Tuesday, July 10, 2007

Panggung Promosi

Kartu Perdana Jempol

Oleh: Billy Praditya

Panggung yang secara umum kita kenal adalah panggung pementasan/pertunjukan. Biasanya panggung tersebut berbentuk persegi, pada dasarnya fungsi panggung adalah sebagai alat bantu pertunjukan yang berupa ruang, dimana ruang tersebut yang nantinya digunakan sebagai tempat terjadinya aksi pertunjukan supaya menciptakan focus interest, akan tetapi saat ini perngertian panggung sudah jauh lebih berkembang, panggung yang sekarang tidak mempunyai batasan bentuk, waktu serta jarak. Jadi, pemakaian panggung secara modern adalah dengan berbaur serta bersama dengan audiennya

Melihat peningkatan pemakaian HP, tentunya bagi XL, Flexi, Simpati, Mentari, Fren, dan lainnya mengangap sebuah peluang. Dengan ketatnya persaingan, maka masing-masing tentunya berusaha semaxsimal mungkin untuk menarik konsumen dengan memasarkan keunggulan produknya. Seperti yang dilakukan XL Jempol belum lama ini, mengadakan program baru bagi pengguna kartu perdana Jempol yaitu berupa kejutan dengan memberikan bonus pulsa sebesar 40 ribu rupiah, bonus 25 SMS, SMS 45 rupiah, dan info lowongan kerja

Dalam mempublikasikan produknya Xl Jempol menggunakan 2 buah konsep yaitu yang pertama komunikasi yang dilihat sebagai kegiatan sosial yang dikenal secara konvensional, yaitu pihak yang menyampaikan suatu “hal”. Kegiatan ini berupa penyampaian tanda/signal dan pada dasarnya merupakan upaya untuk mengatasi jarak dan waktu. Kata kunci dalam konsep ini adalah penyampaian (transmision). Dalam konsep ini yang dilakukan adalah dengan memasang iklan di televisi.

Sedangkan yang kedua tidaklah bertumpu pada penyampaian yang mengatasi jarak dan waktu tetapi pada kebersamaan. Dengan begitu komunikasi bukan berarti menyampaikan pesan antara suatu pihak yang terpisah dari pihak lainnya, tetapi perwujudan dari kepercayaan bersama (representasion of shared beliefs). Pesannya adalah produk tersebut sebagai produk bersama dalam pemaknaan kehidupan bersama. Cara ini adalah publikasi, yaitu dengan mengumumkan program kejutan.

Walau sebenarnya pengetian antara periklanan dan publikasi tdaklah berbeda, akan tetapi dalam segi-segi tertentu dapat dibedakan (Bedjo Riyanto. Iklan Surat Kabar) yaitu periklanan merupakan kegiatan komunikasi yang komersial (membayar ruang media yang digunakan) sedangkan pubikasi non komersial (anggarannya bersifat tidak langsung dan kecil prosentasenya). Dari kedua cara ini sebenarnya mempunyai keuntungan sendiri-sendiri, keuntungan dari iklan Jempol yang ditanyangkan di televisi yaitu mempunyai daya jangkau yang luas, dan karena ditayangkan berulang kali maka secara psikis dapat membangkitkan kesadaran konsumen tentang adanya produk tersebut yang merupakan suatu kebutuhan bagi konsumen yang hanya dapat dipenuhi dan dipuaskan oleh produk yang ditawarkan.

Lain halnya dengan publikasi, dengan memakai cara publikasi maka pembangunan selera konsumen akan lebih tercipta kerena adanya pertemuan langsung. Belum lagi trik yang digunakan yaitu dengan melakukan kampanye di jalan menggunakan sepeda ontel (sepeda jawa) lengkap dengan busana jawa lengkap, dan ditamba lagi dari masing-masing sepeda yang sudah dihias hijau itu membawa bord (papan) yang bertuliskan JEMPOL, TUNGGU, KEJUTAN, DARI, dan KAMI selama 5 hari dan setelah hari keenam diganti dengan tulisan JEMPOL, BONUS PULSA RP.40.000,00, BONUS 25 SMS, SMS RP.45,00, INFO LOWONGAN KERJA. Sepeda dan busana disini difungsikan sebagai penarik perhatian dan penggalan kalimat berfungsi daya tarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, sedangkan pemberitaan akan adanya kejutan berfungsi sebagai pemancing emosi konsumen, adapun tanggapan langsung dari masyarakat antara lain “ooo...Jempol”, “mas kejutane opo...”,”bayare piro mas”, “jempol kesukaan ku”, ada juga yang melirik malu-malu, ketawa terbahak-bahak, tersenyum simpul, dan masih banyak lagi.

