Sunday, December 21, 2008
sambung rasa 2#
Pada awal abad ke-20 ini, kaum intellektual Jawa mulai memikirkan masalah memajukan kebudayaan Jawa dan Indonesia pada umumnya, agar tidak ketinggalan dari derap langkah kemajuan sedunia. Ini, sebagaimana umum sudah mengetahui, mulai dengan surat-surat R.A. Kartini, sampai dengan penegakan organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Pada waktu itu juga, Kaum intelektual Jawa mulai membanding-bandingkan akhlak orang di negeri-negeri industri yang beritanya rajin-rajin itu, dengan apa yang oleh orang Eropa dijuluk "indolensi" (sama dengan "kemalasan") daripada "orang Asia" yang pribumi di negeri-negeri jajahannya. Agak bingung juga mereka, dan timbullah tulisan-tulisan seperti karangan Tjokroamiprodjo (1902) yang judulnya sebagai berikut:
Zijn de Javanen lui? welke wegen moet men inslaan om de Javanen voor achteruitgang te behoeden!
" Adakah orang Jawa itu malas? Jalan apakah harus ditempuh untuk menjaga orang Jawa jangan sampai mengalami kemunduran"
Penulis-penulis Belandapun turut heboh, lihat misalnya risalah dalam Indische gids 25:285-286 (1903)
Bertanyalah kita, bukan? Apakah ada dua pulau Jawa? Yang satu rakyatnya malas-malas saja, yang lain orang-orangnya boleh dikirim ke Maluku mengajar penduduk sini berajin kerja?
Dengan makin tumbuh dan mendewasanya gerakan nasional, masalahnya kemudian disorot dari segi lain: Benarkah "cara hidup Barat" yang banting tulang adu jarum dari pagi sampai malam itu lebih mujur daripada "cara ketimuran" yang cukup dengan seperlunya saja, sesuai dengan adat dan kebiasaan, dan lebih memberat kepada gotong-royong dan hidup berukun tetangga tanpa keras bersaing saling memperebutkan rejeki? Perumusan yang tuntas dapat misalnya kita temukan dalam satu terbitan karya Moh. Hatta (1936), di mana dapatlah kita baca:
Orang Barat sangat mengemoekakan hasil. Hasil ditaroknja dimoeka, laloe ia berichtiar mentjapai hasil jang sebesar-besarnja jang dikehendakinja itoe dengan membanting tenaganja jang ada. ...
Orang Timoer mengemoekakan tenaga. Tenaga ditaroknja dimoeka, dan dengan tenaga jang paling sedikit terpakai hendak ditjapainja hasil jang sebesar-besarnja. Ia sedikit mempergoenakan tenaga, sebab itoe hasil jang moengkin ditjapainja dengan tenaga jang sedikit itoe sedikit poela djoemlahnja.
Adapun bersamaan waktu terbit roman Takdir Alisjahbana (1936) berjudul Lajar Terkembang (ejaan sekarang: Layar Terkembang), dimana kita bisa baca kata-kata seperti berikut:
Kelebihan orang Barat bagi meréka itoe ialah keindahan pakaian, rapi dan mahalnja perabot roemah, bibir dan koekoe jang bertjat dan sepandjang hari berkeliaran naik auto.
Apakah ada dua cara hidup Barat? Yang satu ditiru pemuda-pemuda perlente kita yang suka pasang aksi santai-santai kebarat-baratan dengan berpembawaan relax, dan yang satu lagi siang malam membanting segenap tenaga, mengejar "rat-race" persaingan maut?
Alangkah akan herannya almarhum Bung Hatta, sekira beliau sempat membaca satu artikel dalam Times magazine sekitar 4 tahun yang lampau, yang memberitakan situasi persaingan antar-peranakan di Amerika Serikat sebagai berikut: Peranakan Asia di Amerika ternyata jauh lebih rajin dan tekun bekerja dan belajar, dibandingkan dengan rekan-rekan WASP (white anglo-saxon protestant), sehingga makin menduduki prosen bagian dalam kegiatan di perguruan tinggi dan dalam ekonomi yang melebihi prosen bagian masing-masing sebagai golongan penduduk. Juga di beberapa negeri Eropa, dua dasawarsa terakhir ini makin tampak kecenderungan antara pengusaha yang lebih suka mengerjakan buruh asal Asia daripada buruh pribumi, karena yang tersebut pertama katanya lebih tekun bekerja dan setia kepada perusahaan, dan tidak begitu giat memikirkan cuti berikut akan kemana atau mempersoalkan hak-hak bebas kerja untuk ini atau itu.
