oleh:Billy Praditya
Adanya budaya “amplop” dalam berumah tangga dirasa cukup memberatkan para keluarga khususnya dari kalangan menengah kebawah. Dalam event-event tertentu seperti pernikahan, khitanan, syukuran dan lain-lain, para keuarga yang mendapatkan undangan atau ucapan rasa syukur dengan sendirinya dalam “hukum sosial” yang ada diwajibkan “membayar” apa yang didapat, menurut status sosialnya, biasanya jumlah minimum yang harus dikeluarkan Rp. 20.000,00.
Pada kelurga di kampung-kampung kebanyakan tidak sedikit yang merasa diberatkan, akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa dikerenakan untuk mempertahankan status sosialnya, walau sering kali bila mengalami kebuntuan dalam masalah ekonominya mereka harus mencari pinjaman dan rata-rata kebanyakan mereka harus mengembalikan beserta bunganya karenakan event-event itu diadakan mendadak atau tidak menentu.
Walau tidak ada aturan baku dalam masyarakat bahwa diharuskan “membayar” , akan tetapi terdapat pemahaman dalam masyarakat bila menerima wajib memberi, bila hal itu di langgar, seperti halnya pelaku krimnal yang mendapatkan hukuman di dalam kehidupan sosial bermasyarakat pun terdapat hukuman sendiri, di sini kelurga mau tidak mau tetap harus rela menerima resikonya. Kebanyakan resiko yang harus ditanggung antara lain jadi bahan gunjingan warga, tidak mendapatkan berita kedua kalinya (dari yang punya acara), status sosialnya menjadi rendah/tidak di akui, dan lain-lain. Hal itu di karenakan yang punya event atau acara mengharapkan dapat mengalami balik modal dan tidak mau menderita kerugian.
Tuesday, September 4, 2007
Budaya Amplop
Posted by anakmuda at 7:37 AM 0 comments
GARA – GARA
“Nis,Anis… sini loe!”, teriak Rara sambil melambai – lambaikan tangannya.
“Entar dong gue haus banget nih! Gue beli es dulu, kalian duluan aja deh, entar gue nyusul”, sahut Anis dengan lantang. Biasa kalau bicara ama Rara harus kerja keras biar mantap.
“Ya, dah yuk Si. Kita duluan aja keburu panas nih!”Ajak Rara.”Ya,ayo deh!”Sahut Desi.
Rara itu termasuk kategori orang yang item, jadi ya nasib kalau jadi orang item dia nggak tahan banget sama yang namanya panas, soalnya dia sadar kalau wanita item itu biasa nyerep panas. He…he…he.
“Ra, kok tumben ya, di sini sepi! Tanya Desi sambil memencet-mencet hp- nya.”Ya bagus kan, kalo sepi itu enak nggak rame!
“Jawab Rara.”Siapa bilang kalo sepi itu rame, yang ada ya, sepi itu nggak rame, tolol!!!” Lanjut Desi.
“Ah, yang penting you know what I mean, gitu!” Bela Rara. Emang Rara itu termasuk orang yang tergolong pinter tapi dia itu nggak sombong soal kepandaiannya.
“Rara…Desi…ada kabar bagus, pokoknya sip banget!”Terocos Anis dengan girang.
“Apaan sih, ada apaan kok seneng banget…pokoknya seneng.”Tambah Anis tanpa memberi jawaban.”Iya,nih ada apaan sih to the point aja deh,”desak Rara.”Iya,iya tau nggak gue tadi ketemu sang pangeran gue,dia tadi nyapa gue aduh senengnya”,jelas Anis
“Pasti yang kamu maksud itu Tomi kan”, tebak Rara.
“Iya dong emang siapa lagikalo bukan Tomi si Imut”,jawab Anis.
“Eh, Si gimana kabarnya Putra. Kamu dah PDKT ma do’I belom?”Tanya Anis”ya,inikan gue baru proses,makanya do’ain aja deh!”,terang Desi.So,pasti dong loe kan sobat gue pasti gue do’ain”,hibur Rara dengan sok perhatian.
Tiba-tiba hp Desi bergetar,oh ada telepon,telepon dari Putra.
“Eh,teman-teman entar dulu ya ,gue ada telepon!”,kata Desi yang kemudian mengangkatnya.
“Ra….loe dah punya gebetan belom?”,Tanya Anis
“Belom nih gue lagi males sama cowok nih!”,gerutu Rara.
Ternyata sudah biasa “cowok”sebagai tpik ulama dalam pembicaraan cewek.tak lama kemudian Desi menutup hp nya.
“Gimana sukses nggak?”, Tanya Rara.
“Sukses besar dia ngajak ketemuan sama gue!”,jelas Desi dengan riang.”Ah yang benar kapan Si?”,Tanya Anis kemudian.
“Besok malem minggu,karena gue lagi seneng gimana kalo besok sore kalian gue traktir.Oh,iya Pupu mana?”,Tanya Desi.
“Nggak tau paling di rumah,yuk kita cari,Si!”,ajak Anis
“Kamu mau ikut nggak Ra?”,Tanya Desi.
“Nggak deh,gue nunggu di sini aja!”,jelas Rara.
Kemusian Desi dan anis langsung pergi ke rumah Pupu.Rumah Pupu adalah rumah yang paling dekat dengan tongkrongan mereka.dan kalo nggak ada kerjaan pasti Rara langsung nyanyi.kali ini Rara nyanyi lagunya Flanella.
“Demi aku yang pernah ada di hatimu,pergi saja dengan kekasihmu yang baru…”,Rara langsung berhenti menyanyi ketika melihat Adin dan Oca lewat.
“Ih,dasar genit,cewek centhil”,ceplos Rara. Memang empat sahabat itu amat sangat benci ma Andi dan Oca karena mereka berdua suka sekali ganggu cowok-cowok yang disukai oleh empat sahabat itu.
“Siapa Ra,yang ganjen,pasti Andin ma Oca ya!”,tebak Pupu yang tiba-tiba berada di samping Rara.
“So,pasti siapa lagi kalau bukan si Andin ma Oca, dasar ratu ganjen !”,terang Rara.
“Oh,iya Pu besok kamu ke warung “cak Indro”ya gue mau traktir loe soalnya gue bahagia banget karena gue berhasil dapetin Putra”,ajak Desi.
“Beneran nih okey deh, pasti gue besok datang!”, jawab Pupu. Terdengar bunyi hp kali ini bukan punya Desi tapi punya Pupu.
“ Halo, o, iya sebentar ya yank aku kesana “, terdangar suara Pupu yang samar.
“ Dari siapa, Pu? “, Tanya Rara dengan curiga.
“ Oh, ini dari…mami, iya dari mami gue harus pulang ya, dah temen-temen “, jawab Pupu yang gelisah kemudian pergi.
“ Gue rasa ada yang disembunyikan dari kita nih! “, tebak Anis.
“ Gue juga gitu “, tambah Desi.
“Aduh kita harus positif thinking aja ngapa sih! “, bela Rara. Karena kurang asyik mereka memutuskan untuk pulang.
***
Sore ini Desi berjanji untuk mentraktir para sobatnya. Rara dan Anis udah ada di sana, kurang Pupu dia belom juga kelihatan. “Mana sih! Itu anak, dasar Pupu”. Gerutu Rara.
“ Iya nih, gue baru nelpon rumahnya “, kata Desi.
Kemudian Desi mencoba menghubungi nomor rumah Pupu.
“ Gimana Des “, Tanya Anis? Kata nyokapnya dia pergi ma Andi “, jelas Desi. “ Hus, jangan keras-keras untung gak ketahuan ma Rara “, perintah anis.
Mereka tau kalo Rara juga suka ma Andi,jadi mereka menyembunyikannya agar tidak ketahuan ama Rara.
“Ya,dah kita makan dulu aja, soalnya Pupu nggak bisa dating!”,ungkap Desi. Akhirnya mereka bertiga makan tanpa Pupu.
“Oh,ya besok kan ultahnya Pupu”,ingat anis.
“O…iya gue hamper aja lupa!”,Kata Rara.