Jika kita lihat panggung yang dibuat XL Jampol maka itu adalah bukanlah panggung pertunjukan akan tetapi panggung ekonomis yaitu dimana tujuan dari panggung tersebut adalah memasarkan produk, secara politis mempengaruhi audien untuk membeli atau memakai produk yang ditawarkan.



Kaum Muda Di Rentang Masa


Oleh: anton

Stigma yang ada terhadap kaum muda

Kaum muda sebagai generasi penerus tumbuhnya bangsa ini. Kaum muda, seolah-olah menjadi seorang pelari terakhir dalam kelompok estafet beregu. Selalu mendapat giliran untuk menyelesaikan putaran yang seolah-olah harus sampai di finish dengan hasil yang lebih baik.

Dari masa ke masa banyak kajian tentang kaum muda dalam menilai bagaiman posisi dan perkembangan yang terjadi pada mereka. Berikut beberapa pandangan para ilmuan dan sejarawan terhadap kaum muda:

Onghokham.(1985:111-112)

Golongan muda merupakan mereka yang berumur di bawah 30 tahun dan hanya memegang peranan penting pada saat-saat tertentu.

Saya Sasaki Shiraishi(2001:237-238)

Kaum muda identik dengan kelompok remaja, dimana didalamnya adalah kumpulan orang yang belum matang, cenderung bergerombol, kadang kala mengenakan seragam sekolah, tidak disiplin, gampang naik darah, liar, yang terutama tidak penting. Mereka didefinisikan mendua didalam keluarga dan masyarakat, mereka bisa saja pekerja paruh waktu, pengangguran, namun hampir tak ada yang jadi pegawai. Keberadaan mereka hilang dari waktu kewaktu, mampu melakukan tindakan kekerasan, namun jinak secaara politik,.

Ben Anderson (1988:22-29)

Pengertian pemuda ditentukan oleh masyarakat tradisional sebagai tahap tersendiri dalam garis busur kehidupan antara massa kanak anak dan dewasa, yang dianggap sebagai suatu jenjang yang mutlak. Masa ini sifatnya hanya sementara saja, hanya suatu tatacara untuk melintas dari suatu masa kanak-kanak ke dewasa, yang dianggap sebagai suatu jenjang yang mutlak perlu dalam kerangka busur kehidupan, menjelang pemunculannya kembali kedalam dunia seksual, hierarki, dan kebiasaan kebiasaan dari kehidupan orang dewasa.masa ini sering disebut sebagai masa ambang pintu, yang membuka kesempatan bagi seorang anak untuk menentukan masyarakat dengan cara mengundurkan diri, memusatkan pikiran, dan mempersiapkan diri untuk mengarungi hidup dimasa depan, dan mengemban dan mengemban identitas sebagai seorang dewasa.

Stikma-stikma yang bergulir untuk kaum muda hingga saat ini semoga tidak selamanya benar hingga kedepannya. Meski demikian pernyataan-pernyataan yang mencoba menerjemahkan mereka pada kenyataannya banyak yang dibenarkan. Sebagai salah satu golongan dimasyarakat yang jumlahnya banyak, mereka hampir tidak temasuk dalam kelas masyarakat. Kehadiran mereka ditengah masyarakat bisa dipertanyakan ulang apakah mereka ada, namun tidak ada? Atau jikamereka memang ada eksis, apakah peran mereka lebih marginal dari golongan tua, ataukah mereka memeliki peran yang berbeda?, apakah posisi mereka menunjukaan pilihan dari budaya yang terlepas, apakah peranan mereka juga merefleksikan keterasingan mereka pada dari masa kemasa? apakah ada cara-cara berbeda dan khusus yang dijalankan mereka dalam mengorganisir hidupnya?

Sekilas generasi sebelum 45

Pada masa ini pemuda menjadi ujung tombak pergerakan bangsa ini. meski negri ini belum terbentuk menjadi sebuah wadah dengan nama negara namun apa yang menjadi perjuangan mereka untuk membela pribumi dar pendjajahan telah dipertimbangkan serta diakui oleh kaum tua negri ini sendiri serta banyak kalangan di luar negri. Mereka adalah kaum cendekiawan muda yang sebelumnya telah banyak mengenyam pendidikan ilmu barat, ilmu penguasa kolonial pada waktu itu.Pergerakan organisasi pemuda yang pada waktu itu memiliki pengaruh besar politik adalah Perhimpunan Indonesia(PI)- februari 1925. organisasi tersebut merupakan pengembangan atas pemikiran dan idealisme perjuangan para perkumpulan yang telah berkembang ada pada 1908-(Indische Veeteninging). Dimana mereka yang mempelopori di daerah hinda belanda ini adalah gerakan mahasiswa STOVIA dan Sekolah Tinggi Teknik bandung – Trikoro Dharmo 1915.

Kemudian munculnya perkumpulan perkumpulan jong jong pemuda kedaerahan ini memberkan semangat perjuangan menjad semakin meluas meski pada waktu itu mereka belum adanya upaya konsolidasi diantara merek namun kemudian dengan di konsolidasikan oleh Perkumpulan pelajar Indonesia mereka menjadi melebur menjadi Organsasi besar yaitu Indonesia Muda (IM)-1930. Karena kecurigaan kolonaal akan mereka maka mereka menjadikan satu kedalam Suluh Pemuda Indonesia, dan Pergerakan Pemuda Revolusioner.

Mereka terbagi dalam dua golongan, mereka yang tergolong dalam pemuda pelajar dikategorikan sebagai cendekiawan, hal tersebut pada waktu itu lebih dicermati dari pendidikan mereka. Dan yang bukan termaksud di golongan pertama lebih berfungsi sebagai mereka yang angakat senjata. Dan mereka semua adalah pejuang.

1930, perkumpulan yang termasuk dalam kategori para cendekiawan muda atau pelajar ini terwadahkan mejadi tiga, diantaranya mereka yang tergabung dalam kelompok debat (debating club) yang cenderung teoritis-politis abstrak , tertutup, dan tabu politik praktis; keduamereka yang terwadahkan dalam partai dimana bergerak dalam politik praktis; sedang yang terakhir adalah mereka yang tergabung dalam kelompok kelompok belajar biasa yang mula tertarik dalam orientasi politis.

Hampir dari pergerakan pergerakan kaum muda terpelajar pada waktu itu dipengaruhi oleh faham sosalisme, khususnya marxisme., Dan beberapa dari mereka yang kemudian menjadi anutan dan juga menjadi elit politik adalah Soekarno, Syahrir, dan Muhammad Hatta.

Meski pada perkembangannya pelajaran sejarah di ekolah sekolah tingkat menengah golongan dari mereka ini lebih di kenal sebagai Anggakatan muda 45 atau sering disebut sebagai angkatan revolusioner dalam sejarah perjuangan negara ini. Dalam revolusi 45 yang menjadi pilar utama di dalamnya adalah mereka para pemuda. Dengan sikap yang cenderung diartikan sebagai anti “batas” mereka mampu menjadi motor mobilitas sosialnya. Keberhasilan mereka dalam membawa negara ini ke sebuah jembatan emas yaitu ‘merdeka’ .

Konsepsi revolusi di negri kita berbeda dari revolusi yang banyak terjadi di negara manapun. Dari sekian banyak perjuangan atas kemerdekaan oleh sebuah bangsa di sana kekuatan perlayanan dibedakan dari dan oleh lawan lawannya. Hal tersebut atas dasar budaya atau kelas sosial, kepartaian atau atas tujuan para pejuanganya. Namun disini, revolusi pemuda justru merepresentasiakan keumumman perjuangan itu sendiri. bukan bersifat membeda-bedakan atau mengutamakan kekuatan dan arus revolusi. Representasi tersebut mengartikan akan pemuda sebagai bagan dari keumuman itu sendiri, atau sebagai “kaum republiken” atau rakyat itu sendiri.

orde baru

Tumbangnya pemerintahan orde lama yang dipimpin Soekarno oleh golongan penentang konsep pemerntahan demokras terpimpin yang salah satunya ada kekuatan pemuda yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menjadi bagian penanda munculnya lahirnya ordebaru yang sarat dengan militerisme.

