Judul buku : TRAGEDI SUKARNO: DARI KUDETA HINGGA KEMATIANNYA
Penulis : Reni Nuryanti
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : xiv + 182 halaman
Tragedi Sukarno bukanlah tragedi yang menimpa dirinya sendiri dan keluarganya. Tetapi juga tragedi bangsa Indonesia dan bahkan tragedi dunia ketiga. Peralihan kekuasaan tahun 1965 sampai lima tahun kemudian, telah melahirkan peristiwa mengenaskan dalam sejarah bangsa ini yakni terbunuhnya setengah juta orang dalam suasana hiruk-pikuk politik awal Orde Baru. Tampaknya dirasa tidak cukup korban sebanyak itu, maka 10 ribu orang dikirim ke kamp kerja paksa di Pulau Buru tahun 1969. dari segi percaturan politik dunia, kubu non blok yang semula diharapkan sebagai penyeimbang antara blok Barat dan blok Timur kehilangan tokohnya yang terkemuka tahun 1970 yang bahkan beberapa tahun sebelumnya sudah tersingkir dari panggung politik.
Adalah suatu tragedi bila seseorang yang menduduki jabatan presiden, yang merupakan jabatan tertinggi di suatu negara sama sekali tidak berdaya mencegah pembunuhan sesama anak bangsa dalam skala luar biasa. Ia berpidato. Masih mendingan kalau orang tertidur ketika seorang pejabat negara berbicara, tetapi sangat ironis bila pidato Presiden tidak bisa dikutip atau disiarkan media massa. Sukarno berseru, bahwa terjadi pembunuhan massal di Jawa Timur. Ia ingin pembantaian tersebut dihentikan segera. Tetapi itu tidak digubris oleh pihak keamanan yang tidak lagi di bawah kendalinya. Pers juga tidak memberitakan sepenuhnya gelombang pembunuhan tersebut.
Merupakan suatu tragedi bila perlakuan terhadap mantan Presiden lebih buruk daripada pihak kolonial. Ketika Sukarno dibuang ke Ende Flores dan Bengkulu, ia tidak dilarang berhubungan dengan masyarakat setempat. Namun setelah ia tidak lagi jadi presiden, panglima daerah militer Siliwangi, HR Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat Jawa Barat mengunjungi atau dikunjungi Sukarno. Bahkan ketika Sukarno memeriksakan gigi kepada dokter Oei, ia harus berkunjung ke rumah itu bagaikan memasuki cottage yang disewakan jam-jaman untuk masuk. Mobil tuan rumah dikeluarkan. Mobil yang membawa Sukarno masuk ke garasi, pintu ditutup dan Sukarno keluar dari kendaraan menuju ke ruang periksa gigi. Hal itu semata-mata dilakukan agar Sukarno tidak bertemu dengan rakyat.
Ironi ini sangat menusuk hati, bila dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan kepada Jenderal Besar Soeharto ketika ia sakit. Ia diperlakukan sebagai raja, kediamannya di Cendana disulap menjadi semacam rumah sakit mini dengan peralatan canggih. Ketika diperiksa di Rumah Sakit Pertamina, ia diperiksa oleh belasan dokter ahli. Para cecunguk Orde Baru pun berdatangan membesuknya tanpa ada rasa takut apalagi malu. Sedangkan Sukarno terbaring kesepian, tanpa obat paten, tanpa ada pejabat yang menjenguknya.
Ketika akan diperiksa oleh pengadilan, Soeharto menunjukkan surat keterangan sakit. Walaupun sakit, ia masih bisa bepergian ke makam istrinya atau menyaksikan pernikahan cucunya bahkan menemui tokoh regional seperti Lee Kuan Yew atau Mahathir Mohammad. Namun tidak ada alasan sakit bagi Sukarno untuk tidak diperiksa tim Kopkamtib. Dalam kondisi susah untuk tidur, duduk dan berdiri, ia masih ditanya apakah ia terlibat dalam Gerakan 30 September.
Dalam kondisi amat parah pun, penanganan terhadap Sukarno hanya dilakukan seadanya. Bahkan, yang paling telak, wartawan sama sekali tidak diizinkan untuk melihat langsung keadaan Sukarno. Maka, tidak heran, rakyat hanya menduga-duga keadaan Sukarno. Bahkan mereka hanya mampu melongokan mulut, saat mendengar berita, Sukarno meninggal dunia.
Penghormatan terakhir sebagai Presiden juga tidak diterima Sukarno. Ketika Soeharto menemui ajalnya tidak kurang dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono menjadi inspektur upacara pada pemakamannya di Solo. Ratusan wartawan meliput acara tersebut. Namun tatkala mantan presiden pertama menghembuskan nafas terakhir, Soeharto hanya melepas sampai Wisma Yaso, Jakarta. Acara pemakaman di Blitar dipimpin oleh Jenderal Panggabean.
Pada bulan Juni 1970 terjadi dua peristiwa penting. 21 Juni Sukarno wafat, tiga minggu sebelumnya tanggal 1 Juni 1970 peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang Kopkamtib. Sejarawan Perancis, Jacques Leclerc, menyatakan bahwa Sukarno telah dibunuh dua kali. Tetapi menurut Aswi Warman Adam, Sukarno telah dibunuh berkali-kali. Namun pemikirannya tidak pernah mati. Sebagai manusia ia tidak terlepas dari kekurangan, namun kecintaannya kepada bangsa ini sulit ditandingi.
Saat bangsa ini diterpa disintegrasi maka kian terasa pentingnya Pancasila yang digagas Sukarno pada 1 Juni 1945. ketika hutang membengkak, modal dan kekuatan asing semakin menyeruak ke jantung ekonomi kita, orang semakin terkenang pada Trisakti Sukarno (Bebas dalam Politik, Berdikari dalam bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Budaya).
Ketika Soeharto wafat, ribuan iklan duka cita menhiasi media cetak dan elektronik selama berhari-hari. Tetapi tatkala Sukarno meninggal, hanya lima iklan yang terpampang di seluruh Indonesia.
Itulah sepercik kisah tentang tragedi Sukarno dari kudeta sampai kematiannya. Bagaimana sesungguhnya kehidupan Sukarno pada masa akhir hidupnya dapat dibaca dalam buku ini. Buku ini layak dibaca untuk mengerti betapa ironisnya bangsa ini memperlakukan mantan Presiden pertama dengan begitu kejamnya. Selain itu, data-data dan beberapa foto ikut menghiasi halaman buku ini, sehingga kita dapat melihatnya dengan jelas peristiwa demi peristiwa pada akhir hidup Sukarno beserta pemakamannya.
Jantan Putra Bangsa

0 comments:
Post a Comment