
coba sebutkan nama tokoh nasionalis berikut
urut dari kiri ke kanan!
Monday, May 4, 2009
hari pendidikan nasional indonesia
2 MEI 2009
Posted by anakmuda at 3:04 AM 0 comments
Monday, April 20, 2009
PERTANYAAN YANG MENGGANGGU PIKIRAN
Berawal dari sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun susah untuk menjawabnya. Suatu ketika, seseorang mendatangi saya dan bertanya, “untuk apa seseorang menjadi mahasiswa?”. Tentu setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda dalam menanggapi pertanyaan ini. Begitu juga dengan saya, yang terlalu bingung untuk menjawabnya. Mungkin banyak alasan dan beragam jawaban yang dapat saya lontarkan, namun tak jua memuaskan hati saya sendiri.
Sebuah rasan-rasan dari seorang teman yang kebetulan tidak dapat menyelesaikan kuliahnya, cukup menyita pikiran saya selama ini dengan pertanyaan yang sempat ia lontarkan. Belum selesai saya menjawab pertanyaan yang pertama, ia menghujani lagi dengan pertanyaan yang serupa. Layaknya seorang yang sedang melakukan wawancara saat melamar pekerjaan.
Saya akan sedikit menceritakan bagaimana pertanyaan itu banyak menyita pikiran. Sampai saat ini pun saya belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan. Mungkin dengan cerita ini, kita dapat berefleksi lebih jauh dan membantu saya untuk menemukan jawaban yang menarik dan cukup bisa diterima.
Pertanyaan itu seakan menghakimi pikiran saya. Dengan sangat jelas masih terngiang di telinga dan melekat di pikiran. Mengapa kita harus susah-susah menjadi mahasiswa? Bukankah dengan membaca buku saja sudah cukup mendapat wawasan luas laiknya mahasiswa. Tentu hal ini benar, walaupun dikatakan dengan nada guyonan orang kampung, saat itu. Selama berhari-hari aku membenarkan pernyataan itu. Bahkan sampai sekarang pun masih. Kemudian apa gunannya saya kuliah? Seakan-akan saya sudah tidak percaya lagi terhadap institusi yang bernama universitas. Karena harus berkompetisi dengan ratusan bahkan ribuan orang untuk mendapatkan kursi di bangku kuliah. Setelah itu, masih di bebani dengan biaya yang mahal, kadang dapat mencekik leher kita atu memaksa kita untuk mengencangkan ikat pinggang karena harus mengurangi jatah makan demi membayar kuliah.
Terbesit dalam pikiran untuk menjwabab pertanyaan tadi. Dengan kuliah, saya akan mendapat banyak teman mahasiswa yang mugkin dapat berguna dalam hidup saya. Karena semakin banyak jaringan, semakin mudah mengakses sesuatu. Tapi hal ini pun terpatahkan dengan fakta bahwa sebelum kuliah pun saya sudah berteman dengan banyak mahasiswa. Kenapa harus mengeluarkan biaya mahal kalau hanya ingin mempunyai teman mahasiswa. Oh, mungkin kuliah adalah tempat menimba ilmu demi mewujudkan cita-cita. Dasar tolol, jawaban ini sudah kamu lontarkan tadi, itu kan jawaban pertama kali yang terbesit dalam otakmu. Brengsek! Bagaimana saya dapat menghindar dari pertanyaan-pertanyaan ini. Aku takut akan putus asa dan meninggalkan bangku kuliah karena tidak dapat menjawab pertanyaan ini.
Siapa yang dapat membantu saya dalam menjawab pertanyaan ini. Semoga datang sang penyelamat yang membawa sebuah pencerahan. Agar saya dapat menyelesaikan kuliah dengan sempurna tanpa harus bimbang. Terimakasih….
Jantan Putra Bangsa
Posted by anakmuda at 11:15 AM 0 comments
TRAGEDI SUKARNO: DARI KUDETA HINGGA KEMATIANNYA
Judul buku : TRAGEDI SUKARNO: DARI KUDETA HINGGA KEMATIANNYA
Penulis : Reni Nuryanti
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xiv + 182 halaman
Tragedi Sukarno bukanlah tragedi yang menimpa dirinya sendiri dan keluarganya. Tetapi juga tragedi bangsa Indonesia dan bahkan tragedi dunia ketiga. Peralihan kekuasaan tahun 1965 sampai lima tahun kemudian, telah melahirkan peristiwa mengenaskan dalam sejarah bangsa ini yakni terbunuhnya setengah juta orang dalam suasana hiruk-pikuk politik awal Orde Baru. Tampaknya dirasa tidak cukup korban sebanyak itu, maka 10 ribu orang dikirim ke kamp kerja paksa di Pulau Buru tahun 1969. dari segi percaturan politik dunia, kubu non blok yang semula diharapkan sebagai penyeimbang antara blok Barat dan blok Timur kehilangan tokohnya yang terkemuka tahun 1970 yang bahkan beberapa tahun sebelumnya sudah tersingkir dari panggung politik.
Adalah suatu tragedi bila seseorang yang menduduki jabatan presiden, yang merupakan jabatan tertinggi di suatu negara sama sekali tidak berdaya mencegah pembunuhan sesama anak bangsa dalam skala luar biasa. Ia berpidato. Masih mendingan kalau orang tertidur ketika seorang pejabat negara berbicara, tetapi sangat ironis bila pidato Presiden tidak bisa dikutip atau disiarkan media massa. Sukarno berseru, bahwa terjadi pembunuhan massal di Jawa Timur. Ia ingin pembantaian tersebut dihentikan segera. Tetapi itu tidak digubris oleh pihak keamanan yang tidak lagi di bawah kendalinya. Pers juga tidak memberitakan sepenuhnya gelombang pembunuhan tersebut.
Merupakan suatu tragedi bila perlakuan terhadap mantan Presiden lebih buruk daripada pihak kolonial. Ketika Sukarno dibuang ke Ende Flores dan Bengkulu, ia tidak dilarang berhubungan dengan masyarakat setempat. Namun setelah ia tidak lagi jadi presiden, panglima daerah militer Siliwangi, HR Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat Jawa Barat mengunjungi atau dikunjungi Sukarno. Bahkan ketika Sukarno memeriksakan gigi kepada dokter Oei, ia harus berkunjung ke rumah itu bagaikan memasuki cottage yang disewakan jam-jaman untuk masuk. Mobil tuan rumah dikeluarkan. Mobil yang membawa Sukarno masuk ke garasi, pintu ditutup dan Sukarno keluar dari kendaraan menuju ke ruang periksa gigi. Hal itu semata-mata dilakukan agar Sukarno tidak bertemu dengan rakyat.
Ironi ini sangat menusuk hati, bila dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan kepada Jenderal Besar Soeharto ketika ia sakit. Ia diperlakukan sebagai raja, kediamannya di Cendana disulap menjadi semacam rumah sakit mini dengan peralatan canggih. Ketika diperiksa di Rumah Sakit Pertamina, ia diperiksa oleh belasan dokter ahli. Para cecunguk Orde Baru pun berdatangan membesuknya tanpa ada rasa takut apalagi malu. Sedangkan Sukarno terbaring kesepian, tanpa obat paten, tanpa ada pejabat yang menjenguknya.
Ketika akan diperiksa oleh pengadilan, Soeharto menunjukkan surat keterangan sakit. Walaupun sakit, ia masih bisa bepergian ke makam istrinya atau menyaksikan pernikahan cucunya bahkan menemui tokoh regional seperti Lee Kuan Yew atau Mahathir Mohammad. Namun tidak ada alasan sakit bagi Sukarno untuk tidak diperiksa tim Kopkamtib. Dalam kondisi susah untuk tidur, duduk dan berdiri, ia masih ditanya apakah ia terlibat dalam Gerakan 30 September.
Dalam kondisi amat parah pun, penanganan terhadap Sukarno hanya dilakukan seadanya. Bahkan, yang paling telak, wartawan sama sekali tidak diizinkan untuk melihat langsung keadaan Sukarno. Maka, tidak heran, rakyat hanya menduga-duga keadaan Sukarno. Bahkan mereka hanya mampu melongokan mulut, saat mendengar berita, Sukarno meninggal dunia.
