini memberkan semangat perjuangan menjad semakin meluas meski pada waktu itu mereka belum adanya upaya konsolidasi diantara merek namun kemudian dengan di konsolidasikan oleh Perkumpulan pelajar Indonesia mereka menjadi melebur menjadi Organsasi besar yaitu Indonesia Muda (IM)-1930. Karena kecurigaan kolonaal akan mereka maka mereka menjadikan satu kedalam Suluh Pemuda Indonesia, dan Pergerakan Pemuda Revolusioner.
Mereka terbagi dalam dua golongan, mereka yang tergolong dalam pemuda pelajar dikategorikan sebagai cendekiawan, hal tersebut pada waktu itu lebih dicermati dari pendidikan mereka. Dan yang bukan termaksud di golongan pertama lebih berfungsi sebagai mereka yang angakat senjata. Dan mereka semua adalah pejuang.
1930, perkumpulan yang termasuk dalam kategori para cendekiawan muda atau pelajar ini terwadahkan mejadi tiga, diantaranya mereka yang tergabung dalam kelompok debat (debating club) yang cenderung teoritis-politis abstrak , tertutup, dan tabu politik praktis; keduamereka yang terwadahkan dalam partai dimana bergerak dalam politik praktis; sedang yang terakhir adalah mereka yang tergabung dalam kelompok kelompok belajar biasa yang mula tertarik dalam orientasi politis.
Hampir dari pergerakan pergerakan kaum muda terpelajar pada waktu itu dipengaruhi oleh faham sosalisme, khususnya marxisme., Dan beberapa dari mereka yang kemudian menjadi anutan dan juga menjadi elit politik adalah Soekarno, Syahrir, dan Muhammad Hatta.
Meski pada perkembangannya pelajaran sejarah di ekolah sekolah tingkat menengah golongan dari mereka ini lebih di kenal sebagai Anggakatan muda 45 atau sering disebut sebagai angkatan revolusioner dalam sejarah perjuangan negara ini. Dalam revolusi 45 yang menjadi pilar utama di dalamnya adalah mereka para pemuda. Dengan sikap yang cenderung diartikan sebagai anti “batas” mereka mampu menjadi motor mobilitas sosialnya. Keberhasilan mereka dalam membawa negara ini ke sebuah jembatan emas yaitu ‘merdeka’ .
Konsepsi revolusi di negri kita berbeda dari revolusi yang banyak terjadi di negara manapun. Dari sekian banyak perjuangan atas kemerdekaan oleh sebuah bangsa di sana kekuatan perlayanan dibedakan dari dan oleh lawan lawannya. Hal tersebut atas dasar budaya atau kelas sosial, kepartaian atau atas tujuan para pejuanganya. Namun disini, revolusi pemuda justru merepresentasiakan keumumman perjuangan itu sendiri. bukan bersifat membeda-bedakan atau mengutamakan kekuatan dan arus revolusi. Representasi tersebut mengartikan akan pemuda sebagai bagan dari keumuman itu sendiri, atau sebagai “kaum republiken” atau rakyat itu sendiri.
orde baru
Tumbangnya pemerintahan orde lama yang dipimpin Soekarno oleh golongan penentang konsep pemerntahan demokras terpimpin yang salah satunya ada kekuatan pemuda yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menjadi bagian penanda munculnya lahirnya ordebaru yang sarat dengan militerisme.
Dalam massa ini semua yang menjadi buah pemikiran refleksi kritis para pemuda atas kondisi politik masa itu dianggap sebagai pikiran yang merongrong negara. Kelompok kelompok pemuda yang revolusioner akan berurusan dengan aparat, dan dianggap kelompok sparatisme. Segala pemikiran yang berbau sosialis kritis akan di tuduh sebagai penyebar ajaran komunisme dan tidak bertuhan, maka harus dibunuh. Hilangnya suara mereka kaum muda ini menandakan awal kemunduran pemuda sendiri, karena rezim yang sangat kuat dimana militer menjadi backing mereka.
Peristwa MALARI (malapetaka Limabelas Januari) memperlihatkan kita pada bagaimana kekuatan dan dominasi militer begitu berkuasa atas situasi politik di negri ini, terutama terhadap aspirasi golongan muda. 15 Januari 1974, penolakan golongan mahasiswa terhadap dwifungsi ABRI pada waktu itu menjadi puncak ketegangan diantara keduanya, yang menyisakan cerita pilu sekaligus dramalogi kebengisan kekuatan bersenjata pemerintah saat menggilas para demonstran.