“Iya nih malahan telah selesai makan,kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing.
Sampai di rumah Rara ingat sesuatu lalu dia menelepon Pupu. Rara bermaksud mengajak Pupu untuk beli buku besok siang dan akhirnya Pupu setuju.
***
“Aduh,dah jam 1(satu) nih, guekan janjian ma Pupu!”,terocos Rara yang kemudian mengambil jaketnya.kemudian Rara pergi ke rumah Pupu.
“Pupu…Pupu”, panggil Rara.
“Emang ada apa Ra?”,Tanya mami Pupu.
“Oh,nggak papa,ya dah tante saya permisi dulu !”,pamit Rara.
Rara kemudian pergi dengan sebel,dia lalu menceritakan semua itu pada Anis dan Desi.Mereka berdua berusaha untuk menghibur Pupu namun Rara tetap kesal pada Pupu.
“Ra,nantikan kita ada rencana buat ultah Pupu,kok kamu malah marah sih!”,desak Desi.
“Ah,persetan ma Pupu,dia dah bohong ma kita,gue tau kemarin itu yang nelepon bukan nyokapnya tapi Andi.Padahal kita pernah janji nggak akan kayak gini gara-gara cowok “, semprotan Rara kemudian pergi.Memang akhir-akhir ini Pupu agak beda,dia lebih mentingin Andi dari pada 3 sobatnya itu.Rara yang nggak suka ma sikap Pupu membuat yang bertujuan mau minta maaf.Pokoknya persahabatan mereka baru dilanda masalah.
***
Rara berbaring di kamarnya dengan resah. Dia tatap kalender tanggalannya, 10 Januari,hari ini adalah ultah sobatnya, Pupu.
Pupu,Desi dan Anis adalah sobatnya sejak kecil, namun kali ini tidak!!! Rara kesal banget ma Pupu, soalnya dia ma Pupu dah janjian mau beli buku bersama tetapi Pupu malah pergi berdua ma Andi. Padahal Pupu tau kalo Rara juga suka ma Andi.
“Dasar ganjen!”,teriak Rara. Dia teringat saat-saat indah bersama Pupu,Desi dan Anis ada di situ. Tapi Rara tetap kesal ma Pupu.
“Ra…Rara”,terdengar suar kak Sandra memanggil.
“Apaan sih!,Tanya Rara singkat .
“Ada telepon dari Pupu!”,jawab kak Sandra.
“Ngomong aja nggak ada”,printah Rara”,Gue lagi sebel!!.Tak lama kemudian kak Sandra masuk ke kamar Rara
“Eh,loe ada masalah apa sih,eh dasar anak kecil masih suka musuhan,emang apa yang loe biasa lakuin tanpa seorang Pupu.Loekan sebentar-sebentar Pupu,dikit-dikit Pupu!”, ceramahnya.
“Ah,diem loe gue nih baru kesal banget ma dia!”,jawab Rara.
“Ya,dah mendingan loe temenin gue ke took kaset,yuk”,ajak kak Sandra”,ayodong nggak usah bingug!”.
“Oke deh kak,gue ganti baju dulu”,jawab Rara.
Rara kemudian mengantar kak Sandra ke took kaset.
Setelah sampai kak Sandra langsung memilih kaset yang akan dibeli. Sambil menunggu kak Sandra Rara juga ikut-ikutan melihat-lihat kaset.Oh, ada kaset Ungu kesukaan Pupu. Sebenarnya dia berniat untuk membeli kaset itu.
“Ra…ayo pulang”,ajak kak Sandra.
Spontan tantang Rara mengambil kaset itu dia berencana membeli kaset itu untuk hadiah ulang tahun Pupu.
Buat Siapa,Ra”, Tanya kak Sandra.
“Ada titipan kok,kak!”,jawab Rara dengan senyuman manisnya.
Setelah sampai rumah dia sulap kaset itu menjadi sebuah kado yang cantik. Lalu dia langsung pergi ke rumah Pupu, ternyata di sana sudah ada Desi dan Anis.langsung Rara memegang tangan Pupu.
“Pu…maafin gue ya!”,bujuk Rara.