Penghormatan terakhir sebagai Presiden juga tidak diterima Sukarno. Ketika Soeharto menemui ajalnya tidak kurang dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono menjadi inspektur upacara pada pemakamannya di Solo. Ratusan wartawan meliput acara tersebut. Namun tatkala mantan presiden pertama menghembuskan nafas terakhir, Soeharto hanya melepas sampai Wisma Yaso, Jakarta. Acara pemakaman di Blitar dipimpin oleh Jenderal Panggabean.
Pada bulan Juni 1970 terjadi dua peristiwa penting. 21 Juni Sukarno wafat, tiga minggu sebelumnya tanggal 1 Juni 1970 peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang Kopkamtib. Sejarawan Perancis, Jacques Leclerc, menyatakan bahwa Sukarno telah dibunuh dua kali. Tetapi menurut Aswi Warman Adam, Sukarno telah dibunuh berkali-kali. Namun pemikirannya tidak pernah mati. Sebagai manusia ia tidak terlepas dari kekurangan, namun kecintaannya kepada bangsa ini sulit ditandingi.
Saat bangsa ini diterpa disintegrasi maka kian terasa pentingnya Pancasila yang digagas Sukarno pada 1 Juni 1945. ketika hutang membengkak, modal dan kekuatan asing semakin menyeruak ke jantung ekonomi kita, orang semakin terkenang pada Trisakti Sukarno (Bebas dalam Politik, Berdikari dalam bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Budaya).
Ketika Soeharto wafat, ribuan iklan duka cita menhiasi media cetak dan elektronik selama berhari-hari. Tetapi tatkala Sukarno meninggal, hanya lima iklan yang terpampang di seluruh Indonesia.
Itulah sepercik kisah tentang tragedi Sukarno dari kudeta sampai kematiannya. Bagaimana sesungguhnya kehidupan Sukarno pada masa akhir hidupnya dapat dibaca dalam buku ini. Buku ini layak dibaca untuk mengerti betapa ironisnya bangsa ini memperlakukan mantan Presiden pertama dengan begitu kejamnya. Selain itu, data-data dan beberapa foto ikut menghiasi halaman buku ini, sehingga kita dapat melihatnya dengan jelas peristiwa demi peristiwa pada akhir hidup Sukarno beserta pemakamannya.
Jantan Putra Bangsa
Posted by anakmuda at 11:06 AM 0 comments
Wednesday, March 25, 2009

one stop shopping
Kita adalah tidak dalam situasi masyarakat yang berlebihan atau berkecukupan tetapi dalam kondisi masyarakat pertumbuhan. Dimana selalu menawarkan dua output antara makmur atau miskin. Makmur bagi yang diuntungkan dan miskin bagi yang terpinggirkan.
Sekarang ini era dimana kita sering membeli bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya(hidup), demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajang kompetisi calon bintang, gaya hidup selebrity, admosfer metropolis, dst. Yang di tawarkan mereka adalah bukan nilai guna tapi citra dan gaya bagi pemakainya. Berguna atau tidak-diperlukan atau tidak menjadi tidak penting oleh kita.
Yang kemudian kita percaya untuk dibeli adalah makna yang melekat di barang, sehingga kita tidak pernah mampu merasa terpenuhi kebutuhannya. Kita menjadi tidak pernah terpuaskan. Kita selalu menjadi tukang boros, mengkonsumsi tiada henti, rakus dan serakah. Bukankah kemudian kondisi ini mengkonstruk kesadaran palsu. Seakan akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin.
Meski kemudian tersadarkan akan kuatnya pengaruh media namun kita tidak pernah bisa menghentikan prilaku ini. Apalagi beberapa meter dimana kita tinggal telah dibangun ruang yang menawarkan layanan one stop shopping. Meraka adalah mall, supermarket, ruko-ruko. Ingat bahwa disana bukan hanya menawarkan barang untuk dibeli, namun juga jasa manusia, serta hubungan antar manusia.
Jaman edan ora edan ora keduman. Dalam situasi ini semoga kita selalu tetep sabar lan waspada.
Posted by anakmuda at 11:50 AM 0 comments
Wednesday, January 28, 2009
BADUT

BADUT!
Dut badut badut badut badut badut badut
Jaman sekarang
Mong omong omong omong omong omong omong omong
Sembarang
Ditelevisi
Dikoran koran
Didalam radio
Diatas mimbar
Nggut manggut manggut manggut manggut manggut manggut
Seperti badut
Ya iya iya iya iya iya iya
Ya iya iya
Ho ho ho!
Ho ho ho ho ho ho ho
Ho ho ho!
Ho ho ho ho ho ho ho
Peragawati peragawan
Senyam senyum seperti badut
Penyanyi dan pemusik
Bintang film nampang seperti badut
Ditelevisi
Dikoran koran
Didalam radio
Diatas mimbar
Ku aku aku aku aku aku aku
Seperti kamu
Mu kamu kamu kamu kamu kamu kamu
Seperti badut
Ho ho ho!
Ho ho ho ho ho ho ho
Ho ho ho!
Ho ho ho ho ho ho ho
Ho ho ho!
Dut badut badut badut badut badut badut
Jaman sekarang
Mong omong omong omong omong omong omong omong
Sembarang
Ditelevisi
Dikoran koran
Didalam radio
Diatas mimbar
Para pengaku intelek
Tingkah polahnya lebihi badut
Kaum pencuri tikus
Politikus palsu saingi badut
Ho ho ho!
Ho ho ho ho ho ho ho
Ho ho ho!
Posted by anakmuda at 4:09 AM 0 comments
Sunday, January 25, 2009
Monkey See, Monkey Do!
SEORANG anak muda menelepon saya. "Ajari saya menulis, Pak! Jika saya sudah bisa, saya mau terjun ke politik. Untuk menghajar kaum politisi, yang cuma mau 'kuasa dan duit'."
Saya terpaksa merespons anak muda itu, karena betapa getolnya ia "mengganggu saya!" Puluhan SMS-nya, bertubi-tubi mendesak saya. "Ayo, Pak. Ajari saya!" Karena lama saya tidak meladeninya, ia marah. "Bapak, egois, ya! Tidak rela membagi ilmunya? Takut disaingi? Ah, bapak ini contoh orangtua kikir! Egois!".
Saya tentu sedikit panas. Bakat terpendam kepremanan saya, terusik. Tapi setelah sedikit tafakur, saya tertawa. Tiba-tiba anak muda ini, saya pandang sebagai anak saya sendiri. Bukan hanya itu, "kekurang-ajarannya", saya suka. Paman saya dulu, namanya Papa Teppo, seorang jawara (pejantan), selalu bilang sama saya, "Kurang ajarlah, supaya mertuamu suka sama kau!".
Paman saya itu, mengidentikkan setiap calon mertua dengan dirinya. Untuk menemukan calon menantu yang melamar anak gadisnya, pertama-tama ia menilai bobot kekurangajaran anak muda yang melamar. Kurang-ajar adalah tanda, anak muda itu punya kemampuan, memilih jalannya secara jantan. Untuk, dengan segala macam cara, mencari rezeki. Menghidupi istri dan anak-anaknya.
Kata-kata paman itu, sedikit banyak melekat di batin saya. Dan sedikit banyak pula, hal itulah yang membuat saya, menjadi suka anak "kurang-ajar" yang menelepon saya tadi.
Saya memang suka "anak muda" yang jiwanya hidup. Jiwa yang secara berani, membuka diri. Mencari akses buat menata hidupnya secara (katakanlah), secara "kreatif". Anak muda yang menelepon saya, pagi, siang, tengah malam, saya anggaplah begitu.
Dari SMS dan telepon langsung anak itu, saya pun menjawabnya singkat, "Paling tidak kamu minta dua hal dari saya. Pertama-tama kamu belajar menulis! Kedua, mau jadi politikus, untuk membabat para politisi hitam! Tidak semua politisi berkulit hitam, lho!"
Sebelum lanjut, saya juga diberi tahu anak muda itu, bagaimana kuliahnya "putus", karena orangtuanya tak punya lagi kemampuan. Artinya, anak ini, memang punya basis intelektualitas untuk menjadi penulis. Tapi permintaannya untuk diajari oleh saya? Wah, payah saya.
Selama 50 tahun saya terus coba-coba menulis. Yah, coba-coba kata saya, karena sampai kini, saya belum merasa sebagai penulis.
Jadi, saya cuma bisa menelepon anak muda itu. "Begini, Nak. Guru terbaik untuk menuntun kita menulis ialah MENULIS!" Kontan anak itu membalas, "Bapak jangan main teka-teki silang! Maunya populer sendiri, ya?!" Ia kini, rasanya di hati saya, bukan terkesan anak muda itu tengah berteriak, "Memang saya sejak semula berfirasat, Bapak itu menulis secara popularitas! Munafik!"
Wah, kata-kata anak itu, terasa bukan lagi "kekurang-ajaran" kreatif, tapi sudah bernada "penekanan". Dan setiap "penekanan" itu, ujung-ujungnya sebentar membesar menjadi semacam upaya untuk "penaklukan!"
Maka, segera saja saya tertawa geli, ketika ia berkata (dengan nada "perintah"): "Jika tidak bisa mengajari saya menulis, saya minta dipinjami KOMPUTER. Pasti bapak punya banyak komputer. Punya sekretaris, pembantu-pembantu! Apa susahnya minjami komputer, sebab dengan alat ini, lihatlah Pak, saya akan menulis! Saya akan jadi politikus besar! Pokoknya, pinjami saja komputer!."
Saat ia mengucapkan itu, saya (maaf) tiba-tiba ingin ke WC. "Eh, anak muda! Dari dulu sampai sekarang, alat munulis saya itu mesin manual tua dan kuno! Saya itu tidak pernah duduk di bangku kuliah seperti kamu, karena orangtua tak mampu. Saya ini mantan penjual keliling kue-kue: jalangkote, sikaporo, paraparanggi, es lilin! Bahkan, jualan dari lorong ke lorong, memikul ikan pallu-cella! Dan saya bangga! Minus komputer!".
Mengetahui apa yang saya bilang, anak muda itu, diam sediam-diamnya. Sampai berminggu-minggu. Tak pernah lagi ia menghubungi saya. Eh, ternyata tanpa komunikasi dengan anak itu, saya pelan-pelan merasa, ada yang hilang dalam diri saya. Kok, saya jadi merasa kesepian.
Saya lalu merasa terseret dalam suatu banjir bandang, yang memporak-porandakan segala yang saya cintai ini. Saya yang tadinya dihinggapi perasaan, anak muda itu mau "memeras" saya, suatu bakat hitam, yang kini jadi tren di kalangan "manusia tua" jenis saya, tahu-tahu ia membuat saya merindukannya. Anak muda itu, pelan-pelan hadir sosoknya dalam batin saya. Membayang sosok-sosok muda yang jutaan jumlahnya.
Bagaikan tikus-tikus comberan yang kebingungan mencari semacam "cahaya", jalan akses. Untuk apa yang dipesankan orang-orang tua mereka, "Menjadi ORANG dalam mengarungi kehidupan!" Kehidupan yang tak jauh-jauh "buminya". Suatu bumi yang bernama tanah air.
Saya lalu menemukan semacam "jawaban". Anak-anak muda yang tengah kebingungan itu, yang terwakili oleh anak yang satu ini, memimpikan bagaimana POLITIK disucikan! Bagaimana nafsu-nafsu hitam itu diputihkan. Bagaimana berpolitik, sembari terus-menerus menimbun lubang tanpa dasar (Bottomles Hole, menurut istilah Ekchart Tolle), dalam EGO kita. Karena dari "lubang" inilah orang-orang tertentu, misalnya para koruptor atau politisi hitam menerima dari iblis kekuatan untuk meremuk-redam eksistensi "diri" dan diri orang lain.
Di suatu malam, saya menerima telepon. Alhamdulillah, anak muda itu menelepon saya. Sepi saya, terbang. Lebih-lebih ketika dengan nada rendah, ia berkata: "Pak, saya malu kepada Bapak. Mohon maaf, Pak...!" Telepon ditutup. Dan saya membayangkan, anak muda ini, bakal lolos dari sindiran Margueret Beecher, tentang: Monkey See, Monkey Do!" Apa yang monyet lihat, itu pula yang monyet tiru!
Tidak! Anak muda itu, saya doakan. Dan insya Allah, apabila kelak ia menjadi politikus, ia akan siap menghindar dari POLITIK dengan jurus ke monyet-monyetan.
Posted by anakmuda at 8:52 PM 0 comments
Labels: POSTER pemilu