Setelah pemerintah Soeharto pada waktu itu mengeluarkan keputusan untuk pembekuan Dewan Mahasiswa 21 Januari 1978 dengan SK Kopkamtip. No. Skep.2/Kopkam/1978. Kabekuan aspirasi para pemuda semakin akut. Dengan slogan sapu bersih para aparat menyisir semua organisasi kaum muda untuk menghentikan gerakan mereka dan jika perlu menghabisinya.
Hingga pada kurun waktu 1980 -1990 wacana terhadap pemuda mulai berganti fokus. Saat itu banyak pembahasan tentang kaum muda mengenai gaya hidup mereka, yang hanya memperlihatkan hedonisme belaka. Dari mulai pacaran, kumpul kebo hingga pernikahan dini., maraknya pusat tongkrongananak muda kelas menengah hingga kelas atas seperti kaffe, mall, hingga diskotik., dan yang paling menguntungkan bagi dunia media massa adalah, kaum muda telah menjadi fokus pembahasan gaya hidup yang banyak diminati dikalangan mereka sendiri dan tentu saja juga meraup keuntungan uang banyak pula. Kaum muda telah menjadi konsumen terbesar dari barang abrang kebudayaan global dari produksi kapitalis. Medai telah menjadi alat politk ekonomi dalam rangka memperkuat konsumerisme kaummuda terhadap barang dan benda.
Runtuhnya orde baru
Tumbangnya rezim orde baru tentu masih menyisakan cerita yang masih hangat di benak kita. Bagamana semua masyarakat pada waktu itu -mungkin termasuk kita- telah tahu akan berbagai kebobrokan dari pemimpin yang menciptakan rezim selama 32 tahun ini. ketidak percayaan yang semakin kuat dimasyarakat semakin kuat untuk menuntuk pemimpin rezim ini untuk mengundurkan diri dari kursi kekuasaanya. Dan juga menuntuk mereformasi semua penyelenggara pemerintahan yang pada waktu itu berkuasa.
Gerakan pemuda di saat itu mulai bersemangat kembali, layaknya macan yang yang terbangun dari tidur yang panjang. Luapan emosional dan kemarahan untuk menuntut turunnya soeharto dan antek anteknya semakin tak terbendung. Demonstrasi di seluruh pelosok negri , dan banyak tragedi terjadi pada saat itu. Penculkan para aktifis serta penembakan demonstran datang setiap saat.
Banyak ormas masyarakat yang didalamnya mereka kaum muda menggabungkan diri ketubuh partai untuk ikut ambil bagian sebagai simpatisan. Hinga akhirnya pada 21 Mei 1998 kebangkitan rakyat negri ini memetik hasilnya. Bagaiman Soeharto dengan kekuatan militernya yang dirasa sangat kuat telah dipaksa mundur dari kursinya.
Eforia besar besaran yang terluap di hati rakyat negri tidak terperikan. Namun sekali lagi kekuatan orde baru masih sangat besar dalam setiap lini sistem negara ini. Emosi kegembiraan yang meluap-luap tadipun dengan mudah mereka politisasi sehingga berubah menjadi emosi kemarahan massa yang dilampiaskan kepada golongan masyarakat tionghoa serta terutama kelas menengah atas. Tindakan kriminal secara masalpun terjadi. Pemerkosaan dan penganiayaan kepada kelompok masyarakat tionghoa pun terulang, penjarahan ke pusat pertokoan-pertokoan dan perumahan elitpun terjadi. Fakta yang terlihat menjadi berbalik mengadili masyarakat.
Pergantan tiga kali presiaden dalam satu periode., satu daerah propinsi telah lepas dari ikatan kebnekaan dan satu persatu gugusan pulau negri ini terampas negara tetangga; hal ini menunjukan bagaimana negara ini dibuat kocar-kacir. Tokoh tokoh pemuda yang sepuluh tahun lalu ada di garda depan saat ini telah menjadi elit politik. Namun sekali lag mereka menjadi tidak segarang ketika memperjuangkan nasib rakyat pada waktu itu. Peran pemuda yang sepuluh tahun yang lalu telah bangkit, seolah olah kembali lagi tertidur.
Kita semua tahu era ini adalah era dimana negri ini telah di warisi sistem KKN yang hanya mementingkan golongan tertentu saja. Ironisnya warisan ini telah menjadi tanggungjawab kepada generasi selanjudnya.