Apakah ada dua ketimuran? Yang antuk-antuk "biar lambat asal selamat", "aksi-aksi bau terasi", dan satu lagi yang seperti semut tak kenal lelah?
Marilah kita mengolah lebih dalam sedikit.
Posted by anakmuda at 7:59 AM 0 comments
Saturday, December 13, 2008
sambung rasa
Banyak yang tidak mengerti mengapa harga BBM selalu meningkat. Sebenarnya tidak sulit untuk dimengerti. Di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah. Tanggal 9 yang lalu, populasi manusia di Bumi menyentuh angka 6.666.666.666 untuk pertama kalinya. Sedangkan 80 tahun yang lalu, bumi baru dihuni oleh sebanyak dua milyar manusia saja.
Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat.
Lalu bagaimana cara manusia mengatasi kenyataan tersebut? Manusia akan beradaptasi dengan membatasi jumlah keturunan. Ada alasan mengapa semakin jarang ditemui sebuah keluarga dengan setengah lusin atau lebih anak, tidak seperti jamannya kakek nenek kita. Alasannya bukan karena program Keluarga Berencana telah berhasil, tapi karena kita merasa tidak mampu menanggung banyak anak. Secara tidak langsung manusia merespon gejala besar populasi yang berlebihan dan berusaha untuk menghindari bencana Malthus dengan membatasi jumlah keturunan.
Banyak yang memprediksi besar populasi manusia pada sekitar tahun 2050 akan stagnan. Atau dengan kata lain jumlah manusia yang meninggal akan sama dengan jumlah yang dilahirkan. Jika kondisi ini terjadi, ada kemungkinan harga-harga sumber daya alam yang terbarukan akan konstan pula. Tetapi sebaliknya, harga-harga sumber daya alam yang tidak terbarukan akan tetap meningkat, dan justru mungkin akan lebih cepat daripada sebelumnya. Mengapa? Karena efek konsumsi sumber-sumber daya alam ini di tahun-tahun sebelumnya juga akan dirasakan secara kumulatif pada masa kini.
Tetapi sudah menjadi naluri manusia untuk membenci kenaikan harga. Kenaikan harga selalu dihubung-hubungkan dengan kambing hitam seperti kinerja pemerintahan. Bisa jadi memang kinerja pemerintahan sedikit banyak ada sangkut pautnya, tetapi pemerintah tidak dapat selalu menjaga harga agar tidak naik. Untuk mengatasi ‘masalah’ ini, beberapa pemerintah bersikap populis dengan memberi subsidi. Subsidi ini diberikan untuk secara artificial menjaga supaya harga-harga tidak naik. Dengan subsidi, harga-harga menjadi lebih murah dan lebih terjangkau oleh masyarakat. Semua menjadi senang dan segalanya menjadi indah. Benarkah?
Ternyata jauh dari itu. Jika disubsidi, maka secara tidak langsung konsumsi komoditas yang disubsidi tersebut akan semakin meningkat, dan ini akan mengakibatkan harga nyata komoditas tersebut meningkat lebih cepat daripada jika tidak disubsidi. Dan lebih buruk lagi, orang tua akan merasa mampu untuk menanggung anak lebih banyak daripada kemampuan mereka sebenarnya. Hal ini akan menyebabkan populasi manusia yang berlebih yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan dan tentunya harga komoditas tersebut. Apalagi jika komoditas yang disubsidi adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Mayoritas orang-orang yang tidak setuju subsidi dan mengatasnamakan rakyat miskin mungkin memang tulus ingin membantu rakyat miskin. Tetapi rasanya mereka tidak menyadari kalau perbuatan mereka justru akan menambah deretan jumlah rakyat miskin dalam jangka panjang.
Mencabut subsidi memang sulit, apalagi jika sudah ada sejak dulu. Rakyat menyukai subsidi, tetapi sedikit yang menyadari efek buruknya pada mereka. Subsidi adalah komoditas politik yang rawan dipolitisasi. Politisi dapat dengan mudah memperoleh dukungan hanya dengan bersikap populis menentang pencabutan subsidi. “Yang penting sekarang saya dapat dukungan, soal bagaimana efek buruknya, biar nanti penerus saya yang memikirkan,” barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Jika pada jaman dulu politisi Romawi kuno menggunakan roti dan sirkus untuk menggalang dukungan, kini giliran politisi Indonesia menggunakan subsidi BBM untuk melakukan hal yang sama. Bagi saya, subsidi atau janji subsidi termasuk bentuk korupsi terselubung: anda menggunakan dana negara demi kepentingan kampanye politik pribadi anda.
Posted by anakmuda at 10:58 PM 0 comments
Labels: opini
resensi "HARAKIRI Kepahlawanan Samurai Jepang"

Judul buku : HARAKIRI Kepahlawanan Samurai Jepang
Penulis : Agata P. Ranjabar, Umar Tj’s (ed)
Penerbit : PINUS BOOK PUBLISHER, Yogyakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : 251 halaman
Kehebatan Jepang bangkit dari kehancuran pasca bom atom Nagasaki dan Hiroshima dalam waktu singkat telah memukau dunia, hal ini tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai tradisi yang mereka warisi juga mencengangkan dunia, yakni lewat keberanian, kesetiaan, harga diri, dimana mereka mampu melakukan tindakan bunuh diri.
Tak lain ketika mendengar kata-kata bunuh diri akan terbayang dalam benak kita tentang samurai atau kamikaze. Kedua hal tersebut telah membuat cengang dunia. Samurai yang sangat terkenal dengan keahlian perangnya dan keberanian yang tinggi, mampu melakukan tindakan bunuh diri sebagai sebuah wujud kesetiaan kepada tuannya, atau terhadap negara untuk menjaga harga diri. Misalnya saja, Oda Nobunaga (1534-1582), samurai yang sangat kejam dan pemberani ini, telah dikenal dunia atas usahanya untuk menaklukkan seluruh Jepang. Di samping itu ia juga telah menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah seorang samurai yang punya harga diri dan terhormat, dengan melakukan harakiri di saat-saat terjepit dalam serangan pengikutnya yang berkhianat, Akechi Mitsuhide. Ia lebih memilih mati daripada tertangkap dan menjadi tawanan musuh.
Semangat yang tinggi dan berkobar-kobar untuk mempertahankan harga diri atau negerinya setimpal atas kemurahan hati untuknya tetap mengabdi. Semangat ini adalah semangat bushido, semangat yang harus dimiliki oleh setiap samurai. Bunuh diri adalah tindakan perwujudan nilai-nilai tersebut.
Dari perspektif sejarah, perkembangan tradisi harakiri tidak dapat dilepaskan dari pengaruh beberapa kepercayaan masyarakat Jepang seperti Neo-Konfusius, Konfusius, Tao, Zen dan Shito. Tindakan bunuh diri dibuat dalam sebuah ritual yang sering disebut dengan nama harakiri atau secara harfiah berarti membelah perut. Tindakan harakiri dianggap terhormat karena untuk melakukan ini, harus memiliki keberanian yang sangat luar biasa. Hal ini sangat menyiksa, ditambah lagi tidak boleh menunjukkan ekspresi ketakutan ataupun kesakitan karena hal tersebut merupakan hal yang memalukan bagi seorang samurai yang terhormat dan pemberani. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak ingin mempermalukan diri dengan menunjukkan ekspresi tersebut, maka ditugaskanlah seorang kaishaku yang bertugas untuk memenggal kepala si pelaku untuk mempercepat kematian tanpa harus berlama-lama tersiksa. Ritual inilah yang dikenal masyarakat luas saat ini sebagai harakiri.
Pada awal masa pemerintahan Tokugawa, harakiri sering digunakan sebagai hukuman bagi para samurai yang telah melakukan kejahatan (sedangkan untuk orang biasa, mereka dipukuli sampai mati, atau dipenggal kepalanya). Peningkatan kematian disebabkan harakiri menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan hingga pada akhirnya harakiri pun dilarang. Semenjak saat itu, para samurai kemudian berganti pekerjaan, berdasarkan keahlian lain yang mereka miliki, ada yang menjadi pedagang, ataupun pegawai pemerintahan. Bisa dikata regenerasi samurai mulai terhambat dan harakiri dalam sistem hukuman juga berkurang.
Akan tetapi, karena budaya harakiri telah melekat kuat pada kelas samurai, harakiri tetap dilakukan dan jumlah kematian pun semakin meningkat. Walaupun mereka tidak lagi bekerja sebagai samurai, semangat itu tetap selalu ada pada diri mereka dan juga pada sebagian masyarakat Jepang. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya tingkat bunuh diri yang terjadi di Jepang telah membuat negara berkembang yang memiliki tingkat bunuh diri paling tinggi. Hal ini disebabkan masyarakat Jepang sangat menjunjung tinggi harga diri, dan sebagai penebusan atas kegagalan dan sebagai wujud penyesalan yang dalam adalah bunuh diri. Walaupun dengan cara yang berbeda, tetapi tetap saja penghilangan nyawa masih dianggap sebagai jalan akhir yang dapat ditempuh.
Melihat keprihatinan ini pemerintah melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab bunuh diri agar dapat dilakukan tindak pencegahannya. Namun sampai sekarang belum terdengar hasilnya.
Di saat pemerintah sibuk mengatasi tingkat bunuh diri, para seniman Jepang tetap melestarikan harakiri dalam sebuah pertunjukkan panggung sandiwara, sebagai salah satu budaya Jepang. Akan tetapi, bukan bertujuan untuk memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan harakiri, tapi untuk mempertunjukkan kepada masyarakat umum sebagai sebuah hiburan, para seniman mengemasnya sebagai sandiwara di atas panggung. Teater musikal yang sangat terkenal adalah Kabuki. Kabuki yang diperuntukan bukan untuk kelas bangsawan ataupun samurai, tapi untuk masyarakat biasa ini, lebih membahas tentang tema-tema terlarang yang digambarkan dengan sangat detail. Kabuki yang sudah ada sejak tahun 1600-an inilah harakiri dimainkan dengan sangat detail. Selain di panggung teater klasik, kisah harakiri dan samurai yang sangat erat hubungannya ini, telah banyak pula dibawa ke layar kaca. Seperti film “Harakiri” yang dibuat oleh Kobayashi Masaki pada tahun 1962 atau “Throne of Blod” oleh Akira Kurosawa tahun 1957 atau kisah “The Last Samurai”.
Itulah sebagian kisah yang terpercik dari buku ini. Sayangnya editor kurang jeli dalam melakukan tugasnya, sehingga masih banyak kata yang salah ketik, dan beberapa kata, berbeda penulisannya. Misalnya kata ‘harakiri’, dalam buku ini ada yang di cetak miring ada yang cetak tegak. Ada yang diawali huruf kapital, ada yang tidak. Sehingga agak susah untuk menangkap maksudnya.
Terlepas dari kelemahan tersebut di atas, buku ini tetap menarik untuk dibaca, karena membahas semua tentang harakiri yang sempat menggemparkan dunia dan membuat banyak orang tercengang. Begitu juga dengan nilai-nilai semangat yang telah menginspirasi para samurai. Selamat membaca.
Jantan Putra Bangsa
Posted by anakmuda at 9:02 PM 0 comments
Thursday, November 27, 2008
Wednesday, November 26, 2008
Remaja Pacaran
Created by.
Poet_khatulistiwa
Kata orang, ‘’hari gini ga’ punya pacar??! Ga’ gaul banggeett deh!!’’. Nah terkadang hal ntu bikin kita kepikir khan ‘’apa iya ya kalo orang ga punya pacar tu kagak gaul?!’’ emang sich sekarang ni yang lagi ngetrend & gaul dikalangan remaja tuch ya..’’pacaran’’ (tapi bukan bererati ga punya pacar ga gaul & keren kan??!). Yang perlu kita teu ni ya..dalam pacaran tuch pasti ada yang namanya wajib komunikasi (kayak wajib lapor aja yach..??!hehe..), ada acara cemburu-cemburuan, patah hati (hiks hiks..), ilfill ma pacara kita, teyus ada juga remaja yang ngalamin pacaran jarak jauh, pacaran beda agama, backstreet alias kagak disetujui ma pihak-pihak tertentu, kekerasan dalam pacaran (kekerasan ga cuman di Rumah tangga lho..inga’!!inga’!!), pokoknya masih buanyak..buanyyaakk.. dan buanyyyaaakkkk…hehe…
Kadang kita sempet mikir ga sich, sebenernya pacaran ntu dibolehin kagak yach..??! Waduh kalo boleh kagaknya sich semua balik lagi ke diri kita sendiri coz pacaran tuch sebuah pilihan yang sebelum kita tentuin mo pacaran ato ga, kita wajib tu mempertimbangkan (berass kalee!!) banyak hal yang semuanya berkait ma nilai-nilai dalam diri kita geto! Selain tu dipikirin juga untung ruginya, yang jelas jangan ampe pilihan kita bwt pacaran justru bikin hidup kita kacau balau kayak kapal Titanic (waduh!ga nyambung yakk??).
Teruss teruss..kapan dunk kita boleh pacaran??!!pertanyaan itu sering muncul khan dibenak kita, nah kalo itu sich relative yang paling puenting ada yang namanya “komitmen” yang jelas dari hubungan tersebut, selain itu juga kudu dibicarain batesan-batesan dalam berpacaran ntu ampe ape aje, begeto!!semisal neh pacaran Cuma boleh gandengan tangan doank! Nah lebih dari itu STOP GUYS!!hehe..
So..disini umur pun ga bisa dijadiin patokan orang boleh pacaran ato kaga’, kalo mau nengok sebentar nich di Negara kita tercinta ini, perbedaan peraturan dalam hal mengatur batasan umur untuk anak-anak, remaja dan pemuda pun ga konsisten geto!!yukk kita tilik sebentar :
Ø Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) usia 0-18 tahun masih disebut anak, lebih dari itu disebut dewasa.
Ø Undang-Undang Perkawinan, sampai dengan usia 21 tahun masih disebut anak.
Ø Peraturan dari Departemen Kesehatan menyebutkan usia remaja adalah 10-19 tahun.
Ø Peraturan Di Indonesia mengatur usia pemuda sampai dengan 40 tahun
Ø Dalam PEMILU, warga negara yang sudah berusia 17 tahun sudah punya hak pilih karena sudah dianggap dewasa.
Ø Dalam WHO yang mana Indonesia juga menjadi salah 1 bagiannya, mengatur usia remaja 10-24 tahun.
Nah..jadi bingung khan nentuin kita ini sebenernya anak-anak, remaja ato pemuda..??! ga usah bingung dalam pacaran kaya’ yang uda dibilang diatas tadi, yang dituntut adalah sebuah “komitmen” dalam berpacaran selain itu juga adanya kematangan sosial karena dalam pacaran berarti mempertemukan 2 kepala yang berbeda so, dibutuhin saling ngerti, empati, ngejalanin komunikasi dengan baik & ada rasa tanggung jawab dalam ngejalanin hubungan. Kalo semua itu bisa dijalanin alhasil pacaran kita bisa disebut pacaran yang baik, nah lho istilah apalagi tuch..?! Pacaran yang baik ato kita sering menyebut dengan “pacaran sehat”, sehat disini berarti meliputi 3 aspek yaitu
• Sehat secara fisik, maksudnya kalo dalam pacaran tu kita ga mengalami perubahan secara fisik, semisal : memar-memar dihidung (bukan jerawat lho,,tapi kena gampar ato pukulan maut!!hahaha..), ato yang lebih parah kalo tiba-tiba tanpa kita sadari kita tertular IMS, HIV AIDS dari perilaku berpacaran kita, selain ntu kalo tiba-tiba kita jadi berbadan 2 alias halim, eh..hamil gimana dunk??!berabe khan??!
• Sehat secara psikis, maksudnya kalo pacaran ga ngeganggu kejiwaan seseorang semisal : kalo lagi ma pacar kita justru timbul rasa was-was, gelisah, takut merasa ditekan deelel.\
• Sehat secara sosial, nah kalo yang ini maksudnya kalo kita pacaran ga boleh ngeganggu kenyamanan masyarakat sekitar dunk!!semisal : kissing pas dilampu merah (hwakakak..ni mah sama aja bunuh diri)
Selain ntu didalam pacaran kita juga sering mengenal istilah KNPI, nah lho..singkatan apa lagi tuch..??!
K : Kissing (ciuman)
N : neckinbg (ciuman yang bikin tanda dileher, dalam perkembangannya lebih
canggih lho..ga cuman dileher kalee!!)
P : petting ni perilaku menggesek-gesekkan alat kelamin, pake ato kagak pake pembatas apapun untuk mencapai kepuasan seksual. Wah jadi muncul pertanyyan nich, kalo petting kira-kira bisa hamil ga yach..??! kemungkinan bisa hamil ada walopun cuman digesek-gesek aja coz kalo ada sperma (yang notabene jadi nakal..hehe..) yang masuk so.. terjadi dah pertemuan antara sperma dan sel telur (kayak cerita Romeo & Juliet aja yakk..??!), kalo uda ketemu terjadilah apa yang disebut “pembuahan”. Nah gimana dunk!!?
I : intercouse, kalo yang ini artinya ngelakuin hubungan seksual layaknya suami istri geti deh..
Nah.. jadi lebih ngerti khan soal dunia pacaran tu kaya’ mana, so..biar ga ngerasa rugi kelindas ama batasnya, kita punya taktik lho..Apaaann tuuucchh..??! taktiknya ya “NEGOSIASI” yaitu proses tawar menawar (dagangan kalee!!) antara kita ma pacar dalam posisi yang setara yang berarti doisisni setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpendapat dan membuat keputusan, Nah kalo ampe ada yang ngerasa terpaksa, udah negosiasi ga setara tuch..
Sebenernya kita mengenal macam-macam komunikasi dalam pacaran kok, yuk kita tilik bentar. Didalam pacaran kita mengenal 3 teknik komunikasi, yaitu
Ø komunikasi pasif
Semisal kita sebenernya ga mau ngelakuin perilaku seksual yang diinginkan pacar but kita ga berani ngomong & cuman berharap kalo-kalo ada “pahlawan kesiangan” yang bisa nolongin kita, ee..ternyata gada coz yang bisa bertanggungjawab ma diri kita ya kita sendiri, jangan ampe kita Cuma bisa ngambek, nangis setelah semuanya terjadi karena kepasrahan kita.
Ø Komunikasi Agresif
Dalam pacaran kita ga’ pernah bisa menghargai pendapat pacar kita, selain itu kita sering ngomong seenak perut, yang lebih parah pake acara mara-marah, mengumpat, ngancem ato banting barang-barang disekitar kita, wuuiiihh serem banggeet yakk..
Ø Komunikasi Asertif
Nah..kalo yang ini ni gaya komunikasi yang pualing efektif, kaleemm abiz!!pokoknya siipp banget!!coz disini kita bisa ngomongin dengan jelas keinginan kita ma pacar, kita sadar akan hak kita dan juga menghormati hak orang lain yaitu pacar kita tersayang. Yang jadi soal sekarang, gimana caranya yach biar komunikasi dalam pacaran kita tu bisa asertif..??!Kalo kita mau, tanpa belajar pun dengan sendirinya kita bisa, semisal ni ya..
1. apapun yang bakan kita omongin ke die kita pikirin dulu, kira-kira bakal nyakitin die kagak ya..??!
2. liat-liat situasi dunk!!ex : die lagi hepi ato lagi sedih yakk..
3. ngomonginnya dengan jelas, ga usah pake acar muter-muter kaya’ kincir angin ntar malah puyeng lho..
4. kalo kita emang jagonya ngebanyol so..bikin suasana ga tegang.
5. nah kalo oas die nyampein pendapatnya kita kudu dengerin & ga boleh nyela apalagi cuek, bisa-bisa ilfill die ma kita.
6. kalo ampe die ngajak kita untuk ngelakuin perilaku seksual, sebisa mungkin ajak die ngalihin perhatian dengan hangout ma temen-temen ato puter-puter keliling kampung hehe.. yang jelas ajak die untuk ngelakuin hal-hal yang positif.
Huaaahhh…akhirnya kelar juga ngebacanya, wah sekarang mulai tentuin pilihan aahh..pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!! pacaran…??!!nggak…??!!hwakakak.. Okay semua terserah ma kamu-kamu deh mo pilih yang mana, so.. good luck yach.
Posted by anakmuda at 10:58 PM 0 comments
TEENAGE AND HOW THEY COMMUNICATE WITH TECHNOLOGY
TEENAGE AND HOW THEY COMMUNICATE WITH TECHNOLOGY
Oleh: Ell
Kaum muda atau mungkin lebih akrab kita dengar dengan sebutan remaja merupakan sumber daya paling mahal yang dimiliki negara kita sebagai penerus pembangunan bangsa. Bagaimana mereka berkembang dalam proses membangun negara tergantung pada cara mereka berkomunikasi satu sama lain dalam penyampaian informasi. Informasi menjadi hal paling penting karena negara kita sebagai negara berkembang masih bergantung dengan kemajuan teknologi yang diciptakan negara-negara maju supaya tidak menjadi negara yang begitu loyo dalam hal teknologi. Pada awalnya, manusia bertukar informasi melalui bahasa, sehingga dapat dikatakan bahasa merupakan teknologi informasi dalam berkomunikasi pertama di dunia. Tetapi bahasa yang disampaikan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja, yaitu saat si pengirim menyampaikan informasi melalui ucapannya. Setelah ucapan itu selesai maka informasi berada ditangan si penerima. Selain itu jangkauan suara juga terbatas. Pada jarak tertentu meskipun masih terdengar informasi yang disampaikan lewat bahasa suara (audio) akan terdegradasi bahkan hilang sama sekali. Setelah itu teknologi penyampaian informasi berkembang melalui gambar. Dengan gambar jangkauan informasi bisa lebih jauh. Gambar ini bisa dibawa-bawa dan disampaikan kepada orang lain. Selain itu informasi dalam bentuk gambar dapat bertahan lebih lama.
Saat ini teknologi komunikasi yang berkembang di Indonesia berkiblat pada kecanggihan alat-alat elektronik sebagai alat penyampaian informasi berupa telepon genggam atau lebih terkenal dengan sebutan handphone dan komputer dengan jaringan internetnya. Tak ayal para remaja yang mengaku modern pun berpendapat mereka wajib memiliki barang-barang tersebut yang beberapa tahun lalu dikatakan sebagai barang mewah. Akan tetapi pertumbuhan teknologi komunikasi di Indonesia tidak berjalan seiring dengan perkembangan pola pikir remaja yang memanfaatkan alat canggih tersebut sebagai alat komunikasi. Pada kenyataannya penggunaan teknologi ini lebih condong sebagai tuntutan gaya hidup atau lifestyle.
Kebutuhan remaja dalam berkomunikasi sangatlah tinggi mengingat tuntutan dari tugas-tugas studi yang sedang dijalani mengharuskan mereka untuk up to date dengan informasi-informasi terkini di seluruh belahan dunia. Namun kembali pada gaya hidup, remaja saat ini banyak yang menjadi korban iklan pada media cetak maupun audio visual yang mengenalkan teknologi komunikasi dalam bentuk video calling sebagai salah satu kecanggihan yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi telepon wareless berupa handphone bernama 3G (baca: triji). Banyak remaja yang saling pamer dengan handphone 3G miliknya, namun tak mengetahui apa itu 3G dan bagaimana menggunakannya.
Untuk lebih jelasnya, 3G adalah singkatan dari istilah dalam bahas Inggris third-generation technology. Jika ada generasi ketiga, hal ini berarti ada generasi sebelumnya. Generasi pertama yaitu NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Analog Mobile Phone System) dengan hanya dapat menyampaikan informasi atau pesan berupa suara dengan kecepatan akses rendah. Generasi kedua adalah yang saat ini sudah menjamur dinikmati masyarakat tak hanya kaum remaja yaitu handphone GSM dan CDMA dengan teknologi digital dan kecepatan menengah. Sedang untuk 3G sendiri sudah menggunakan teknologi digital dengan kecepatan tinggi yaitu sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat (mobile). 3G dapat memberikan throughput yang lebih besar karena penggunaan teknologi spektrum tersebar yang memungkinkan data masukan yang hendak ditransimisikan disebar di seluruh spektrum frekuensi. Tidak semua pemilik teknologi 3G mengetahui bahwa untuk penggunaan layanan ini harus melalui operator. Hanya dengan membeli sebuah handset 3G, tidak berarti bahwa layanan 3G dapat dinikmati. Handset dapat secara otomatis pindah ke jaringan 3G namun apabila pengguna tidak menerima cakupan 3G maka pengguna tersebut bila sedang bergerak saat menggunakan layanan video call, maka terpaksa berpindah ke jaringan 2G dan otomatis layanan video call akan putus.
Pada akhirnya komunikasi yang terjadi pada kalangan remaja masih sekedar pesan singkat atau SMS dan telepon, belum sampai teknologi generasi ketiga. Kemungkinan lain remaja berkomunikasi adalah melalui akses informasi dengan jaringan internet menggunakan teknologi Wi-Fi (Wireless Fidelity) yang ditujukan untuk penggunaan perangkat wareless dan Jaringan Local (LAN) yang memungkinan seseorang dengan komputer ditambah wireless card atau personal digital assistant (PDA) untuk terhubung dengan internet dengan menggunakan access point (atau dikenal dengan hotspot) terdekat yang sudah banyak disediakan oleh kampus-kampus dan cafe bahkan mall sehingga akses informasi dapat lebih mudah diperoleh hanya dengan menenteng notebook ketika bepergian kemana pun.
Menilik dari awal, pengertian komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi berupa pesan, ide atau gagasan dari satu pihak ke pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi antar keduanya. Dilengkapi dengan teknologi, komunikasi dapat semakin mudah dan tidak mengenal jarak serta waktu. Namun realita yang ada pada how to communicate para remaja menggunakan kecanggihan alat, malah menunjukkan teknologi komunikasi yang membutuhkan para remaja agar selalu up to date, dalam hal ini sudah menuju komersialisme dan lifestyle, dimana beberapa dari mereka pun tidak mengerti cara memaksimalkan fungsi kecanggihan barang yang mereka miliki tersebut. Bisa dibilang korban teknologi informasi karena gaya hidup dan terkadang diselewengkan untuk hal-hal negatif seperti merekam video cabul. Ini berarti beberapa budaya remaja yang berkembang yakni bukan lagi remaja sebagai putra bangsa yang membutuhkan teknologi untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain sebagai suatu tuntutan dalam membangun bangsa supaya tidak selalu mengekor negara maju melainkan mereka yang gengsi dengan ketidakpunyaan barang-barang berteknologi tersebut.
Posted by anakmuda at 10:57 PM 0 comments
Bung Karno Putra Sang Fajar
Bung Karno Putra Sang Fajar
“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri...
Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.” Ir. Soekarno menuturkan kepada penulis otobiografinya, Cindy Adam.
Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno, 44 tahun kemudian, menguak fajar kemerdekaan Indonesia setelah lebih dari tiga setengah abad ditindas oleh penjajah-penjajah asing.
Soekarno hidup jauh dari orang tuanya di Blitar sejak duduk di bangku sekolah rakyat, indekos di Surabaya sampai tamat HBS (Hoogere Burger School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Jiwa nasionalismenya membara lantaran sering menguping diskusi-diskusi politik di rumah induk semangnya yang kemudian menjadi ayah mertuanya dengan menikahi Siti Oetari (1921).
Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School), Sekolah Teknik Tinggi yang kemudian hari menjadi ITB, meraih gelar insinyur, 25 Mei 1926. Semasa kuliah di Bandung, Soekarno, menemukan jodoh yang lain, menikah dengan Inggit Ganarsih (1923).
Soekarno muda, lebih akrab dipanggil Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia), 4 Juni 1927. Tujuannya, mendirikan negara Indonesia Merdeka. Akibatnya, Bung Karno ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman penjara oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia dijeboloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1949.
Di dalam pidato pembelaannya yang berjudul, Indonesia Menggugat, Bung Karno berapi-api menelanjangi kebobrokan penjajah Belanda.
Bebas tahun 1931, Bung Karno kemudian memimpin Partindo. Tahun 1933, Belanda menangkapnya kembali, dibuang ke Ende, Flores. Dari Ende, dibuang ke Bengkulu selama empat tahun. Di sanalah ia menikahi Fatwamati (1943) yang memberinya lima orang anak; Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputri.
Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926), berjudul, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno.
Tahun 1942, tentara pendudukan Belanda di Indonesia menyerah pada Jepang. Penindasan yang dilakukan tentara pendudukan selama tiga tahun jauh lebih kejam. Di balik itu, Jepang sendiri sudah mengimingi kemerdekaan bagi Indonesia.Penyerahan diri Jepang setelah dua kota utamanya, Nagasaki dan Hiroshima, dibom atom oleh tentara Sekutu, tanggal 6 Agustus 1945, membuka cakrawala baru bagi para pejuang Indonesia. Mereka, tidak perlu menunggu, tetapi merebut kemerdekaan dari Jepang.
Setelah persiapan yang cukup panjang, dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Drs Muhammad Hatta, mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jln. Proklamasi), Jakarta. ► e-ti/crs-sh
Posted by anakmuda at 10:56 PM 0 comments


