Sering kita melihat bangunan permanent. Ia mirip dengan bangku panjang, yang dibuat dari batu-batu yang disemen. Biasanya dibangun diatas saluran air atau yang sering kita sebut selokan. Mungkin bangunan itu adalah bok
Warga kampong membangun bok dengan biaya dari kas kampung. Bok berguna untuk menghindari adanya orang yang tercebur di selokan. Karena fungsi bok dibangun untuk memberi tanda adanya selokan.
Disamping itu ada juga yang menjadikan bok sebagai tanda batas wilayah, misalnya di kampung Juminahan. Dikarenakan Juminahan dibagi dua wilayah, yaitu Juminahan barat atau ledok Juminahan dan Juminahn timur. “Untuk itu dibangun bok di ujung gang masuk Juminahan barat, selain sebagai tanda adanya saluran air, juga dipakai sebagai tanda batas wilayah.” Kata Harno, warga Juminahan barat yang saya temui di sanggar watu Lunyu.
Sebenarnya fungsi bok pada dasarnya sama. Mungkin karena perkembangan jaman, di kampung sekitar jalan Sugeng Jeroni, ada yang digunakan untuk dibuat taman, didirikan warung, bahkan dibangun sebuah gardu.
Bok yang semula dibangun untuk memberi tanda adanya selokan, dijadikan tempat berkumpul warga kampong. Dari anak-anak hingga orang tua. Kata Edi, warga setempat.
Sampai aku sendiri merasa heran. Kenapa selalu saja ada orang yang nongkrong di bok. Apalagi yang di sekitarnya, ditumbuhi pohon-pohon rindang yang bisa dijadikan tempat berteduh.
Dari pagi hingga malam terus saja berganti-ganti orang seperti sudah ada jadwal untuk mereka dalam menggunakan bok. Misalnya saja, di pagi hari digunakan warga untuk ngobrol sehabis sholat shubuh. Atau di pagi untuk istirahat orang yang sehabis olahraga. Setelah hari agak siang, terkadang ada pedagang sayur, buah, dan nasi bungkus menggunakan bok untuk menjual dagangannya. Kalau di siang hari biasanya hanya ada beberapa orang. Mereka yang tidak bekerja atau pengangguran. Ada juga yang istirahat karena kecapaian bekerja. Sore hari, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu yang tengah menggosip sembari menunggu anak-anaknya bermain di sekitar bok sedangkan dimalam hari adalah jamnya anak laki-laki, karena bagi kebanyakan laki-laki bok menjadi tempat yang nyaman untuk minum-minum, ngobrol, dan melihat para wanita yang melintas jalan.
Untuk itu mereka tidak sembarangan memilih tempat nongkrong. Mereka lebih memilih bok yang berada di pinggir jalan besar. Selain ramai, suasananya menyenangkan. Seperti kata Heru, “ha…bosen nek neng njero kampong terus suasanane meng ngono-ngono wae.” ( haa.. bosan kalau di dalam kampong, suasananya Cuma gitu-gitu aja ).
Tidak jarang pula, ada yang membawa wanita-wanita, untuk diajak nongkrong. Biasanya wanita-wanita nakal atau yang sering mereka sebut wanit “gondolan”. Untuk menemani mereka minum-minuman keras.
Hari semakin larut. Suasana tambah ramai dan seru. Diisi dengan humor-humor kampung para laki-laki untuk untuk menarik perhatian wanita-wanita itu.
Terkadang, karena sudah terlalu mabuk terjadi perkelahian diantara mereka sendiri. Bahkan terjadi tawuran dengan warga kampung yang lain, ataupun antar gank. Karena bok yang mereka tempati dijadikan sebagai wilayah kekuasaan. “Untuk itu mereka sering mengklaim orang yang lewat di jalan dikatakan orang lunak, sedangkan orang yang berada di belakang bok adalah orang dalam.” Ungkap Yoyon (nama samaran ). Warga setempat.
Lain halnya dengan Haki, warga setempat yang tidak suka nongkrong di bok. Dia lebih senang berada dirumah teman atau di masjidnya. Bukannya tidak suka dengan orang-orang tersebut, tetapi lebih dikarenakan tidak suka mabok dan main judi. Yang lebih parah lagi, jadi sungkan untk lewat di bok, sehingga harus melewati jalan lain untuk menghindari lewat bok.
Tuesday, September 4, 2007
Bok
Posted by anakmuda at 7:27 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment