SEORANG anak muda menelepon saya. "Ajari saya menulis, Pak! Jika saya sudah bisa, saya mau terjun ke politik. Untuk menghajar kaum politisi, yang cuma mau 'kuasa dan duit'."
Saya terpaksa merespons anak muda itu, karena betapa getolnya ia "mengganggu saya!" Puluhan SMS-nya, bertubi-tubi mendesak saya. "Ayo, Pak. Ajari saya!" Karena lama saya tidak meladeninya, ia marah. "Bapak, egois, ya! Tidak rela membagi ilmunya? Takut disaingi? Ah, bapak ini contoh orangtua kikir! Egois!".
Saya tentu sedikit panas. Bakat terpendam kepremanan saya, terusik. Tapi setelah sedikit tafakur, saya tertawa. Tiba-tiba anak muda ini, saya pandang sebagai anak saya sendiri. Bukan hanya itu, "kekurang-ajarannya", saya suka. Paman saya dulu, namanya Papa Teppo, seorang jawara (pejantan), selalu bilang sama saya, "Kurang ajarlah, supaya mertuamu suka sama kau!".
Paman saya itu, mengidentikkan setiap calon mertua dengan dirinya. Untuk menemukan calon menantu yang melamar anak gadisnya, pertama-tama ia menilai bobot kekurangajaran anak muda yang melamar. Kurang-ajar adalah tanda, anak muda itu punya kemampuan, memilih jalannya secara jantan. Untuk, dengan segala macam cara, mencari rezeki. Menghidupi istri dan anak-anaknya.
Kata-kata paman itu, sedikit banyak melekat di batin saya. Dan sedikit banyak pula, hal itulah yang membuat saya, menjadi suka anak "kurang-ajar" yang menelepon saya tadi.
Saya memang suka "anak muda" yang jiwanya hidup. Jiwa yang secara berani, membuka diri. Mencari akses buat menata hidupnya secara (katakanlah), secara "kreatif". Anak muda yang menelepon saya, pagi, siang, tengah malam, saya anggaplah begitu.
Dari SMS dan telepon langsung anak itu, saya pun menjawabnya singkat, "Paling tidak kamu minta dua hal dari saya. Pertama-tama kamu belajar menulis! Kedua, mau jadi politikus, untuk membabat para politisi hitam! Tidak semua politisi berkulit hitam, lho!"
Sebelum lanjut, saya juga diberi tahu anak muda itu, bagaimana kuliahnya "putus", karena orangtuanya tak punya lagi kemampuan. Artinya, anak ini, memang punya basis intelektualitas untuk menjadi penulis. Tapi permintaannya untuk diajari oleh saya? Wah, payah saya.
Selama 50 tahun saya terus coba-coba menulis. Yah, coba-coba kata saya, karena sampai kini, saya belum merasa sebagai penulis.
Jadi, saya cuma bisa menelepon anak muda itu. "Begini, Nak. Guru terbaik untuk menuntun kita menulis ialah MENULIS!" Kontan anak itu membalas, "Bapak jangan main teka-teki silang! Maunya populer sendiri, ya?!" Ia kini, rasanya di hati saya, bukan terkesan anak muda itu tengah berteriak, "Memang saya sejak semula berfirasat, Bapak itu menulis secara popularitas! Munafik!"
Wah, kata-kata anak itu, terasa bukan lagi "kekurang-ajaran" kreatif, tapi sudah bernada "penekanan". Dan setiap "penekanan" itu, ujung-ujungnya sebentar membesar menjadi semacam upaya untuk "penaklukan!"
Maka, segera saja saya tertawa geli, ketika ia berkata (dengan nada "perintah"): "Jika tidak bisa mengajari saya menulis, saya minta dipinjami KOMPUTER. Pasti bapak punya banyak komputer. Punya sekretaris, pembantu-pembantu! Apa susahnya minjami komputer, sebab dengan alat ini, lihatlah Pak, saya akan menulis! Saya akan jadi politikus besar! Pokoknya, pinjami saja komputer!."
Saat ia mengucapkan itu, saya (maaf) tiba-tiba ingin ke WC. "Eh, anak muda! Dari dulu sampai sekarang, alat munulis saya itu mesin manual tua dan kuno! Saya itu tidak pernah duduk di bangku kuliah seperti kamu, karena orangtua tak mampu. Saya ini mantan penjual keliling kue-kue: jalangkote, sikaporo, paraparanggi, es lilin! Bahkan, jualan dari lorong ke lorong, memikul ikan pallu-cella! Dan saya bangga! Minus komputer!".
Mengetahui apa yang saya bilang, anak muda itu, diam sediam-diamnya. Sampai berminggu-minggu. Tak pernah lagi ia menghubungi saya. Eh, ternyata tanpa komunikasi dengan anak itu, saya pelan-pelan merasa, ada yang hilang dalam diri saya. Kok, saya jadi merasa kesepian.
Saya lalu merasa terseret dalam suatu banjir bandang, yang memporak-porandakan segala yang saya cintai ini. Saya yang tadinya dihinggapi perasaan, anak muda itu mau "memeras" saya, suatu bakat hitam, yang kini jadi tren di kalangan "manusia tua" jenis saya, tahu-tahu ia membuat saya merindukannya. Anak muda itu, pelan-pelan hadir sosoknya dalam batin saya. Membayang sosok-sosok muda yang jutaan jumlahnya.
Bagaikan tikus-tikus comberan yang kebingungan mencari semacam "cahaya", jalan akses. Untuk apa yang dipesankan orang-orang tua mereka, "Menjadi ORANG dalam mengarungi kehidupan!" Kehidupan yang tak jauh-jauh "buminya". Suatu bumi yang bernama tanah air.
Saya lalu menemukan semacam "jawaban". Anak-anak muda yang tengah kebingungan itu, yang terwakili oleh anak yang satu ini, memimpikan bagaimana POLITIK disucikan! Bagaimana nafsu-nafsu hitam itu diputihkan. Bagaimana berpolitik, sembari terus-menerus menimbun lubang tanpa dasar (Bottomles Hole, menurut istilah Ekchart Tolle), dalam EGO kita. Karena dari "lubang" inilah orang-orang tertentu, misalnya para koruptor atau politisi hitam menerima dari iblis kekuatan untuk meremuk-redam eksistensi "diri" dan diri orang lain.
Di suatu malam, saya menerima telepon. Alhamdulillah, anak muda itu menelepon saya. Sepi saya, terbang. Lebih-lebih ketika dengan nada rendah, ia berkata: "Pak, saya malu kepada Bapak. Mohon maaf, Pak...!" Telepon ditutup. Dan saya membayangkan, anak muda ini, bakal lolos dari sindiran Margueret Beecher, tentang: Monkey See, Monkey Do!" Apa yang monyet lihat, itu pula yang monyet tiru!
Tidak! Anak muda itu, saya doakan. Dan insya Allah, apabila kelak ia menjadi politikus, ia akan siap menghindar dari POLITIK dengan jurus ke monyet-monyetan.
Sunday, January 25, 2009
Monkey See, Monkey Do!
Posted by anakmuda at 8:52 PM
Labels: POSTER pemilu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment