Sunday, December 21, 2008
sambung rasa 2#
Pada awal abad ke-20 ini, kaum intellektual Jawa mulai memikirkan masalah memajukan kebudayaan Jawa dan Indonesia pada umumnya, agar tidak ketinggalan dari derap langkah kemajuan sedunia. Ini, sebagaimana umum sudah mengetahui, mulai dengan surat-surat R.A. Kartini, sampai dengan penegakan organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Pada waktu itu juga, Kaum intelektual Jawa mulai membanding-bandingkan akhlak orang di negeri-negeri industri yang beritanya rajin-rajin itu, dengan apa yang oleh orang Eropa dijuluk "indolensi" (sama dengan "kemalasan") daripada "orang Asia" yang pribumi di negeri-negeri jajahannya. Agak bingung juga mereka, dan timbullah tulisan-tulisan seperti karangan Tjokroamiprodjo (1902) yang judulnya sebagai berikut:
Zijn de Javanen lui? welke wegen moet men inslaan om de Javanen voor achteruitgang te behoeden!
" Adakah orang Jawa itu malas? Jalan apakah harus ditempuh untuk menjaga orang Jawa jangan sampai mengalami kemunduran"
Penulis-penulis Belandapun turut heboh, lihat misalnya risalah dalam Indische gids 25:285-286 (1903)
Bertanyalah kita, bukan? Apakah ada dua pulau Jawa? Yang satu rakyatnya malas-malas saja, yang lain orang-orangnya boleh dikirim ke Maluku mengajar penduduk sini berajin kerja?
Dengan makin tumbuh dan mendewasanya gerakan nasional, masalahnya kemudian disorot dari segi lain: Benarkah "cara hidup Barat" yang banting tulang adu jarum dari pagi sampai malam itu lebih mujur daripada "cara ketimuran" yang cukup dengan seperlunya saja, sesuai dengan adat dan kebiasaan, dan lebih memberat kepada gotong-royong dan hidup berukun tetangga tanpa keras bersaing saling memperebutkan rejeki? Perumusan yang tuntas dapat misalnya kita temukan dalam satu terbitan karya Moh. Hatta (1936), di mana dapatlah kita baca:
Orang Barat sangat mengemoekakan hasil. Hasil ditaroknja dimoeka, laloe ia berichtiar mentjapai hasil jang sebesar-besarnja jang dikehendakinja itoe dengan membanting tenaganja jang ada. ...
Orang Timoer mengemoekakan tenaga. Tenaga ditaroknja dimoeka, dan dengan tenaga jang paling sedikit terpakai hendak ditjapainja hasil jang sebesar-besarnja. Ia sedikit mempergoenakan tenaga, sebab itoe hasil jang moengkin ditjapainja dengan tenaga jang sedikit itoe sedikit poela djoemlahnja.
Adapun bersamaan waktu terbit roman Takdir Alisjahbana (1936) berjudul Lajar Terkembang (ejaan sekarang: Layar Terkembang), dimana kita bisa baca kata-kata seperti berikut:
Kelebihan orang Barat bagi meréka itoe ialah keindahan pakaian, rapi dan mahalnja perabot roemah, bibir dan koekoe jang bertjat dan sepandjang hari berkeliaran naik auto.
Apakah ada dua cara hidup Barat? Yang satu ditiru pemuda-pemuda perlente kita yang suka pasang aksi santai-santai kebarat-baratan dengan berpembawaan relax, dan yang satu lagi siang malam membanting segenap tenaga, mengejar "rat-race" persaingan maut?
Alangkah akan herannya almarhum Bung Hatta, sekira beliau sempat membaca satu artikel dalam Times magazine sekitar 4 tahun yang lampau, yang memberitakan situasi persaingan antar-peranakan di Amerika Serikat sebagai berikut: Peranakan Asia di Amerika ternyata jauh lebih rajin dan tekun bekerja dan belajar, dibandingkan dengan rekan-rekan WASP (white anglo-saxon protestant), sehingga makin menduduki prosen bagian dalam kegiatan di perguruan tinggi dan dalam ekonomi yang melebihi prosen bagian masing-masing sebagai golongan penduduk. Juga di beberapa negeri Eropa, dua dasawarsa terakhir ini makin tampak kecenderungan antara pengusaha yang lebih suka mengerjakan buruh asal Asia daripada buruh pribumi, karena yang tersebut pertama katanya lebih tekun bekerja dan setia kepada perusahaan, dan tidak begitu giat memikirkan cuti berikut akan kemana atau mempersoalkan hak-hak bebas kerja untuk ini atau itu.
Apakah ada dua ketimuran? Yang antuk-antuk "biar lambat asal selamat", "aksi-aksi bau terasi", dan satu lagi yang seperti semut tak kenal lelah?
Marilah kita mengolah lebih dalam sedikit.
Posted by anakmuda at 7:59 AM 0 comments
Saturday, December 13, 2008
sambung rasa
Banyak yang tidak mengerti mengapa harga BBM selalu meningkat. Sebenarnya tidak sulit untuk dimengerti. Di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah. Tanggal 9 yang lalu, populasi manusia di Bumi menyentuh angka 6.666.666.666 untuk pertama kalinya. Sedangkan 80 tahun yang lalu, bumi baru dihuni oleh sebanyak dua milyar manusia saja.
Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat.
Lalu bagaimana cara manusia mengatasi kenyataan tersebut? Manusia akan beradaptasi dengan membatasi jumlah keturunan. Ada alasan mengapa semakin jarang ditemui sebuah keluarga dengan setengah lusin atau lebih anak, tidak seperti jamannya kakek nenek kita. Alasannya bukan karena program Keluarga Berencana telah berhasil, tapi karena kita merasa tidak mampu menanggung banyak anak. Secara tidak langsung manusia merespon gejala besar populasi yang berlebihan dan berusaha untuk menghindari bencana Malthus dengan membatasi jumlah keturunan.
Banyak yang memprediksi besar populasi manusia pada sekitar tahun 2050 akan stagnan. Atau dengan kata lain jumlah manusia yang meninggal akan sama dengan jumlah yang dilahirkan. Jika kondisi ini terjadi, ada kemungkinan harga-harga sumber daya alam yang terbarukan akan konstan pula. Tetapi sebaliknya, harga-harga sumber daya alam yang tidak terbarukan akan tetap meningkat, dan justru mungkin akan lebih cepat daripada sebelumnya. Mengapa? Karena efek konsumsi sumber-sumber daya alam ini di tahun-tahun sebelumnya juga akan dirasakan secara kumulatif pada masa kini.
Tetapi sudah menjadi naluri manusia untuk membenci kenaikan harga. Kenaikan harga selalu dihubung-hubungkan dengan kambing hitam seperti kinerja pemerintahan. Bisa jadi memang kinerja pemerintahan sedikit banyak ada sangkut pautnya, tetapi pemerintah tidak dapat selalu menjaga harga agar tidak naik. Untuk mengatasi ‘masalah’ ini, beberapa pemerintah bersikap populis dengan memberi subsidi. Subsidi ini diberikan untuk secara artificial menjaga supaya harga-harga tidak naik. Dengan subsidi, harga-harga menjadi lebih murah dan lebih terjangkau oleh masyarakat. Semua menjadi senang dan segalanya menjadi indah. Benarkah?
Ternyata jauh dari itu. Jika disubsidi, maka secara tidak langsung konsumsi komoditas yang disubsidi tersebut akan semakin meningkat, dan ini akan mengakibatkan harga nyata komoditas tersebut meningkat lebih cepat daripada jika tidak disubsidi. Dan lebih buruk lagi, orang tua akan merasa mampu untuk menanggung anak lebih banyak daripada kemampuan mereka sebenarnya. Hal ini akan menyebabkan populasi manusia yang berlebih yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan dan tentunya harga komoditas tersebut. Apalagi jika komoditas yang disubsidi adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Mayoritas orang-orang yang tidak setuju subsidi dan mengatasnamakan rakyat miskin mungkin memang tulus ingin membantu rakyat miskin. Tetapi rasanya mereka tidak menyadari kalau perbuatan mereka justru akan menambah deretan jumlah rakyat miskin dalam jangka panjang.
Mencabut subsidi memang sulit, apalagi jika sudah ada sejak dulu. Rakyat menyukai subsidi, tetapi sedikit yang menyadari efek buruknya pada mereka. Subsidi adalah komoditas politik yang rawan dipolitisasi. Politisi dapat dengan mudah memperoleh dukungan hanya dengan bersikap populis menentang pencabutan subsidi. “Yang penting sekarang saya dapat dukungan, soal bagaimana efek buruknya, biar nanti penerus saya yang memikirkan,” barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Jika pada jaman dulu politisi Romawi kuno menggunakan roti dan sirkus untuk menggalang dukungan, kini giliran politisi Indonesia menggunakan subsidi BBM untuk melakukan hal yang sama. Bagi saya, subsidi atau janji subsidi termasuk bentuk korupsi terselubung: anda menggunakan dana negara demi kepentingan kampanye politik pribadi anda.
Posted by anakmuda at 10:58 PM 0 comments
Labels: opini
resensi "HARAKIRI Kepahlawanan Samurai Jepang"

Judul buku : HARAKIRI Kepahlawanan Samurai Jepang
Penulis : Agata P. Ranjabar, Umar Tj’s (ed)
Penerbit : PINUS BOOK PUBLISHER, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 251 halaman
Kehebatan Jepang bangkit dari kehancuran pasca bom atom Nagasaki dan Hiroshima dalam waktu singkat telah memukau dunia, hal ini tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai tradisi yang mereka warisi juga mencengangkan dunia, yakni lewat keberanian, kesetiaan, harga diri, dimana mereka mampu melakukan tindakan bunuh diri.
Tak lain ketika mendengar kata-kata bunuh diri akan terbayang dalam benak kita tentang samurai atau kamikaze. Kedua hal tersebut telah membuat cengang dunia. Samurai yang sangat terkenal dengan keahlian perangnya dan keberanian yang tinggi, mampu melakukan tindakan bunuh diri sebagai sebuah wujud kesetiaan kepada tuannya, atau terhadap negara untuk menjaga harga diri. Misalnya saja, Oda Nobunaga (1534-1582), samurai yang sangat kejam dan pemberani ini, telah dikenal dunia atas usahanya untuk menaklukkan seluruh Jepang. Di samping itu ia juga telah menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah seorang samurai yang punya harga diri dan terhormat, dengan melakukan harakiri di saat-saat terjepit dalam serangan pengikutnya yang berkhianat, Akechi Mitsuhide. Ia lebih memilih mati daripada tertangkap dan menjadi tawanan musuh.
Semangat yang tinggi dan berkobar-kobar untuk mempertahankan harga diri atau negerinya setimpal atas kemurahan hati untuknya tetap mengabdi. Semangat ini adalah semangat bushido, semangat yang harus dimiliki oleh setiap samurai. Bunuh diri adalah tindakan perwujudan nilai-nilai tersebut.
Dari perspektif sejarah, perkembangan tradisi harakiri tidak dapat dilepaskan dari pengaruh beberapa kepercayaan masyarakat Jepang seperti Neo-Konfusius, Konfusius, Tao, Zen dan Shito. Tindakan bunuh diri dibuat dalam sebuah ritual yang sering disebut dengan nama harakiri atau secara harfiah berarti membelah perut. Tindakan harakiri dianggap terhormat karena untuk melakukan ini, harus memiliki keberanian yang sangat luar biasa. Hal ini sangat menyiksa, ditambah lagi tidak boleh menunjukkan ekspresi ketakutan ataupun kesakitan karena hal tersebut merupakan hal yang memalukan bagi seorang samurai yang terhormat dan pemberani. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak ingin mempermalukan diri dengan menunjukkan ekspresi tersebut, maka ditugaskanlah seorang kaishaku yang bertugas untuk memenggal kepala si pelaku untuk mempercepat kematian tanpa harus berlama-lama tersiksa. Ritual inilah yang dikenal masyarakat luas saat ini sebagai harakiri.
Pada awal masa pemerintahan Tokugawa, harakiri sering digunakan sebagai hukuman bagi para samurai yang telah melakukan kejahatan (sedangkan untuk orang biasa, mereka dipukuli sampai mati, atau dipenggal kepalanya). Peningkatan kematian disebabkan harakiri menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan hingga pada akhirnya harakiri pun dilarang. Semenjak saat itu, para samurai kemudian berganti pekerjaan, berdasarkan keahlian lain yang mereka miliki, ada yang menjadi pedagang, ataupun pegawai pemerintahan. Bisa dikata regenerasi samurai mulai terhambat dan harakiri dalam sistem hukuman juga berkurang.
Akan tetapi, karena budaya harakiri telah melekat kuat pada kelas samurai, harakiri tetap dilakukan dan jumlah kematian pun semakin meningkat. Walaupun mereka tidak lagi bekerja sebagai samurai, semangat itu tetap selalu ada pada diri mereka dan juga pada sebagian masyarakat Jepang. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya tingkat bunuh diri yang terjadi di Jepang telah membuat negara berkembang yang memiliki tingkat bunuh diri paling tinggi. Hal ini disebabkan masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi harga diri, dan sebagai penebusan atas kegagalan dan sebagai wujud penyesalan yang dalam adalah bunuh diri. Walaupun dengan cara yang berbeda, tetapi tetap saja penghilangan nyawa masih dianggap sebagai jalan akhir yang dapat ditempuh.
Melihat keprihatinan ini pemerintah melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab bunuh diri agar dapat dilakukan tindak pencegahannya. Namun sampai sekarang belum terdengar hasilnya.
Di saat pemerintah sibuk mengatasi tingkat bunuh diri, para seniman Jepang tetap melestarikan harakiri dalam sebuah pertunjukkan panggung sandiwara, sebagai salah satu budaya Jepang. Akan tetapi, bukan bertujuan untuk memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan harakiri, tapi untuk mempertunjukkan kepada masyarakat umum sebagai sebuah hiburan, para seniman mengemasnya sebagai sandiwara di atas panggung. Teater musikal yang sangat terkenal adalah Kabuki. Kabuki yang diperuntukan bukan untuk kelas bangsawan ataupun samurai, tapi untuk masyarakat biasa ini, lebih membahas tentang tema-tema terlarang yang digambarkan dengan sangat detail. Kabuki yang sudah ada sejak tahun 1600-an inilah harakiri dimainkan dengan sangat detail. Selain di panggung teater klasik, kisah harakiri dan samurai yang sangat erat hubungannya ini, telah banyak pula dibawa ke layar kaca. Seperti film “Harakiri” yang dibuat oleh Kobayashi Masaki pada tahun 1962 atau “Throne of Blod” oleh Akira Kurosawa tahun 1957 atau kisah “The Last Samurai”.
Itulah sebagian kisah yang terpercik dari buku ini. Sayangnya editor kurang jeli dalam melakukan tugasnya, sehingga masih banyak kata yang salah ketik, dan beberapa kata, berbeda penulisannya. Misalnya kata ‘harakiri’, dalam buku ini ada yang di cetak miring ada yang cetak tegak. Ada yang diawali huruf kapital, ada yang tidak. Sehingga agak susah untuk menangkap maksudnya.
Terlepas dari kelemahan tersebut di atas, buku ini tetap menarik untuk dibaca, karena membahas semua tentang harakiri yang sempat menggemparkan dunia dan membuat banyak orang tercengang. Begitu juga dengan nilai-nilai semangat yang telah menginspirasi para samurai. Selamat membaca.
Jantan Putra Bangsa
Posted by anakmuda at 9:02 PM 0 comments