“Ah,nggak papa gue juga minta maaf ma loe,gue janji nggak akan ngulangin hal yang sama seperti ini lagi!”.
Kemudian Pupu dan Rara saling berpelukan.Melihat kejadian itu Desi dan Anis tersenyum lega karena akhirnya semua masalah yang dihadapi mereka akhirnya terselesaikan. Dan mereka sadar bahwa persahabatan itu indah!.
OLEH : RATIH.M.DEWI
Posted by anakmuda at 7:35 AM 0 comments
Bok
Sering kita melihat bangunan permanent. Ia mirip dengan bangku panjang, yang dibuat dari batu-batu yang disemen. Biasanya dibangun diatas saluran air atau yang sering kita sebut selokan. Mungkin bangunan itu adalah bok
Warga kampong membangun bok dengan biaya dari kas kampung. Bok berguna untuk menghindari adanya orang yang tercebur di selokan. Karena fungsi bok dibangun untuk memberi tanda adanya selokan.
Disamping itu ada juga yang menjadikan bok sebagai tanda batas wilayah, misalnya di kampung Juminahan. Dikarenakan Juminahan dibagi dua wilayah, yaitu Juminahan barat atau ledok Juminahan dan Juminahn timur. “Untuk itu dibangun bok di ujung gang masuk Juminahan barat, selain sebagai tanda adanya saluran air, juga dipakai sebagai tanda batas wilayah.” Kata Harno, warga Juminahan barat yang saya temui di sanggar watu Lunyu.
Sebenarnya fungsi bok pada dasarnya sama. Mungkin karena perkembangan jaman, di kampung sekitar jalan Sugeng Jeroni, ada yang digunakan untuk dibuat taman, didirikan warung, bahkan dibangun sebuah gardu.
Bok yang semula dibangun untuk memberi tanda adanya selokan, dijadikan tempat berkumpul warga kampong. Dari anak-anak hingga orang tua. Kata Edi, warga setempat.
Sampai aku sendiri merasa heran. Kenapa selalu saja ada orang yang nongkrong di bok. Apalagi yang di sekitarnya, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang bisa dijadikan tempat berteduh.
Dari pagi hingga malam terus saja berganti-ganti orang seperti sudah ada jadwal untuk mereka dalam menggunakan bok. Misalnya saja, di pagi hari digunakan warga untuk ngobrol sehabis sholat shubuh. Atau di pagi untuk istirahat orang yang sehabis olahraga. Setelah hari agak siang, terkadang ada pedagang sayur, buah, dan nasi bungkus menggunakan bok untuk menjual dagangannya. Kalau di siang hari biasanya hanya ada beberapa orang. Mereka yang tidak bekerja atau pengangguran. Ada juga yang istirahat karena kecapaian bekerja. Sore hari, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang tengah menggosip sembari menunggu anak-anaknya bermain di sekitar bok sedangkan dimalam hari adalah jamnya anak laki-laki, karena bagi kebanyakan laki-laki bok menjadi tempat yang nyaman untuk minum-minum, ngobrol, dan melihat para wanita yang melintas jalan.
Untuk itu mereka tidak sembarangan memilih tempat nongkrong. Mereka lebih memilih bok yang berada di pinggir jalan besar. Selain ramai, suasananya menyenangkan. Seperti kata Heru, “ha…bosen nek neng njero kampong terus suasanane meng ngono-ngono wae.” ( haa.. bosan kalau di dalam kampong, suasananya Cuma gitu-gitu aja ).
Tidak jarang pula, ada yang membawa wanita-wanita, untuk diajak nongkrong. Biasanya wanita-wanita nakal atau yang sering mereka sebut wanit “gondolan”. Untuk menemani mereka minum-minuman keras.
Hari semakin larut. Suasana tambah ramai dan seru. Diisi dengan humor-humor kampung para laki-laki untuk untuk menarik perhatian wanita-wanita itu.
Terkadang, karena sudah terlalu mabuk terjadi perkelahian diantara mereka sendiri. Bahkan terjadi tawuran dengan warga kampung yang lain, ataupun antar gank. Karena bok yang mereka tempati dijadikan sebagai wilayah kekuasaan. “Untuk itu mereka sering mengklaim orang yang lewat di jalan dikatakan orang lunak, sedangkan orang yang berada di belakang bok adalah orang dalam.” Ungkap Yoyon (nama samaran ). Warga setempat.
Lain halnya dengan Haki, warga setempat yang tidak suka nongkrong di bok. Dia lebih senang berada dirumah teman atau di masjidnya. Bukannya tidak suka dengan orang-orang tersebut, tetapi lebih dikarenakan tidak suka mabok dan main judi. Yang lebih parah lagi, jadi sungkan untk lewat di bok, sehingga harus melewati jalan lain untuk menghindari lewat bok.
Posted by anakmuda at 7:27 AM 0 comments
JAFF
Acara Film Scereening and discussion yang mesih dalam rangkaian Jogja-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL 2007, di Taman Budaya Yogyakarta (31/07/07), dari 09.00 AM-03.00PM ini, mendapatkan perhatian yang sangat besar sekali dari anak muda Jogja maupun luar Jogja, khususnya bagi kalangan filmmaker.
Film yang dipitar antara lain, “KITORANG PUNYA MAMA” menceritakan tentang kurangnya fasilitas kesehatan di NTT yang menyebapkan tingginya angka kematian dalam persalinan, “AIR MATA IBU” adalah kisah perjuangan aktifis perempuan di Papua dalam kesetaraan gender, “DREAMLAND” menceritakan perjuangan warga dalam menuntut hak atas tanah mereka yang dirusak oleh PT Indorayon yang pada saat itu diabaikan oleh pemerintah, “TRILOGI POLITIK” menggambarkan sosok Indonesia baik dari bahasa, suku, adat, budaya, dll,”BULAN SETENGAH SETENGAH DI ATAS ACEH” menceritakan masyarakat Aceh sesudah bencana tsunami yaitu, dalam masalah penyaluran bantuan dari pemerintah.
Setelah pemutaran film, kemudian acara dilanjutka dengan disssion dengan pembicara Lexi Rambadetta (Offstream), Dian Herdiany (Kampung Halaman), Emanuel Subangun (Film Critik), dan moderator Tonny Trimarsanto, dengan pokok bahasan “DIASPORA WITNESS CINEMA”.
(BP, TWP)
Posted by anakmuda at 7:21 AM 0 comments
Kaos dan Identitas
RUBLIK PEMUDA
Jika kita berbicara tentang kaos tentunya kita akan merujuk pada fashion (gaya, mode), mengalirnya fashion di pusat-pusat perbelanjaan memberikan pengaruh yang besar sekali dalam memacu kecepatan produksi dan konsumsi masyarakat. Seperti halnya kaos, bukan hanya gambarnya yang berfaritif, akan tetapi hingga pada model kaos yang juga semakin berfariasi. Bagi anak muda kebanyakan kaos merupakan fashion sehari-hari tentunya jika bandingkan dengan baju (kemeja). Disamping mereka merasa nyaman, kaos dapat juga memberikan kesan santai tetapi tetap gagah.
Bagi anak muda sendiri pemikiran tentang kaos tidak berhenti pada rasa nyaman dan kesan santai saja. Seperti halnya, Jawa, dibaca Jawak (23) dari komunitas sketbord gedung pusat yang kesehariannya lebih menyukai memakai kaos dari pada memakai baju (kemeja), dia mengatakan “walaupun kaos bukan satu-satunya ikon anak sketers, akan tetapi kita bisa menilai apakah dia anak sketers dari tampilan kaosnya.” Memang fashion anak sketers selain kaos, masih mempunyai faktor pendukung lainnya, seperti halnya celana lebar, musik, dan sepatu, akan tetapi semua itu hanya untuk memberikan nilai tambah dalam penumbuhan image anak sketers. Seperti kata Jawa, untuk mengidentifikasi kita bisa melihat dari kaosnya dengan memperhatikan disaign, kombinasi warna, dan mereknya. Adapun yang dimaksud adalah desaign simpel dalam arti tidak ramit, kombinasi warna tidak jauh dari warna hitam, hijau, coklat, biru, dan merah (dengan catatan tampil mecing) sedangkan merek, biasanya mereka memakai merek lokal, seperti 347, Hello sketbord, Oval Risert, dll.