Dalam massa ini semua yang menjadi buah pemikiran refleksi kritis para pemuda atas kondisi politik masa itu dianggap sebagai pikiran yang merongrong negara. Kelompok kelompok pemuda yang revolusioner akan berurusan dengan aparat, dan dianggap kelompok sparatisme. Segala pemikiran yang berbau sosialis kritis akan di tuduh sebagai penyebar ajaran komunisme dan tidak bertuhan, maka harus dibunuh. Hilangnya suara mereka kaum muda ini menandakan awal kemunduran pemuda sendiri, karena rezim yang sangat kuat dimana militer menjadi backing mereka.

Peristwa MALARI (malapetaka Limabelas Januari) memperlihatkan kita pada bagaimana kekuatan dan dominasi militer begitu berkuasa atas situasi politik di negri ini, terutama terhadap aspirasi golongan muda. 15 Januari 1974, penolakan golongan mahasiswa terhadap dwifungsi ABRI pada waktu itu menjadi puncak ketegangan diantara keduanya, yang menyisakan cerita pilu sekaligus dramalogi kebengisan kekuatan bersenjata pemerintah saat menggilas para demonstran.

Setelah pemerintah Soeharto pada waktu itu mengeluarkan keputusan untuk pembekuan Dewan Mahasiswa 21 Januari 1978 dengan SK Kopkamtip. No. Skep.2/Kopkam/1978. Kabekuan aspirasi para pemuda semakin akut. Dengan slogan sapu bersih para aparat menyisir semua organisasi kaum muda untuk menghentikan gerakan mereka dan jika perlu menghabisinya.

Hingga pada kurun waktu 1980 -1990 wacana terhadap pemuda mulai berganti fokus. Saat itu banyak pembahasan tentang kaum muda mengenai gaya hidup mereka, yang hanya memperlihatkan hedonisme belaka. Dari mulai pacaran, kumpul kebo hingga pernikahan dini., maraknya pusat tongkrongananak muda kelas menengah hingga kelas atas seperti kaffe, mall, hingga diskotik., dan yang paling menguntungkan bagi dunia media massa adalah, kaum muda telah menjadi fokus pembahasan gaya hidup yang banyak diminati dikalangan mereka sendiri dan tentu saja juga meraup keuntungan uang banyak pula. Kaum muda telah menjadi konsumen terbesar dari barang abrang kebudayaan global dari produksi kapitalis. Medai telah menjadi alat politk ekonomi dalam rangka memperkuat konsumerisme kaummuda terhadap barang dan benda.

Runtuhnya orde baru

Tumbangnya rezim orde baru tentu masih menyisakan cerita yang masih hangat di benak kita. Bagamana semua masyarakat pada waktu itu -mungkin termasuk kita- telah tahu akan berbagai kebobrokan dari pemimpin yang menciptakan rezim selama 32 tahun ini. ketidak percayaan yang semakin kuat dimasyarakat semakin kuat untuk menuntuk pemimpin rezim ini untuk mengundurkan diri dari kursi kekuasaanya. Dan juga menuntuk mereformasi semua penyelenggara pemerintahan yang pada waktu itu berkuasa.

Gerakan pemuda di saat itu mulai bersemangat kembali, layaknya macan yang yang terbangun dari tidur yang panjang. Luapan emosional dan kemarahan untuk menuntut turunnya soeharto dan antek anteknya semakin tak terbendung. Demonstrasi di seluruh pelosok negri , dan banyak tragedi terjadi pada saat itu. Penculkan para aktifis serta penembakan demonstran datang setiap saat.

Banyak ormas masyarakat yang didalamnya mereka kaum muda menggabungkan diri ketubuh partai untuk ikut ambil bagian sebagai simpatisan. Hinga akhirnya pada 21 Mei 1998 kebangkitan rakyat negri ini memetik hasilnya. Bagaiman Soeharto dengan kekuatan militernya yang dirasa sangat kuat telah dipaksa mundur dari kursinya.

Eforia besar besaran yang terluap di hati rakyat negri tidak terperikan. Namun sekali lagi kekuatan orde baru masih sangat besar dalam setiap lini sistem negara ini. Emosi kegembiraan yang meluap-luap tadipun dengan mudah mereka politisasi sehingga berubah menjadi emosi kemarahan massa yang dilampiaskan kepada golongan masyarakat tionghoa serta terutama kelas menengah atas. Tindakan kriminal secara masalpun terjadi. Pemerkosaan dan penganiayaan kepada kelompok masyarakat tionghoa pun terulang, penjarahan ke pusat pertokoan-pertokoan dan perumahan elitpun terjadi. Fakta yang terlihat menjadi berbalik mengadili masyarakat.

Pergantan tiga kali presiaden dalam satu periode., satu daerah propinsi telah lepas dari ikatan kebnekaan dan satu persatu gugusan pulau negri ini terampas negara tetangga; hal ini menunjukan bagaimana negara ini dibuat kocar-kacir. Tokoh tokoh pemuda yang sepuluh tahun lalu ada di garda depan saat ini telah menjadi elit politik. Namun sekali lag mereka menjadi tidak segarang ketika memperjuangkan nasib rakyat pada waktu itu. Peran pemuda yang sepuluh tahun yang lalu telah bangkit, seolah olah kembali lagi tertidur.

Kita semua tahu era ini adalah era dimana negri ini telah di warisi sistem KKN yang hanya mementingkan golongan tertentu saja. Ironisnya warisan ini telah menjadi tanggungjawab kepada generasi selanjudnya.

Gaya Hidup Modern Anak Muda


Oleh:Billy Praditya

“nggak gaul lu!”

Bagi anak muda tentunya ejekan seperti itu sudah sering kali terlontar dalam perbincangan disesamanya, walau kata gaul sudah bukan hal yang asing lagi bagi mereka, akan tetapi masing-masing dari mereka mempunyai anggapan yang berbeda-beda tentang penerjemahan gaul itu sendiri. Beberapa dari mereka menganggap diskotik, mall, kafe, dan tempat-tempat nongkrong merupakan tempat yang dapat merepresentasikan kegaulan mereka. Selain tempat gaul untuk kumpul, penampilan tetaplah menjadi modal utama. Dari segi penampilan, biasanya dari jenis atau model yang sedang ngetrend dikalangannya, tentunya semua itu didapat dari tempat-tempat yang cukup mewah, dan dengan harga yang tidak murah juga tentunya. Dengan memakai barang atau aksesoris (dari sendal, celana, t-shirt, hingga tindik) dengan harga yang berkisar 70.000-an keatas bagi meraka juga merupakan suatu penanda. Jika demikian, gaul adalah bentuk perilaku yang mengonsumsi gaya hidup populer.

Menurut Budi Susanto (penghibur-an) gaya hidup adalah sebentuk penampilan (representasi) luar yang menandai identitas tertentu dalam konteks hidup sosial budaya publik. Hal ini dapat kita lihat melalui gaya hidup anak punk dan anak gaul. Masing-masing dari kelompok ini mempunyai cara sendiri untuk menandai identitas mereka baik dari segi penampilan maupun tempat nongkrong.

Jadi, gaul yang merupakan sebuah gaya hidup ini, hanyalah suatu identitas yang terbentuk dari cara individunya dalam mengakses informasi yang tersosialisasikan, melalui informasi yang tersosialisasi inilah kemudian terbentuk sebuah budaya populer dikalangan masyarakat. Ragamnya anggapan gaul dikalangan anak muda disebabkan oleh setiap lapisan sosial mempunyai gaya hidup yang berbeda-beda. Dan dengan tampil modis bukan bertujuan memudahkan komunikasi saja akan tetapi dapat diartikan sebagai simbol identitas. Dimana hal tersebut juga menimbulkan pembatas identitas anatar kelompok.

Dari sini kita bisa bayangkan kenapa anak muda saat ini senang sekali jika disebut “anak gaul” dan mereka juga bersikeras mempertahankan predikat tersebut? Hal ini dikarenakan gaya hidup merupakan simbol prestise yang bisa juga bersifat modis untuk mendapatkan status sosial, gaya hidup gaul yang proses penyebarannya melalui komunikasi massa dan dapat menembus batas kelas-kelas sosal dimasyarakat dan meluber dari komunikasi massa ini melahirkan pola kehidupan yang demokratis, gaya hidup yang tidak lagi menjadi privelese bagi suatu kelompok dalam kelas-kelas sosial. Maka dari itulah dengan bergaya gaul mereka merasa berada pada status kelas sosial yang sama

Gengsi adalah penghormatan yang didapat melalui posisi seseorang dalam masyarakat yang menimbulkan respek/rasa hormat tanpa mengindahkan karakter orang yang menempati kelas sosial tersebut (Patrick Guinness, Harmony and Hierarchy in a Javanese Kampung). Kerena dengan gaya hidup metropolis yang berbau kemewahan inilah kita dapat “membeli status sosial” sebagai contoh seorang wetres akan memberikan pelayanan yang sama kepada setiap pengunjung walaupun ia seorang pejabat, akan tetapi bila pengunjung tersebut memberikan tips yang lebih atau besar, maka ia akan mendapatkan pelayanan yang lebih dari pada pelanggan yang biasa (yang tidak memberi tips) dari wetres tersebut tanpa memandang kedudukannya.

Politik Konsumerisme Dalam Pemasaran

Disamping ingin dianggap gaul, para anak muda menginginkan dirinya untuk tampil menarik didepan publik, hal ini terbangun dari para kapitalis yang menciptakan image-imageyang mengidentifikasi identitas kaum muda melalu media: majalah, televisi termasuk iklan, sinetron dan film yang secara halus menanamkan doktrin bagaimana seharusnya mereka menjadi kaum muda yang termasuk dalam hal perilaku dan gaya hidupnya. Lihat saja film, iklan, sinetron dan pada media masa yang kebanyakan diperankaqn oleh kaum muda untuk menegaskan eksistensi dirinya dimasyarakat. Dengan tampil menarik inilah mereka bisa menambah kepercayaan diri tentunya untuk mendapatkan semua itu dibutukan pengeluaran yang tidak sedikit. Dibawah ini adalah pengeluaran yang harus Dwi(19) keluarkan,

Kaos Radio Aktif Rp. 25.000,-

Celana panjang Embo Rp. 95.000,-

Jaket CL Klarisska Rp. 110.000,-

HP Nokia 6680 Rp.2.900.000,-

Sepatu Power Rp. 120.000,-

Dompet Rock Stuff Rp. 20.000,-

Kaos kaki Rp. 4.000,-

Celana dalam GT-man Rp. 10.000,-

Kaca mata Rp. 20.000,-

Total Rp.3.584.000,-

Dari total pengeluaran ini masih belum termasuk pengeluaran setiap bulan serta kebutuhan lainnya. Lalu berapa jumlah pengeluaran yang anda butuhkan untuk memperoleh penampilan terbaik anda dan pengeluaran setiap bulannya?

Dalam fenomena kepercayaan diri bagi anak muda ini, masing-masing dari mereka mempunyai gaya atau ciri yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh selera dari masing masing individu dalaqm menangkap ikon-ikon dan pencitraan dari media masa, media elektronik, atau melalui event-event yang secara halus mengajarkan cara berpenampilan.

Melalui model remaja yang sedang populer kemudian dijadikan ikon oleh industri sebagai representasi dari label anak muda tersebut yang kemudian diyakini sebagai sebuah style yang populer.

Turner ( )menyebutkan “tubuh sebagai sebuah proyek”, dengan kata lain tubuh sebagai perhatian gaya hidup, coba kita lihat kita lihat strategi pemasaran yang menggunakan SPG (sales promotion girl) yang mereka jalankan pada dasarnya adalah manipulasi gerak tubuh. Dalam kaitannya dengan politk konsumerisme bagai mana cara mempertontonkan diri agar mampu menampilkan citra produk yang dijualnya, Dengan kata lain hal ini untuk menjadi suatu budaya tontonan (a culture of spectacle), tidak terkeciali tubuh kita sendiri (Christina S.Handayani, penghibur-an).

Besarnya peluang bisnis dalam perwujudan konsep cantik dan tampan ini, maka banyak usaha yang bergerak guna menawarkan konsep tersebut seperti halnya salon. Belum penampilan, seperti pablik figur, model, penjaga toko, pramugari lagi banyaknya kesempatan/peluang kerja yang dinilai melalui, sales,dll.

Ruang yang terkelaminkan


Oleh: Anton Subiyanto

Kunci utama membangun kekeluargaan di kampung adalah Srawung. Dalam istilah Indonesianya srawung sama dengan komunikasi. Srawung juga bisa dikategorikan sebagai aktivitas bersama.