Menurut Jawa, kaos diartikan sebagai identitas anak muda. Seperti pada teman-teman sketersnya, dengan menirukan fashion atau ikon sketers seperti Paul ro Driquez, Pjladd, dll. Dapat memberikan sugesti pada sketers untuk semakin menambah kempuan dalam trik berseluncur, dan masing-masing dari mereka mempunyai gaya sendiri-sendiri akan tetapi tetap tidak terlepas dari identitas anak sketers.
Dari keterangan Jawa, masyarakat khususnya anak muda memang dikondisikan untuk mengkonsumsi trend yang kemudian dijadikan sebagai identitas, dan biasanya mereka dapatkan dari teman-teman, video, majalah, dan situs internet. Pada anak skaters, kebanyakan dari mereka mendapatkannya dari majalah, seperti majalah Trend Sword, Lokal Happen, Skatboard mad, The Skatboard Directory, dsb.
Dari pernyataan diatas, penanaman image seperti yang dikatakan Jawa memang sengaja dibuat untuk dikonsumsi, dengan memakai ikon atau model sebagai media promosi maka, masyarakat dituntun untuk mengadopsi trend atau gaya yang ditawarkan melalui pencitraan. Dimas Baruna Putra (18) yang biasa dipanggil Dimas mengatakan bahwa ”untuk saat ini trend yang diadopsi oleh anak muda didapat dari pengruh luar”. Adanya internet, Televisi, dan media massa membawa pengaruh besar pada masyarakat untuk memilih trend seperti apa yang mereka anut.
Pencitraan yang sengaja dibangun melalui kaos pada dasarnya memang sengaja difungsikan sebagai media penyeragaman dan penumbuhan identitas, seperti halnya yang terjadi pada anak gank, kampanye pemilu, dll. Dengan menyeragamkan baik model kaos, design, atau warna kaos, mereka dapat merasakan adanya keterikatan satu sama lain yang menjadikan mereka merasa menjadi bagian dari komunitas serta, yang tidak kalah pentingnya adalah penanaman eksisitensi dari indifidu itu sendiri yang menyebabkan ia mendapat pengakuan dari masyarakat (diluar komunitas). Bagi mereka, status sosial bukanlah sesuatu masalah ketika mereka membawa identitas yang sama, dan dengan sendirinya dengan adanya penyeragaman maka, kesenjangan social melalui penampilan akan hilang karena semuam tampak sama.
Penulis: Tri, dan Billy
Posted by anakmuda at 7:11 AM 0 comments
MALL DAN POLITIK RUANG PUBLIK
Rubrik Kota
Oleh: Tri, Billy, dan Fajar
Mal jika dibandingkan dengan toko atau pasar tradisional lainnya, tentunya mall adalah pasar yang paling modern, dikarenakan mal mempunyai system perbelanjaan yang lebih mutakhir, secara terus menerus menyuguhkan pelanggan dengan rangkaian produk, pelayanan, suasana serta lingkukan yang selalu memanjakan. Dengan adanya ketentuan bebas keluar masuk mall, maka mall dapat juga diartikan sebagai “ruang publik”. Namun, jika ruang publik cenderung dibangun oleh representasi dan tindakan (action) yang tanpa adanya pemahaman akan fungsi dari ruang publik itu sendiri, maka akan cenderung menghasilkan budaya politik populer, yaitu budaya politik yang didalamnya ada ruang publik. F. Budi Hardiman (Rupblik Tanpa Ruang Publik, IRE PRESS, Agustus 2005) menuliskan, politik ruang publik selain bersifat iklusif, egaliter dan bebas tekan, ciri-ciri lainnya adalah pluralisme, multikulturalisme dan toleransi. Lantas bagaimanakah masyarakat menerjemahkaan mall dan politik ruang publik?