Tempat yang biasa untuk srawung adalah tempat-tempat yang mengkondisikan orang orang bertemu dalam keseharian, misal; di warung, tempat biasa untuk mengasuh anak, layatan, atau pada peristiwa peristiwa tertententu; dalam acara formal pertemuan pertemuan warga, gotongroyong , ketika ada peristiwa perkelahian warga, atau ketika ada kecelakaan dan pencurian.

Biasanya aktifitas srawung awalnya merupakan bentuk pembicaraan yang isinya murni berbagi pengalaman namun tidak sedikit yang berkembang kearah bentuk korektif terhadap pantas dan tidaknya prila-prilaku masyarakat. Banyak nilai nilai positif yang didapat dari proses srawung. Namun begitu tidak sedikit masyarakat yang mulai menilai efek srawung yang tidak dalam porsinya justru akan menyulut konflik baru dalam hubungan bermasyarakat. Dengan demikian hal tersebut membuat nilai srawung sendiri dimasyarakat menjadi bergeser. Konotasi srawung menjad dentik dengan hubungan yang berujung pada rerasan atau istilahnya ngarasani.

Kultur masyarakat akan membentuk pola kelompok srawung. Selain itu pola srawung juga akan membentuk jalinan kelompok-kelompok kecil yang ada di masyarakat. Kelompok ibu-ibu atau kelompok perempuan dengan kelompok bapak-bapak atau kelompok laki-laki akan berbeda model srawungnya. Hal tersebut bisa dibedakan dari tempat mereka bertemu, kapan saja mereka melakukan, apa saja yang dibicarakan, serta jalinan keeratannya.

Ruang yang terkelaminkan

Jika mengamati aktivitas gang kampung perkotaan, akan terlihat bagaimana masyarakat menggunakan tempat tersebut sebagai ruang untuk srawung. Memang, sekilas tampak oleh mata, gang kampung adalah sebuah jalan yang menghubungkan tempat satu dangan tempat yang lain dimana disamping kanan kirinya terdapat rumah penduduk yang berderet yang secara geometrik tidak rapi.

Sebagai ruang interaksi sosial, gang juga terikat oleh waktu yang menggambarkan aktifitas yang bermacam-macam jenisnya. Model aktifitas srawung kelompok laki laki dan perempuan juga menandai ruang interaksi tersebut.

Dari hasil pertanyaan kepada tetangga saya. Laki-laki banyak menggunakan tempat seperti warung angkringan, bengkel, pos ronda, pinggir gang untuk nongkrong., dan bahan obrolan mereka identik seputar hobi-hobi dan pekerjaan seperti; memancing, burung klangenan, aktifitas pekerjaan, berita televisi tentang politik, organisasi, modifikasi motor, komunitas musik, pengalaman bertualang yang menantang, serta yang paling terkini perihal hobi menanam tanaman hias, untuk beberapa kelompok. Untuk batasan waktu, mereka tidak begtu terikat dangan norma atau etika kesopanan yang ada, jadi menggunakan waktu hingga larut malampun tidak ada masalah. Sedang perempuan biasanya menggunakan tempat seperti, warung kelontong, dapur, wc umum., dan yang dibcarakan biasanya sekitar kelebihan dan kekurangan suami mereka, tentang anak anaknya, dan juga takjauh dari sekitar gosip tetangga.dan berbeda dengan laki-laki perempuan lebih terikat dengan norma-norma susila yang membatasi ruang dan waktu lingkup bergaul mereka.

Tempat telah menjadi ruang penanda atas prilaku dan peranan perempuan. Seorang remaja akan mendapat konotasi yang tidak baik bila mereka bergaul di pinggir jalan hingga larut malam bersama dengan teman atau rekan lain jenis, apalagi jika ia adalah remaja, gadis atau prawan. Jika didalam sebuah peristiwa layatan, rapat warga, atau perayan-perayaan kampung; peran perempuan diposisikan mengatur konsumsi alias tidak jauh dari dapur umum.

Tempat sebagai ruang yang terikat waktu pun telah di maknakan sebagai ruang yang memiliki kelamin. Makna tersebut bukan muncul dengan sendirinya namun karena hasil dari kesepakatan yang dibuat. Dan kemudian dianut oleh orang banyak untuk mengatur proses hubungan sosial mereka.

Jika menengok realitas, peran-peran perempuan sebenarnya telah menjadi sebuah ritus pembebasan didalam sendi sendi kehidupan.