Menurut Arsita Iswardhani (21) seorang mahasiswi Komunikasi UGM, yang biasa dipanggil Sita “ mall adalah salah satu ruang public, alasan dibuatnya karena untuk menghadirkan suasana placing hiburan yang baru, disamping mereka bisa mendapat hiburan baru, mereka juga bisa berbelanja untuk memenuhi kebutuhan, bermain serta nongkrong. Menurut Nendra Setiawan (18 ), Mahasiswa Akakom, konsumernya mayoritas dari kalangan menengah keatas, dan menjadikan suatu image tersendiri. bagi kalangan kebawah, mall memiliki fungsi tersendiri yaitu sebatas dapat diakses dengan bebas, akan tetapi menurut Agus Nur Prabowo (30), aktifis Nirlaba, keberadaannya tetap tersekmentasikan. Hal ini diperkuat oleh dengan menceritakan pengalaman yang diperoleh dari salah satu kenalannya yang bernama Wawan. “belum lama ini, teman bule (orang luar negri) ku mengajak Wawan untuk nonton acara di Galeria mall, akan tetapi sesampainya di sana, Wawan yang pada dasarnya seorang anak jalanan itu merasa tidak nyaman, ia merasa minder (malu) ketika ia berada di Galeria mall “ kata Agus. Memang menurut Agus, mall bersifat umum, siapa saja bisa mengakses akan tetapi, mall bukanlah murni ruang public ia adalah semi ruang public.Pada dasarnya, masyarakat sangat membutuhkan adanya ruang publik, namun jika kita membandingkan ruang publik yang ada di Indonesia dengan yang ada di Cina, Korea selatan atau di negara berkembang lainnya, tentunya akan terlihat berbeda sekali misalnya, dari segi ketertipannya saja sangat disiplin dalam menaati peraturan.
“Memang harga jual produk di mall relative lebih tinggi dari pada harga jual produk di luaran mall, hal ini menurut Agus, yang dijual bukan produknya melainkan image serta citra dan yang lebih penting lagi pihak swasta lebih mengedepankan kepuasan pengunjung dalam arti pengunjung memang dimanjakan. Menurut Sita, berdirinya mall memang dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Dari segi bisnis, privatisasi ruang publik memang sengaja dibentuk oleh investor, disamping untuk menumbuhkan image sehingga menjadikannya sebuah pasar potensial yang orientasinya adalah keuntungan, tambah Tovic Dwi Raharjo (24), Pustakawan. Menurut Agus dan Tovic, disisi lain pemerintah diuntungkan melalui perijinan dan pajak, sedangkan pengguna atau konsumen sangat diuntungkan karena akses menjadi singkat, dan tentunya dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Bagi pemerintah yang memang bertanggung jawab atas ruang publik itu sendiri menurut Sita cukup dengan membuat peraturan saja, selebihnya tinggal menertibkan aturan-aturan yang sudah dibuatnya, jadi status pemerintah adalah suatu badan yang menjadi pusat kontrol mengenai pengadaan ruang publik.“Wong nak ra di batesi nggo aturan, mengko meng nuruti napsu wae” dalam bahasa Jawa yang artinya kalau tidak ada peraturan, nanti Cuma menuruti egonya saja kata Tovic. “Birocrat is not democrative” kata Sita, seharusnya system birokrasi pemerintah jangan hanya menguntungkan kaum pemodal saja.
Menurut Agus, dalam pengelolaannya, ruang publik seharusnya menjadi tanggung jawab dari pemerintah, namun pemerintah sepertinya dalam pengelolan ruang publik kurang serius untuk menanganinya, Lain lagi pendapat dengan Nendra, pemerintah dirasa tidak memperhatikan warganya. Hal ini dapat dilihat melalui bentuk ruang publiknya, antara yang dikelola pemerintahan sendiri dengan ruang publik yang diswastanisasikan atau ditangani pihak swasta.Walaupun menurut Sita, sebenarnya siapa yang mengelola itu bukanlah suatu masalah, akan tetapi peran pemerintah kemudian ada pada pengaturan untuk pengadaan ruang publik oleh swasta.
Posted by anakmuda at 7:07 AM 0 comments